Komite Perjuangan Rakyat Nyatakan Duka Atas Meninggalnya Petani Kendeng

Jakarta — Komite Perjuangan Rakyat (KPR), yang terdiri dari Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Serikat Pekerja Kereta Api Jabotabek (SPKAJ), dan Komite Persiapan Organisasi Pemuda (KPOP), menyatakan solidaritasnya atas perjuangan para petani dari pegunungan Kendeng melawan pembangunan pabrik semen.

Mereka menilai bahwa perjuangan petani Kendeng tersebut tidak hanya berbicara mengenai penolakan berdirinya pabrik semen, namun juga perjuangan mempertaruhkan kehidupan, masa depan bahkan peradaban masyarakat Kendeng.

Eksploitasi pegunungan Karst yang dilakukan PT Semen Indonesia akan menimbulkan dampak negatif terhadap penghidupan rakyat. Mulai dari berkurangnya sumber air untuk masyarakat, rusaknya persawahan, dan juga mengganggu system ekologis di daerah tersebut.

Sejak Senin, 13 Maret 2017 warga Kendeng ke Jakarta untuk melakukan aksi protes di depan Istana Negara terhadap pemerintah pusat dengan melakukan memasung kakinya. Aksi pengecoran kaki lebih dari 50 orang dengan semen ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan setelah aksi yang pertama kali mendapatkan janji manis dari pemerintah Jokowi yang hendak membatalkan pembangunan pabrik semen.

Penolakan pendirian pabrik semen ini diperkuat dengan putusan Mahkamah Agung yang membatalkan izin lingkungan. Namun seperti yang kita tahu bahwa korporasi PT Semen Indonesia dengan segala cara bersama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Gubernur Ganjar Pranowo melakukan akrobat dan sulap yang mengangkangi hukum dengan membuat izin baru bagi perusahaan.

“Dengan terang benderang rezim jokowi dan juga para anggota dewan berdiri dibelakang korporasi yang hendak menghancurkan kehidupan masyarakat Kendeng,” ujar Herman Abdurrahman, Sekretaris Umum KPR yang juga Ketua Umum FPBI, dalam pernyataan sikapnya.

Hari ini seorang petani Kendeng gugur dalam perjuangannya. Ibu Patmi yang sebelumnya dinyatakan sehat dan dalam keadaan baik oleh dokter, kurang lebih pukul. 02.30 WIB (Selasa, 21 Maret 2017) setelah mandi, ia mengeluh badannya tidak nyaman dan mengalami kejang-kejang dan muntah. Segera Bu Patmi dilarikan ke RS St. Carolus Salemba dan menjelang sampai rumah sakit Bu Patmi dinyatakan meninggal dunia.

KPR melihat bahwa Bu Patmi adalah pejuang kehidupan. “Beliau bergabung dalam perjuangan dengan sepenuh hati dan ketulusan demi kehidupan seluruh masyarakat Kendeng. Bu Patmi adalah wajah terbalik dari suramnya wajah korporasi dan rezim saat ini yang hendak menggilas habis kehidupan rakyat. Bu Patmi mengajarkan ketulusan dan keteguhan hati, sementara negara mengajarkan cara penindasan yang keji terhadap rakyatnya,” tegasnya.

Dalam perjuangan petani Kendeng, KPR melihat berbagai hal yang dapat diambil sebagai pelajaran bagi perjuangan rakyat lain. Bertahun-tahun tanpa mengenal lelah, militansi, keteguhan hati, dan yang terpenting ialah ketulusan hati dalam berjuang.

Dengan apa yang terjadi pada masyarakat kendeng maka sudah seharusnya gerakan rakyat bergandengan tangan, baik itu gerakan buruh, tani, mahasiswa, maupun kaum miskin perkotaan. Solidaritas dan persatuan gerakan rakyat harus diwujudkan dengan nyata dan tanpa bergadengan tangan dengan elit-elit politik yang sudah berkali-kali mengkhianati perjuangan rakyat.

Komite Perjuangan Rakyat menyatakan dukungan dan siap bergabung dalam perjuangan Kendeng selanjutnya. “Kami juga menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya pejuang Kartni Kendeng Bu Patmi. Namun sesungguhnya perjuangan untuk kehidupan tidak pernah mati, ia akan terus berlipat ganda dan semakin menghebat,” pungkas Herman Abdurrahman. (gum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]