Pra-May Day, SERBUK Indonesia Kampanyekan 8 Jam Kerja

Karawang — Menyambut Hari Buruh Internasion atau yang biasa disebut May Day, Serbuk Indonesia gelar aksi pemanasan di bunderan Mega-M Karawang, Jawa Barat. Sebanyak 50 orang terlibat aksi dengan membentangkan spanduk tentang 8 jam kerja dan membagikan selebaran kepada masyarakat yang melewati jalan.

SERBUK Indonesia menegaskan tentang pentingnya 8 jam kerja demi kesejahteraan buruh. Pasalnya selama ini di banyak perusahaan masih mempekerjakan buruhnya lebih dari 8 jam kerja. “Buruh yang sekarang bekerja, merasakan beban ganda akibat panjangnya jam kerja,” ujar Zaenal Arifin, salah seorang buruh yang bekerja di PT Bukit Muria Jaya.

Menurut Zaenal, salah satu faktor yang menyebabkan buruh harus bekerja dengan jam panjang adalah rendahnya upah. Dengan upah yang rendah, buruh harus bekerja lebih keras lagi. Salah satu caranya dengan lembur. “Hanya dengan lembur buruh punya penghasilan sedikit lebih besar,” sambungnya.

Kelebihan upah dari lembur, digunakan buruh untuk memenuhi kebutuhan lainnya seperti membayar kontrakan, cicilan motor dan lain sebagainya.

Lebih lanjut, Zaenal menyatakan bahwa jam kerja panjang, upah murah dan kondisi buruh yang kelelahan dalam kerja merupakan lingkaran setan yang merugikan buruh. “Saya meyakini, para majikan di pabrik memang merencanakan jam kerja panjang. Ini bukan saja untuk memeras buruh sehingga kehabisan tenaga, tetapi juga menjadikan mereka sebagai robot,” lanjut Zaenal.

Sementara itu, korlap aksi Ujang Rahmat mengingatkan bahwa May Day adalah hasil perjuangan yang juga menjadi cikal bakal lahirnya kebijakan 8 jam kerja yang saat ini dirasakan bersama. Namun jam kerja yang berlebih dan sering memaksa buruh melampaui kemampuannya tersebut nyata terjadi hari ini dan menyengsarakan buruh.

Selain menuntut 8 jam kerja demi kesejahteraan buruh dan keluarga, dalam aksi tersebut SERBUK Indonesia juga menolak dengan tegas Peraturan Pemerintah Nomor 78 tentang Pengupahan. Aturan itu tidak hanya merampas upah atau melemahkan dewan pengupahan, tetapi juga melemahkan serikat buruh secara sistematik.

SERBUK Indonesia menyampaikan bila dikaitkan dengan PP 78/2015 tentu sangat relevan isu 8 jam kerja, sebab PP ini mengebiri upah buruh sehingga dalam keterpaksaannya buruh bekerja dengan jam yang lebih panjang untuk bisa memenuhi kebutuhannya.

Aksi menjelang mayday yang dilakukan SERBUK Indonesia ini juga kembali menegaskan tentang pentingnya buruh untuk berserikat. Karena untuk memiliki kekuatan, buruh harus menjadikan serikat sebagai wadah utama perjuangannya. Aksi ini ditutup dengan menyanyikan lagu Internasionale sebagai semangat buruh untuk bersatu dan berlawan. (khi)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]