Impian Pengantar Kopi yang Susah Move On

Tak berlangsung lama setelah putus kontrak sebagai tenaga bantu di dapur, istilahnya “anak kitchen” di food court Plaza Senayan. Atas keinginan yang menggebu untuk kejar target punya Vespa, saya kemudian pindah kerja menjadi pelayan warung kopi di sebuah mall, di daerah Cilandak. Obsesi punya Vespa begitu menghasut diri untuk getol mengumpulkan uang.

Memang sih, bisa saja minta dibelikan meggunakan cara yang kekanak-kanakan, menodong orang tua dengan sedikit ancaman klise. Tapi tak pantas rasanya di umur yang bukan remaja lagi ini berlaku begitu, yang seharusnya sudah tak lagi terlalu membebani orang yang saya sayangi. Apalagi jika harus protes minggat dari rumah jadi begundal jalanan. Halah. Kontradiksi itu berkecamuk di batin. Anak macam apa saya pakai minggat segala, bisa dirutuki saudara, digujing tetangga, terasing dari pergaulan yang waras.

Sulit memang lepas dari ayunan lama, anak manis macam saya yang sedari kanak kerap dimanja, dan harus hidup menyiasati persoalan keluarga juga pergaulan yang kadang tak bersepaham. Keadaan kini sudah banyak yang berubah sejak ayah tak lagi bersama kami, takdir telah menentramkannya di alam kekal.

Sedari lulus SMA hasrat ingin diakui membuat banyak hal jadi tidak fokus. Menjadi lelaki dewasa sungguh sulit memang. Saat menuliskan cerita ini pun, notifikasi dari mantan pacar menambah gundah tak karuan. Terlebih ia bernasib lebih mujur prestasi pendidikannya dibanding saya yang cuma lulusan SMA, “halah, dasar jomblo!” Jomblo pas-pasan ini serasa diolok-olok sekian kenangan dan harapan saat bersamanya.

Mengabdikan diri sebagai pelayan kafe, yang bertugas mengantar kopi pesanan tamu, kadang menimbulkan dilema tersendiri. Tiga tahun sudah melakoni rutinitas yang memerangkap diri pada kontrasnya kehidupan, berkompromi dengan sekian paradoks warisan kolonial.

Pemikiran dari buku-buku sastra dan pandangan tokoh-tokoh besar membawa alam pikiran saya berubah dalam menilai banyak hal di lingkungan saya. Ada semangat perlawanan yang terus tumbuh di diri. Ada gelora untuk memperjuangkan cita-cita kemanusiaan. Apesnya, hidup dalam aturan kerja yang sekadar ada untuk menyiasati kemunafikan pemiliknya membuat pekerja di kafe ini pun terjangkit virus hipokrit. Di situlah dilemanya.

Terkadang di saat lengang, lamunan terbawa larut dalam melankolia yang banal. Mengenangmu mantan, adalah siksa yang lebih pedih dari rongrongan tagihan akhir bulan. Pernah suatu ketika secangkir kopi yang saya antar untuk tamu tumpah di meja, diri ini serasa dicerca bertubi-tubi, meski itu hal yang lumrah. Dan saya pun sudah meminta maaf kepada tamu tersebut.

Memang bukan cercaan langsung yang saya terima, namun rasa bersalah terkadang membuyarkan konsentrasi kerja. Tak hanya perkara sepele itu, ada hal-hal lain pula yang kadang menghantui.

Jika sudah begitu salah satu cara saya mencairkannya adalah berguyub-guyub dengan para pecinta batu akik. Tak jarang di ruang itulah saya bertukar pengetahuan dan pengalaman, menguji dan mengkaji hal-hal yang saya dapat dari bacaan maupun dunia kerja saya.

Dari ruang bergaul itu pula saya memetik banyak hikmah; mengenal keterlanjuran masyarakat dalam memaknai keyakinan, hal-hal irasional karena kecintaan yang membabi buta, bukan hanya di pergaulan batu akik, di lain pergaulan pun terjadi, pengkultusan tokoh dan terjebak menduplikasi sampul belaka, tak beda pula dengan newbie mengenal kopi, juga kamu. Iya, kamu. Mantan dalam ingatan.

Ada banyak pelajaran berharga melayani tamu kafe dari beragam profesi dan latar belakang. Mendapati problem kesenjangan generasi, juga karancuan dalam mengunggulkan gaya hidup. Saya dan yang segenarasi terbilang adalah angkatan gagap seperti yang WS Rendra cetuskan dalam sajaknya. Satu pihak mendesakkan nilai-nilai hidup idealistis, bijak menyikapi hidup dengan segenap kepatuhan, namun yang segenerasi dengan saya menilai itu hanyalah doktrin kolot. Nili-nilai usang yang tak lentur dengan kenyataan zaman.

Dalam perjalanan menggapai target punya Vespa, impian lain saya muncul; ingin menjadi pustakawan. Menjadi sosok yang sehari-hari bersunyi-sunyi mengurusi buku dan memperjuangkan nasib literasi.

Absurd benar bukan? Lha, impian untuk punya Vespa saja masih belum terwujud. Kok ya berani-beraninya punya impian semacam itu. Duh, Gusti ampuni pikiran dan cita-cita hambamu yang belum mampu konsisten dalam meraih cita-cita ini. Namun saya percaya, suatu hari kelak semua impian itu pasti terwujud. Termasuk impian memilikimu, iya, kamu.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Kojel Put On

Kojel Put On

Tinggal di Pamulang, Tangerang Selatan. Sehari-hari bekerja di sebuah kafe di Jakarta. Senang membaca buku-buku sastra.