Buruh Perempuan, Sang Pemilik Sejarah Hari Perempuan Sedunia

Kenapa pada peringatan International Woman’s Day (IWD) atau Hari Perempuan Sedunia, kaum buruh perempuan harus memperingatinya? Atau sebuah pertanyaan kenapa peringatan IWD dilakukan dalam bentuk aksi massa? Dua buah pertanyaan yang tak sulit untuk dijawab dan tak sulit untuk dilakukan.

Industrialisasi yang mulai muncul pada akhir abad ke-19 di Eropa dan Amerika, merupakan satu fase penting dalam sejarah peradaban manusia dunia. Satu sistem produksi baru dan sistem kerja upahan telah tercipta akibat dari industrialisasi ini yang kemudian melahirkan dua kelas dalam tatanan masyarakat. Kelas borjuis (pemilik modal/pengusaha), dan kelas proletar (kelas pekerja/buruh).

Sistem ekonomi-politik baru ini tentu saja merugikan kaum buruh, khususnya bagi buruh perempuan. Ekspoitasi yang brutal terjadi, jam kerja yang panjang, upah yang kecil, tempat kerja yang tak sehat, kekerasan seksual di tempat kerja, dan lain sebagainya. Belum lagi diskriminasi atas hak politik perempuan, kolonialisme, dan ditambah dengan terjadinya perang dunia pertama yang membuat buruh perempuan semakin berlipat ketertindasannya.

8 Maret
Kronologi sejarah perihal awal mula lahirnya Hari Perempuan Sedunia menunjukan bahwa kaum buruh perempuanlah yang memulai pergerakan perjuangan, hingga akhirnya pada tahun 1975 Persatuan Bangsa-Bangsa mengakui setiap tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia.

Awal gerakan buruh, khususnya buruh perempuan dari pabrik garmen dan tekstil mengadakan protes pada 8 Maret 1857di New York City, Amerika Serikat. Para buruh garmen memprotes apa yang mereka rasakan sebagai kondisi kerja yang sangat buruk dan tingkat gaji yang rendah.

Di Amerika Serikat, perlawanan buruh perempuan sudah dimulai sekitar tahun 1903, dengan dibentuknya Liga Serikat Buruh Perempuan. Pada tahun-tahun selanjutnya, 1908 dalam rangkaian pendirian Partai Sosialis Amerika, para perempuan sosialis di sana menyelenggarakan hari perempuan nasional dengan demonstrasi besar menuntut hak-hak buruh perempuan dan hak politik perempuan.

Tahun berikutnya, rangkaian pemogokan oleh kaum buruh perempuan juga terus berlangsung. Para buruh garmen yang banyak diisi oleh perempuan, melancarkan pemogokan massal selama 13 minggu yang diikuti oleh 30 ribu buruh perempuan. Liga Serikat Buruh Perempuan menggalang dana untuk membiayai pemogokan dan melakukan advokasi untuk membebaskan pada demonstran yang ditangkap polisi.

Salah satu penggagas hari perempuan sedunia adalah Clara Zetkin, seorang sosialis dari Partai Sosialis Jerman. Ia menawarkan proposal konferensi perempuan sosialis untuk memperjuangkan satu hari khusus untuk melakukan aksi Hari Perempuan Sedunia, demi menuntut hak-hak mereka. Pertemuan tersebut berlangsung di Copenhagen, Denmark pada 1910 yang melahirkan Hari Perempuan Internasional. Keputusan ini diterima secara bulat oleh semua peserta yang diikuti lebih dari 100 perempuan dari 17 negara.

Pada tanggal 19 Maret 1911 di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss, lebih dari satu juta buruh perempuan yang didukung oleh para buruh laki-laki turun ke jalan. Mereka menuntut hak ikut dalam pemilu, berpartisipasi dalam pemerintah, kenaikan upah, penghapusan diskriminasi dalam pekerjaan, dan lain sebagainya.

Selang beberapa hari usai peringatan itu, pada tanggal 25 Maret 1911 terjadi insiden tragis kabakaran pabrik Triangle Shirtwaist, di New York, yang mengakibatkan lebih dari 140 buruh perempuan meninggal dunia. Mereka kebanyakan adalah imigran dari Italia dan Yahudi.

Perlawanan buruh perempuan juga terjadi di Rusia atas industrialisasi yang didorong oleh Tsar (raja) dan perang imperialisme. Tahun 1913 buruh perempuan Rusia pertama kali memperingati Hari Perempuan Sedunia. Bertepatan dengan revolusi bolshevik tahun 1917, dua juta tentara Rusia terbunuh akibat perang. Sementara rakyat Rusia juga mengalami kesengsaraan akibat dari perang tersebut.

Kaum perempuan Rusia sekali lagi turun ke jalan dengan menyerukan “Roti dan Perdamaian” sebagai slogan kampanye mereka melawan kebijakan penguasa. Aksi mereka dilakukan pada tanggal 23 Februari (kalender Julian) atau tanggal 8 Maret (kalender Masehi). Tak selang berapa lama, kepeloporan kaum buruh perempuan Rusia berhasil menggulingkan Tsar.

8 Maret 2017
Hari ini, 8 Maret 2017, kondisi buruh perempuan mungkin telah mengalami berbagai perubahan. Hak-hak maternitas telah diakui dan diberikan oleh banyak negara, demikian pula dengan hak politik kaum perempuan. Namun, pemberlakuan hak-hak buruh perempuan sepertinya hanya tertulis dalam aturan saja, tapi lemah dalam implementasinya dan lemah pula penegakan hukum atas pelanggaran hak-hak tersebut.

Fakta di lapangan masih menunjukan diskriminasi atas upah dan posisi masih dirasakan oleh buruh perempuan di tempat kerja, pelecehan dan kekerasan seksual masih banyak ditemui, pemberangusan serikat sebagai alat perjuangan buruh juga banyak terjadi. Hak cuti melahirkan, cuti haid, cuti keguguran, dipersulit untuk bisa diakses oleh buruh perempuan. Sistem kerja kontrak dan outsourcing membuat buruh perempuan semakin rentan dan tak memiliki daya tawar.

Artinya, apa yang dahulu pernah diperjuangkan oleh buruh perempuan masih harus diteruskan. Siapa yang melanjutkan? Tentu saja kaum buruh perempuan saat ini dan dukungan dari kalangan buruh lain dan juga masyarakat dari berbagai sektor. Tugas utama adalah mendorong pemerintah untuk tegas memberlakukan dan mengimplementasikan segala aturan dan pemenuhan hak-hak buruh perempuan tanpa terkecuali, tanpa alasan apapun.

Maka dalam peringatan Hari Perempuan Sedunia pada 8 Maret 2017 kali ini, kaum buruh perempuan masih harus turun ke jalan. Menghentikan kerja, untuk bergabung bersama buruh perempuan lain memanfaatkan momentum ini sebagai konsolidasi dan perayaan dengan melakukan unjuk rasa menuntut dan merebut hak buruh perempuan.

Sejarah Hari Perempuan Sedunia telah dipelopori oleh gerakan buruh perempuan, maka tugas sejarah berikutnya bagi buruh perempuan adalah melanjutkan apa yang dahulu pernah diperjuangkan. Meyakinkan diri untuk tak akan berhenti berjuang sampai segala hak-hak buruh perempuan terpenuhi.

Akhir kata, kami dari redaksi Kabar Buruh, mengucapkan selamat Hari Perempuan Sedunia. Rayakan hari ini, dan terus perjuangkan hak-hak perempuan. Tak ada pembebasan rakyat, tanpa pembebasan kaum perempuan.

Redaksi

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]