Buruh Ancam Semen Kaki Jika PT Semen Indonesia Beton Tak Penuhi Tuntutan

Jakarta — Seratusan orang buruh yang bekerja di PT Semen Indonesia Beton hari ini melakukan aksi di depan kantor Kementerian BUMN. Aksi ini, mereka lakukan karena Pimpinan Perusahaan PT Semen Indonesia Beton (PT. SGG Prima Beton), telah melakukan pelanggaran hak normatif.

Sebelumnya buruh yang berafiliasi dengan KASBI ini memulai aksinya di depan Head Office PT Semen Indonesia Kuningan Jakarta Selatan (30/3/17). Adapun pelanggaran hak normatif digugat oleh buruh, lantaran dianggap tidak memenuhi aturan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yang di antaranya asalah jam kerja dan uang lembur.

Selain itu perusahaan juga tidak memberikan cuti tahunan dan melakukan PHK sepihak terhadap 186 pekerja yang menolak outsorcing. Padahal dari pekerja sendiri sudah melakukan empat kali perundingan dengan PT Yasinda, namun tidak ada kesepakatan karena buruh menolak menandatangani kontrak baru lantaran menginginkan menjadi pekerja tetap dan juga hubungan kerja langsung dengan PT SGG.

Pimpinan perusahaan bukannya merespon positif tuntutan dari pekerja malah melakukan PHK sepihak terhadap 186 orang pekerja. Padahal mereka sudah bekerja selama lima tahun di PT SGG Semen Indonesia.

Maka dalam aksi kali ini buruh PT Semen SGG menuntut kepada PT Semen Indonesia Beton agar mengangkat seluruh pekerja menjadi karyawan tetap. Tidak hanya itu, perusahaan juga harus memberlakuan jam kerja sesuai dengan perundang-undangan, dan berlakukan cuti tahunan, serta mempekerjakan kembali buruh yang di PHK secara sepihak oleh perusahaan.

Musrianto dari Pengurus Pusat KASBI, Kementerian BUMN dapat segera merespon berbagai tuntutan buruh. “kami berharap berkas yang sudah lama disampaikan oleh anggota serikat dapat direspon. Jika tidak ada tindakan dan tanggapan dari Kementerian BUMN, kita juga bukan tidak mungkin akan melakukan aksi yang sama seperti Ibu-ibu Kendeng menyemen kedua kaki di depan Istana,” ujarnya.

Selain itu, perusahaan PT Semen Indonesia Beton dinilai kerap kali menimbulkan konflik, seperti yang terjadi baru-baru ini dengan Petani Kendeng. “Setiap hari buruh-buruh mengoprasikan mobil-mobil molen tapi pekerjanya tidak diperhatikan karena bekeja selama 12 jam dan upah lemburnya tidak dibayar,” lanjut Musri.

Rencananya jika tuntutan ini tetap tidak direspon Konfederasi KASBI sendiri akan melakukan aksi lanjutan dalam waktu dekat dengan jumlah yang lebih besar untuk memperjuangkan tuntutan anggotanya. (jum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]