Dinilai Langgar PKB, FSPMI PT Smelting Gresik Mogok Kerja

Gresik — Sebanyak 309 buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di PT Smelting Gresik melakukan mogok kerja sejak 19 Januari 2017 karena menganggap perusahaan telah melakukan pelanggaran Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara pekerja dan perusahaan.

Dalam rilis yang disampaikan oleh FSPMI, mereka telah menyampaikan rencana mogok kerja sejak 8 Januari 2017. Serikat pekerja yang diketuai Zaenal Arifin telah menyampaikan surat mogok kerja yang ditujukan kepada Manajemen PT Smelting dengan tembusan kepada pihak terkait seperti Disnaker tembusan ke Bupati Gresik , Polsek Manyar, Koramil Manyar dan Polres Gresik, DPRD Gresik dan DPW FSPMI Jatim.

Menurut pria yang sudah menjabat ketua serikat selama 5 tahun ini, mogok kerja dipilih sebagai langkah terakhir akibat gagalnya perundingan pembahasan PKB VIII yang seharusnya berlaku di tahun 2017 ini.

Adapun perundingan yang sudah dilakukan sejak 28 November 2016 dan berakhir tanggal 6 Januari 2017 sesuai Tata Tertib Perundingan PKB pasal 4 ayat (1).

“Hingga tanggal berakhirnya perundingan tersebut, dari semua pasal atas draft yang diajukan Manajemen, banyak sekali pasal yang merugikan pihak pekerja dan serikat, sehingga sampai dengan waktu yg ditentukan perundingan berakhir deadlock,” ujar Zainal dalam keterangan persnya.

Sehingga pihak serikat pekerja FSPMI PT Smelting memutuskan melakukan mogok kerja selama 1 bulan sesuai surat yang ditulis ke pihak2 terkait sejak tanggal 19 Januari 2017.

Menurut pria kelahiran Kediri 45 tahun yang lalu ini, Langkah mogok kerja diambil karena manajemen sudah keempat kalinya melakukan pelanggaran isi PKB. “Salah satu contoh pelanggaran PKB misalnya diskriminasi gaji dan tunjangan antara level I sampai level IV (yaitu operator sampai senior engineer) dengan level V dan VI (yaitu level asmen dan manager) yang tidak sesuai rumusan gaji yang tertera di PKB sebelumnya,” katanya.

Ia melihat ada upaya-upaya manajemen melakukan pemberangusan serikat dan aksi “bersih-bersih” dengan melakukan PHK kepada seluruh anggota serikat yang ikut mogok kerja dan menganggap mogok yang dilakukan tidak sah. “Sah tidaknya kegiatan tersebut ada di keputusan pengadilan hubungan industrial,” Zaenal menambahkan.

Bahkan ada beberapa anggota FSPMI yang sedang cuti umroh atau yang sedang dirawat di rumah sakit juga mendapatkan surat PHK. “Bagi kami arogansi manajemen PT Smelting sudah keterlaluan. Sehingga kami tetap akan meneruskan aksi mogok ini bersama anggota-anggota yang lain hingga tercapai kesepakatan yang win-win solution”, kata Zaenal mengakhiri pembicaraan. (jum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]