Sekjend KASBI: Petani Harus Diselamatkan dan Lahan Pertanian Harus Dilestarikan

Jakarta – Setelah kepergian salah seorang petani dari pegunungan Kendeng, Ibu Patmi kemarin (22/3/2017), tak menyurutkan aksi dari para petani dan elemen masyarakat lain untuk menolak pembangunan pabrik semen di Kabupaten Rembang. Hari ini, sejumlah tokoh justru melakukan aksi mengecor kakinya sebagai bentuk protes dan solidaritas terhadap perjuangan petani Kendeng.

Seratusan orang berkumpul di Istana Negara siang tadi, 10 orang diantaranya mengecor kakinya untuk melanjutkan dan menghormati perjuangan Ibu Patmi. Mereka di antaranya adalah Direktur LBH Jakarta, Algif, dan juga Direktur KontraS, Yati.

Sementara itu, puluhan buruh dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) juga nampak dalam aksi siang tadi. Mereka hadir sesuai dengan arahan dari organisasi untuk ikut serta memberikan solidaritas dan dukungan kepada para petani pegunungan Kendeng, di mana satu hari sebelumnya, Sekjend KASBI, Sunarno telah memberikan instruksi untuk ikut serta dalam aksi pada hari ini.

Kepada Kabar Buruh, Sunarno mengatakan bahwa KASBI terlibat mendukung aksi petani Kendeng lantaran perjuanganya menolak pendirian pabrik semen sudah terbukti menyalahi/melanggar aturan. “Kami menyadari zaman semakin maju, perindustrian, pembangunan dan tata kelola negara adalah keniscayaan. Namun seharusnya semua itu mengabdi pada kepentingan kesejahteraan rakyat secara adil, bukan hanya untuk pemilik modal atau korporasi,” ujar Sunarno.

Pabrik semen yang ada di pegunungan Kendeng, jika dilanjutkan jelas akan merusak ekologi dan kebudayaan masyarakat di sekitar pegunungan Kendeng yang mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidupnya dari pertanian.

Sunarno mengkritisi pemerintah pusat dan daerah yang semestinya melihat dengan jeli terkait permasalahan ini. “Sebab sudah sejak dari awal rencana dibangunya pabrik semen di Kendeng, sudah ditolak oleh para petani dan pemerhati lingkungan hidup. Seharusnya pemerintah merespon dengan cepat dan mengurungkan pembangunan pabrik semen di pegunungan Kendeng,” sambungnya.

Dalam kesempatan itu, Sunarno turut pula menyampaikan belasungkawa dan duka atas gugurnya Ibu Patmi dalam memperjuangkan kelestarian pegunungan Kendeng. “Dengan adanya korban jiwa dari petani Kendeng yang sedang berjuang ini sangatlah memprihatinkan. Gugurnya Mbok Patmi tak akan menyurutkan langkah perjuangan kaumnya, tapi justru akan menjadi martir bagi perjuangan masyarakat kecil lainya yang hak-haknya di rampas oleh keserakahan pemilik modal,” pungkas Sunarno.

Ia berharap Presiden Jokowi dapat segera bersuara dan membuat kebijakan yang menyelesaikan masalah ini dan berpihak pada rakyat kecil. Menutnya, petani harus diselamatkan, dan lahan pertanian harus dilestarikan, agar generasi kedepan mendapatkan warisan kebajikan. (jum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]