Agustus 2017, Pekerja Media dan Industri Kreatif Gelar Kongres Pembentukan Serikat Pekerja

Jakarta – Puluhan pekerja dari sektor industri media dan industri kreatif, pada tanggal 8-9 April 2017 lalu telah melakukan konferensi Komite Persiapan – Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (KP-SINDIKASI). Konferensi tersebut digagas sebagai bagian dari proses pembentukan serikat pekerja secara resmi, di mana ditargetkan akan dilangsungkan Kongres pembentukan serikat pekerja pada Agustus 2017.

Selama dua hari berlangsungnya konferensi, para pekerja media dan industri kreatif melihat bahwa pemerintah saat ini begitu gencar mendorong tumbuh dan berkembangnya kedua industri, seiring dengan perkembangan tekhnologi dan badai digital saat ini. Namun demikian, pemerintah terlihat hanya berfokus pada pengembangan industri dan melupakan bagaimana nasib pekerja di kedua sektor tersebut.

Pada industi media, SINDIKASI melihat bahwa pada saat ini media di Indonesia telah dikuasai oleh 13 konglomerat yang kebanyakan memiliki kepentingan politik. Hal ini dianggap akan mempengaruhi independensi media dalam menyampaikan informasi kepada publik, serta menghambat kebebasan berekspresi karena latar belakang pemilik media yang memiliki tendensi politik tertentu.

Kesejahteraan pekerja media dinilai juga masih jauh dan luput dari perhatian pemerintah dan para pemilik media. “Media-media besar dengan modal yang kuat, tidak serta merta berbanding lurus dengan kesejahteraan para pekerja media. Terlebih lagi para kontibutor di daerah yang honor dari setiap berita yang dimuat juga sangat kecil nilainya. Bahkan ada kontributor yang hanya diberikan honor 25 ribu per berita yang naik di redaksi,” ujar Guruh, anggota SINDIKASI yang bekerja di kantor berita China, Xin Hua.

Selain soal upah, pekerja media juga masih banyak yang tidak memiliki kontrak kerja, perlindungan ketenagakerjaan (jaminan sosial), atau juga jam kerja yang berlebih. “Kami berharap pemerintah dan Dewan Pers memperhatikan dengan serius persolan ketenagakerjaan yang dihadapi oleh para pekerja media,” sambungnya.

Sementara itu, di sektor industri kreatif, pemerintah melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terus menggenjot investasi untuk tumbuhnya industri tersebut. Namun demikian, Bekraf sebagai leading sector dari industri kreatif, lebih banyak memperhatikan persoalan pengembangan usaha, dan luput dalam melihat berbagai persoalan yang diahadapi oleh para pekerja di industri tersebut.

Ellena Ekarahendy, seorang desainer grafis mengungkapkan bahwa upah para pekerja di industri ini tidak lebih baik dari pekerja di sektor lain. Sementara kewajiban menyelesaikan pekerjaan karena deadline, kadang kala telah membuat para pekerja harus bekerja melebihi jam kerja.

Ellena Ekarahendy (tengah), Koordinator KP-SINDIKASI.

Data Bekraf tahun 2015 mencatat dari 100 orang pekerja, 14 di antaranya bekerja di industri kreatif, dengan total jumlah pekerja di sektor ini mencapai 15,96 juta orang. Mereka bekerja di sub sektor industri kreatif seperti seni rupa terapan, kuliner, fashion, desainer, film, musik, aplikasi dan game, periklanan, seni pertunjukan, dan lain sebagainya.

Ellena yang terpilih sebagai Koordinator KP-SINDIKASI dalam konferensi menekankan bahwa pemerintah selama ini keliru mengartikan dukungannya pada industri kreatif karena hanya mendukung pengembangan usaha dan penanaman modal saja. “Pengembangan industri kreatif harus juga memikirkan persoalan kesejahteraan dan perlindungan bagi tenag kerjanya, bukan hanya usahanya saja. Perlu ada kesinambungan satu sama lain,” tuturnya.

Sementara itu, terkait sudah begitu banyaknya organisasi atau asosiasi profesi di kedua industri tersebut, Ellena menilai keberadaan asosiasi tidaklah cukup, mengingat asosiasi profesi lebih banyak bicara tentang etika profesi ataupun tentang profesionalisme dalam bekerja.

Keberadaan SINDIKASI nantinya dimaksudkan untuk mengisi ruang kosong yang ada antara industri (pemberi kerja) dan pekerja (pemberi kerja) yang selama ini jarang dibahas oleh asosiasi profesi yang ada. “Ruang kosong yang hendak kita ambil menekankan pada aspek hubungan kerja antara industri dan pekerja, dengan menekankan pada dorongan agar industri bisa mensejahterakan dan melindungi pekerja media dan pekerja kreatif,” sambungnya.

Selain itu, SINDIKASI juga akan mendorong program pendidikan dan pengetahuan kepada para pekerja media dan industri kreatif tentang hak-hak pekerja yang sesuai dengan aturan ketenagakerjaan. “Selain mendorong di level pemerintah dan industri untuk memperhatikan pekerja, kita juga akan memberikan pengetahuan kepada para pekerja untuk mengetahui hak-haknya, dengan harapan pekerja dapat menyadari dan memperjuangkan haknya,” pungkas Ellena. (gum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]