Untuk Membenahi Sistem Kerja dan Menghindari Konflik, Sopir Harus Berserikat

Beberapa waktu belakangan ini, kita melihat berbagai kabar duka yang muncul di kalangan masyarakat bawah. Mulai dari perjuangan petani pegunungan Kendeng yang mengecor kakinya, hingga Ibu Patmi meninggalkan kita. Anah Buah Kapal yang terdampar di Trinidad karena tak mendapatkan perlindungan, cerita pilu tentang penculikan anak, sampai dengan peristiwa bentrokan antara sopir angkutan dengan ojek online yang meluas di berbagai daerah.

Kasus terakhir bukanlah peristiwa baru, deretan bentrokan antara mereka sebelumnya juga pernah terjadi, termasuk bentrokan besar di Jakarta pada tahun lalu. Tentu kita tak ingin hal ini terus berlangsung dan terjadi antar saudara yang sama-sama sedang mencari nafkah, sama-sama bekerja untuk kebutuhan hidup.

Sebagai seorang pengurus serikat buruh yang bergerak di sektor transportasi, penting bagi saya kiranya untuk angkat bicara perihal bentrokan tersebut.

Pertama, dari sisi konsumen, orang tentu akan mencari hal baru yang lebih efektif dan efisien, termasuk dalam hal memilih moda transportasi yang akan digunakan. Mengingat kebutuhan hidup yang tinggi dan pendapatan rakyat yang rendah, maka orang-orang akan mencari moda transportasi yang dianggapnya lebih murah dan lebih baik.

Pengalaman saya ketika menjadi sopir angkutan beberapa tahun silam, menunjukan satu posisi di mana sopir angkutan bukanlah pekerjaan yang mudah dan kerap terabaikan nasibnya di mata pengusaha angkutan. Mereka (pengusaha angkutan) hanya memikirkan setoran dari sopir dan mobil kembali dalam keadaan baik.

Uang setoran yang diberikan oleh sopir, kemudian akan dipergunakan oleh pengusaha untuk membayar cicilan pembelian mobil. Sementara kelebihan dari pendapatan uang setoran menjadi keuntungan bagi pengusaha angkutan, atau kemudian diakumlasikan kembali dengan menambah armada angkutan.

Sementara bagi sopir yang harus hidup mencari uang di jalanan, mereka harus berjuang keras tanpa ada perlindungan dari berbagai pihak. Mengejar setoran, membeli bensin, membayar calo (timer/upeti), yang tak ubahnya adalah satu bentuk pemerasan.

Mungkin anda sebagai pengguna transportasi pernah mengalami bagaimana menggunakan angkutan yang memakai sistim setoran. Terkadang berjalan begitu pelan, kadang ugal-ugalan, ngetem atau berhenti sembarangan.

Sistem kerja yang tidak jelas, begitu juga dengan hubungan kerja (pengusaha angkutan dan sopir) yang tak jelas, mnejadikan sopir sebagai korban. Sebut saja ketika terjadi kecelakaan angkutan, maka hal itu akan dibebankan kepada sopir. Kesalahan di jalan raya yang mengakibatkan sopir ditilang maupun “damai”, juga akan dibebankan kepada sopir.

Termasuk juga jika terjadi kecelakaan di jalanan, sopir sering menjadi korban amuk masa. Apalagi jika kecelakaan tersebut mengakibatkan korban jiwa bagi pihak lain, maka sopir akan dipersalahkan (human error), yang harus ditanggung sendiri akibatnya. Harta benda habis, bahkan juga masuk penjara.

Saya pernah menyopir bis Kopaja, Metro Mini, dan juga pernah membawa bis kota besar walau hanya sebentar. Dari pengalaman itu, sistem dan hubungan kerja yang berbasiskan setoran telah membentuk karakter manusia (sopir) dipaksa bersaing, dipaksa tidak perduli.

Pengalaman membawa truk pasir dengan jalanan rusak muatan berat, antrian yang memakan waktu lama, berjalan pelan ketika ada muatan, ketika tak ada muatan ugal-ugalan di jalan raya untuk mengejar antrian mengangkut barang. Semua karena sistem kerja dan hubungan kerja antara pengusaha dan sopir yang sangat merugikan pihak pekerja (sopir).

Pernah pula bekerja sebagai sopir kontainer dengan berbekal uang jalan dari pengusaha, sopir akan sangat bergantung pada barang angkutan atau order. Ada order ada yang bagus, ada juga yang tidak bagus. Ketika mobil rusak dan haru segera diperbaiki, kita harus keluar uang sendiri untuk segera diperbaiki, dengan memberikan uang rokok.

Mau mendapat order yang baik harus ngejilat atau cari muka pada saat pembagian order. Di jalanan macet adalah kepastian, harus siap pula kita jika ada preman jalanan, bersiap menghadapi pemalakan. Di tikungan, belokan harus ngasih recehan ke “Pak Ogah”. Masuk daerah tertentu kawalan harus bayar uang kawalan, dipaksa membeli air mineral di jalanan, dan ketika masuk ke depo pelabuhan dan pergudangan, harus membayar pungli. Semua dengan uang jalan yang dimiliki sopir.

