Sekjend KASBI Tanggapi Pernyataan Bupati Tangerang Terkait Demo May Day

Tangerang – Pernyataan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar perihal gelaran peringatan hari buruh internasional atau May Day yang berharap tidak terjadi kericuhan (yang bersangkutan menyebutnya anarkis), ditanggapi oleh kalangan serikat buruh. Sekjend Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia, Sunarno, menilai bahwa pernyataan bupati tersebut berlebihan.

Ia menilai bahwa Bupati Tangerang tersebut seperti layaknya orang baru di pemerintahan. Padahal sudah lazimnya setiap tahun perayaan May Day selalu digelar oleh kalangan buruh dengan melakukan aksi dan menyapaikan berbagai tuntutan persoalan perburuhan dengan cara-cara yang elegan dan damai.

Sebelumnya, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar mengutarakan pernyataan tersebut seperti dikutip dari antaranews.com. Ia menuturkan bahwa penyampaian aspirasi oleh buruh dapat dilakukan dengan cara yang baik dan benar, serta tidak mengganggu kegiatan orang lain. “Bila buruh menutup jalan, maka kegiatan sosial dan kemanusian akan terganggu, seperti bila ada orang sakit atau melahirkan akan sulit melintas,” ujarnya.

[baca: http://kabarburuh.com/2017/03/26/bupati-tangerang-berharap-may-day-2017-tidak-berlangsung-ricuh/]

Sunarno menganggap sejauh sistem perburuhan Indonesia masih carut marut, dan kaum buruh masih hidup di bawah kemiskinan, maka kami Konfederasi KASBI akan memperingati May Day dengan aksi turun ke jalan untuk memperjuangkan hak-hak kaum buruh. “Kami akan melakukan aksi turun kejalan dengan cara cara elegan, terorganisir dan damai,” jawabnya.

Namun demikian jika aksi aksi damai kami justru dihalang-halangi, dibatasi, dikekang, bahkan dianggap membuat kekacauan atau mengganggu ketertiban dan keamanan negara, maka kami justru akan melakukan perlawanan dengan sekuat tenaga.

Sementara itu, upaya-upaya yang dilakukan oleh pengusaha dan pemerintah untuk sekadar melakukan peringatan May Day dengan acara seremonial, dinilai Sunarno tidaklah tepat. Hal ini mengingat kondisi perburuhan di indonesia saat ini yang dirasa masih jauh dari sejahtera. Sehingga aksi pada May Day dengan menyampaikan tuntutan, adalah pilihan yang akan diambil oleh buruh.

“Persoalan upah yang murah, jam kerja yang panjang untuk mengejar upah lembur agar memenuhi kebutuhan hidup, jaminan sosial, kepastian kerja yang tak jelas akibat sistem kerja kontrak dan outsourcing, adalah persoalan perburuhan sekarang yang akan terus kami suarakan, termasuk dalam aksi May Day mendatang,” ujarnya.

Sunarno mengambil semangat lahirnya May Day yang telah diakui oleh International Labour Organization (ILO), yang merupakan badan resmi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). “Konsep delapan jam untuk bekerja, delapan jam untuk interaksi sosial dan keluarga. Delapan jam untuk istirahat tidur, adalah hasil perjuangan buruh. Meskipun perjuanganya yang berdarah darah, banyak korban jiwa dari kaum buruh pada masa itu, namun akhirnya perjuangan itu telah berhasil,” ujarnya.

Semangat itulah yang kemudian diekspresikan ole buruh untuk tetap melakukan aksi dengan cara-cara yang elegan dan damai, karena sampai hari ini perbaikan kondisi buruh masih berjalan dengan lambat. “May Day harus menjadi spirit gerakan buruh di seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk terus memperjuangkan nasib kaum buruh agar sejahtera, adil dan bermartabat,” pungkasnya. (gum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]