KASBI: May Day Adalah Momentum Perlawanan, Bukan Hari Perlombaan

Jakarta – Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) hanya tinggal beberapa hari lagi, sejumlah serikat buruh telah menyatakan diri akan tetap melakukan aksi massa pada tanggal 1 Mei 2017 nanti. Tak terkecuali dengan Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) yang dalam konferensi persnya kemarin (27/4/2017) menegaskan hal tersebut.

KASBI menilai bahwa May Day tidak saja memberi makna sejarah yang mengingatkan kita tentang rentetan perjuangan buruh di abad ke-19 menuntut 8 jam untuk kerja, 8 jam untuk istrahat dan 8 jam untuk bersosial. Namun May Day merupakan momentum kaum buruh untuk mengkonsolidasi seluruh kekuatan, dan bergerak bersama untuk memastikan kemenangannya merebut kesejahteraan dan kemerdekaan sejati.

Di tengah cangkaraman sistem ekonomi yang ada saat ini, Ketua Umum Konfederasi KASBI, Nining Elitos menilai bahwa rakyat dibuat semakin menderita oleh berbagai regulasi yang melanggengkan kepentingan pemilik modal. “Lahirnya Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan menjadi bukti bahwa pemerintah tidak berpihak kepada buruh,” ujarnya mencontohkan.

Nining menduga sepertinya di mata para pengelola negara, belum cukup derita kaum buruh yang dijajah melalui sistem kerja kontrak dan outsourcing, tidak memiliki kenyamanan dalam bekerja karna selalu dihantui rasa takut PHK. Saat ini derita buruh kembali dihadapkan dengan program pemagangan yang sejatinya dinilai sebagai upaya legalisasi model fleksibilisasi pasar tenagakerja.

Model pemagangan dianggap oleh KASBI akan menjadi rangsangan PHK massal oleh para pengusaha, dan menggantikan buruh yang sudah memiliki masa kerja lama dengan tenaga baru yang direkrut lewat program magang. “Dalam Peraturan Menteri Nomor 36 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri, pengusaha hanya diwajibkan memberi uang saku yang terdiri dari biaya trasnportasi, makan, dan insentif untuk peserta magang,” protesnya.

Pemerintah sendiri berdalih bahwa progam pemagangan ini merupakan upaya untuk menjawab permasalahan lulusan dunia pendidikan yang belum dapat diterima industri karena kurangnya keterampilan sehingga tidak siap memasuki pasar kerja. Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri mengatakan bahwa kebutuhan tenaga kerja terampil di Indonesia mencapai 113 juta pada 2030, sedangkan jumlah tenaga kerja terampil yang dimiliki saat ini baru 57 juta orang.

“Bila di mata rezim standarisasi Jokowi-JK ada persoalan terkait kualitas pendidikan, maka seharusnya pemerintah memberikan pendidikan gratis yang berkualitas setiap buruh dan keluarganya,” sambungnya.

Belum lagi tindakan-tindakan represif juga semakin dirasakan oleh buruh, mulai dari penangkapan 26 buruh dalam aksi menolak PP Pengupahan, kriminalisasi terhadap Burhanudin seorang pengurus serikat buruh di PT. Sumber Bahagia Metalindo karena membela hak anggotanya, Agus budiono dan Abdul hakam pengurus FSPBI KASBI Gersik Jawa Timur dipenjara karena melawan sistem kerja kontrak dan outsourching di PT Petrokimia Gersik, hingga penamparan terhadap buruh perempuan di Tangerang baru-baru ini.

Atas situasi tersebut di atas, Konfederasi KASBI menyerukan kepada seluruh kaum buruh di Indonesia untuk bersama-sama turun ke jalan di Hari Buruh Sedunia. “Pemerintah sudah tidak memberi pilihan lain bagi kita selain berjuang melawan. Mari kita berjuang untuk bersatu dan bersatu untuk berjuang dengan bersemangat dan sepenuh hati melawan penindasan, menghancurkan rantai perbudakan dan merebut kesejahteraan dan kemerdekaan sejati bagi kaum buruh dan seluruh rakyat Indonesia,” seru Nining.

Seperti pada May Day sebelumnya, pada May Day kali ini, KASBI mengusung Sepuluh Tuntutan Rakyat (SEPULTURA) yang isinya adalah:

  1. Hapus Sistem Kerja Kontrak dan Outsourcing.
  2. Tolak Politik Upah Murah ! Berlakukan Upah Layak Nasional.
  3. Tolak PHK, Union Busting dan Kriminalisasi aktivis Buruh.
  4. Laksanakan Hak-Hak Buruh Perempuan dan Lindungi Buruh Migran Indonesia.
  5. Tangkap, Adili dan Penjarakan Pengusaha Nakal.
  6. Berlakukan Jaminan Sosial untuk Buruh, Bukan Asuransi Sosial.
  7. Turunkan Harga BBM dan harga Kebutuhan Pokok.
  8. Berikan Pendidikan dan Kesehatan Gratis untuk seluruh Rakyat.
  9. Tolak Privatisasi! Bangun Industri Nasional untuk Kesejahteraan Rakyat.
  10. Tanah dan Air untuk Kesejahteraan Rakyat.
Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]