Sementara mereka para pengusaha, hanya tinggal duduk menunggu pembayaran uang setoran dari para sopir yang berjibaku di jalanan. Kondisi kerja yang tak jelas, tak ada jaminan kecelakaan kerja, tak ada uang lembur (bekerja lebih dari 8 jam sehari), tak ada upah bulanan, THR tergantung kebijakan perusahaan, PHK tanpa pesangon, dan lain sebagainya. Itu semua adalah kondisi riil yang pernah saya alami sendiri selama bertahun-tahun.

Saya sendiri belum pernah menjadi sopir mobil maupun ojek online yang hari ini menggejala dan marak. Namun saya pernah menggunakan jasa ini karena bagi saya moda transportasi ini memang lebih efektif dan efisien.

Banyak rekan saya yang kehilangan pekerjaan lalu menjadi sopir ojek online, atau juga sekadar untuk tambahan biaya hidup, merekamendaftar sebagai sopir mobil dan motor online. Beberapa kali juga saya mengalami ketika mengunakan ojek pangkalan, seringkali harus negosiasi soal harga dan karena alasan antrian ojek tersebut memasang tarif yang mahal.

Situasi riil dirasakan oleh mayoritas orang yang beraktivitas menggunakan transportasi. Kemacetan, kesemrawutan jalanan, stres, banyak terjadi kecelakaan, dll, Apalagi ketika memasuki jam kerja, kita sudah dapat membayangkan akan menemui kemacetan jalanan. Terlebih ketika kita ada hal penting menuju satu tempat.

Situasi saat ini di dunia transportasi Indonesia bisa dikatakan sangatlah buruk, para sopir dibiarkan bersaing di jalanan yang membuat watak individualisnya muncul untuk kepentingan mendapatkan uang. Negara benar-benar membiarkan sektor vital ini amburadul, dan sektor transportasi berbasiskan pada keuntungan bukan pada kemanusiaan.

Wajar kiranya dan masuk akal ketika banyak orang bekerja di sektor transportasi online, mengingat lapangan pekerjaan dan kebutuhan dengan pemasukan masyarakat tidak seimbang. Sementara bagi konsumen (penumpang), pilihan menggunakan tranportasi angkutan penumpang reguler yang tidak nyaman dan aman, membuat mereka beralih menggunakan busway, kereta api, atau transportasi berbasis onlie.

Memang tak sepenuhnya bahwa moda transportasi berbasis online itu sistem kerja dan hubungan kerjanya lebih baik dari sistem transportasi konvensional. Namun suka atau tidak suka, sistem transportasi ini jauh lebih disukai oleh konsumen karena efektif dan lebih efisien.

Berbagai masalah antara sopir online dengan pengusaha juga kerap muncul yang mendorong para sopir melakukan aksi protes atas kebijakan perusahaan. Namun dalam pengalaman saya ketika masih bekerja sebagai sopir dan ketika kini telah menjadi pengurus di Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI), ada satu titik penting yang berbeda.

Titik penting itu adalah ketika para sopir berserikat. Dengan berserikat, berbagai masalah yang muncul dalam sistem dan hubungan kerja sopir dan pengusaha yang dapat dikatakan tidak jelas, perlahan akan dapat terselesaikan karena diperjuangkan oleh organisasi. Lawan utama dari sopir bukanlah sopir lain yang notabenya adalah sesama pekerja dan sama-sama mencari nafkah. Namun lawan utama dari sopir adalah pengusaha yang serakah dan tidak memikirkan masalah yang dirasakan oleh sopir di jalanan, dan diam bersembunyi ketika terjadi konflik antar sopir.

Dalam tulisan ini, saya ingin lebih menekankan kepada pekerja tranportasi (sopir), untuk menjaga diri dan menghindari bentrokan antara sesama pekerja di sektor transportasi. Menghimbau juga kepada seluruh pekerja transportasi untuk saling menahan diri tidak terprovokasi dan mendorong untuk membuat organisasi, menyatukan kekuatan, dan mendiskusiakan gagasan transportasi sejahtera nyaman bagi pekerja dan nyaman untuk penumpang maupun barang.

Adanya satu wadah bersama antar sopir, pekerja transportasi akan memungkinkan komunikasi yang baik dan menghindari bentrokan horizontal. Karena sejatinya, persoalan persaingan di jalanan untuk mendapatkan konsumen, mendapatkan uang, merupakan imbas dari satu sistem transportasi yang tak jelas dan keberadaan sopir yang tak memiliki posisi di hadapan pengusaha atau pemerintah dalam mengatur tata kelola transportasi.

Sopir merupakan posisi yang sangat penting dalam sistem transportasi, namun saat ini posisi sopir masih dianggap tak terlalu penting dalam upaya merumuskan sistem transportasi di Indonesia. Seharusnya sopir menjadi bagian dari pihak yang harus duduk bersama dengan pengusaha dan pemerintah untuk merumuskan sistem transportasi yang adil, dengan pemenuhan hak-hak sopir (pekerja) sesuai dengan aturan yang ada, juga yang aman dan nyaman bagi konsumen.

Kehadiran serikat pekerja di kalangan sopir adalah hal mendasar yang harus ada dan hadir. Mempengaruhi dan memberikan masukan atas kebijakan yang akan dibuat oleh pemerintah. Karena sejatinya yang mengetahui bagaimana kondisi jalanan adalah sopir.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Abdul Rosid

Abdul Rosid

Departeme Pengembangan Organisasi, Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI).