Giliran Reporter Kabar Buruh Ikut Solidaritas Cor Semen

Jakarta — Aksi cor kaki dengan semen masih berlanjut di seberang Istana Negara hari ini. Sekitar 20 orang perwakilan dari berbagai organisasi kali ini mengecor kakinya sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan petani pegunungan Kendeng.

Salah satu yang ikut serta dalam aksi cor kaki dengan semen adalah Moh Jumri, reporter Kabar Buruh yang juga aktif di Barisan Pemuda Adat Nusantara. Ia mengaku tergugah hatinya untuk bersolidaritas kepada petani yang terancam kehidupannya akibat pembangunan pabrik semen.

“Ini adalah bentuk penolakan saya terhadap pabrik semen. Perjuangan yang dilakukan petani Kendeng adalah perjuangan mempertaruhkan kehidupan. Selain itu ekspolitasi yang dilakukan perusahaan tentu akan menimbulkan dampak negatif terhadap penghidupan di sana,” ujarnya.

Jumri yang juga kerap membantu aksi-aksi petani Kendeng selama di Jakarta mengatakan bahwa momentun ini dapat menjadi refleksi bagi gerakan rakyat untuk bersatu dan bergandeng tangan untuk dapat saling mendukung setiap perjuangan hak rakyat.

Kepergian Ibu Patmi menurutnya telah membuktikan wajah buruk dari pemerintahan Indonesia. Di mana para petani Kendeng yang menuntut keadilan, tapi presiden tak mau menemui petani. “Tentunya kita tidak bisa lagi berdiam diri dan mengharapkan kehadiran pemerintah, kita butuh kekuatan rakyat untuk merebut keadilan itu,” sambungnya.

Lebih jauh ia menilai kehadiran pabrik semen hanya memberikan keuntungan bagi para investor karena masyarakat yang berada di sekitar lokasi itu menjadi korban dari pembangunan yang mengancam sumber air dan sumber kehidupanlainnya.

Kabar Buruh sebagai media alternatif yang memiliki perspektif berbeda dengan media arus utama, menjadi alasan lain baginya untuk hadir bersolidaritas. “Menurut saya, Kabar Buruh harus selalu hadir dalam setiap perjuangan rakyat,” kata Jumri.

Pembangunan pabrik semen yang katanya akan meningkatan kesejahteran dan terbukanya lapangan pekerjaan, juga menyisakan hal yang ironis. Mengingat para pekerja di sana juga mungkin saja diupah rendah dan berstatus kerja kontrak.

“Percuma ada kesempatan kerja jika mereka tak memiliki kepastian kerja. Kesejahteraan hanya menjadi omong kosong. Sementara di sisi lain, orang-orang juga kehilangan pekerjaan karena sawahnya hancur akibat pembangunan pabrik semen, ” pungkasnya.

Dalam aksi tersebut juga diharidi oleh Sukinah, salah seorang warga pegunungan Kendeng yang selama delapan hari mengecor kakinya di seberang Istana tanpa respon dari Presiden Jokowi.

Pada kesempatan itu, ia mengucapkan terima kasihnya atas dukungan dari rekan-rekan di Jakarta. Ia juga menyalami satu per satu massa aksi yang hari ini rela mengecor kakinya untuk bersolidaritas terhadap perjuangan petani Kendeng.

“Terima kasih atas dukungan dulur-dukur di Jakarta. Perjuangan dulur-dulur Kendeng tidak menyangka jika dulur-dulur di Jakarta mau merasakan di pasung semen. Ini kita lakukan bersama untuk kelestarian, bukan hanya kelestarian Jawa tapi juga kelestarian Indonesia, dan warisan untuk anak cucu,” tutur Sukinah. (phe)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]