Ratusan Buruh Anggota FSBN-KASBI Gelar Aksi Pra-May Day di Tangerang

Tangerang – Buruh di wilayah Tangerang kembali menggelar aksi pra-May Day pada hari ini, 13 April 2017. Kali ini aksi dilakukan oleh sekitar 100 orang yang tergabung dalam Federasi Serikat Buruh Nusantara (FSBN), yang berafiliasi ke Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI).

Mereka memulai aksi dengan titik kumpul di sekretariat FSBN di Kota Tangerang dan di Kabupaten Tangerang, dan kemudian menyatu di Pengadilan Negeri Tangerang dan berlanjut aksi di kantor Walikota Tangerang. Selain itu, para buruh juga melakukan konvoi mengelilingi kawasan industri yang ada di sektitar Tangerang.

Aksi pra-May Day digelar dengan membagikan selebaran kepada masyarakat Tangerang, khususnya kepada buruh untuk ikut serta dalam merayakan aksi Hari Buruh Sedunia, 1 Mei 2017. Tak hanya itu, momentum pra-May Day juga dijadikan sebagai ajang advokasi berbagai kasus yang melanda buruh dan berbagai problematika yang dialami buruh Tangerang.

Salah satu yang diangkat oleh para buruh adalah kasus penamparan terhadap salah seorang buruh perempuan Tangerang, yang terjadi pada hari Minggu, 9 April 2017 lalu. Juga kasus kriminalisasi yang menimpa Burhanudin, seorang pengurus Serikat Buruh Nusantara di PT. Sumber Bahagia Metalindo yang dikriminalisasi oleh perusahaan karena membela hak anggotanya pada tahun 2016 lalu.

Advokasi Kasus
Pada kesempatan tersebut, FSBN-KASBI juga memberikan perhatian terhadap tindakan PT Klip Plastik yang melakukan pemberangusan serikat buruh pada tahun lalu. Ratusan pengiris dan anggota serikat buruh di PHK karena menolak penerapan sistem outsourcing. Tindakan tersebut dianggap merampas hak azasi buruh untuk berkumpul dan berserikat, tetapi juga telah melakukan pemiskinan secara sistematis dan terstruktur bagi ratusan buruh dan anggota keluarganya.

Trik dari PT Klip Plastik untuk memanfaatkan upaya hukum dengan mengajukan gugatan PMH terhadap buruhnya di Pengadilan Negeri Tangerang tidak lebih dari upaya untuk menghindari putusan Pengadilan Hubungan Industrial Pada Pengadilan Negeri Serang yang memutuskan bahwa PHK yang dilakukan PT Klip Plastil batal demi hukum.

Demikian juga dengan kasus yang menimpa buruh di PT Warna Prima Utama, di mana dua orang pengurus FSBN-KASBI di perusahaan tersebut di-PHK dengan alasan efisiensi. Hal ini tentu mendapatkan penolakan dari Madi ketua pengurus Serikat Buruh Nusantara (SBN PT WPK), karena mereka menilai perusahaan tidak berhak mengeluarkan pekerjanya tanpa adanya pemberitahuan dan kesepakatan.

Menurut Carly Yuanly salah satu Divisi Hukum dan Advokasi FSBN yang mendampingi anggota buruh. Ia menceritakan bahwa ”Dalam perundingan antara buruh dengan perusahaan, pihak perusahaan sempat menawarkan pesangon agar kedua anggota serikat SBN PT WSK bisa keluar. Tidak hanya itu perusahaan juga menjanjikan akan memberikan dua kali PMTK. Tapi buruh tetap menolaknya karena tidak adanya kesalahan yang dilakukan oleh mereka,” ujar Carly Yuani.

Sedangkan menurut Madi PHK yang dilakukan Perusahaan tidak pernah ada pemberitahuan terhadap dirinya. “Ini adalah bentuk penindasan. Dengan adanya kasus PHK ini malah mendapat solidaritas dari seluruh anggota SBN yang berada di PT WSK. Salah satunya dengan memakai pita warna hitam. Itu merupakan bentuk solidaritas terhadap kedua rekan saya yang di PHK sepihak oleh perusahaan,” sahut Madi. (jum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]