Inilah Isi Orasi Presiden KSPI Said Iqbal di Depan Istana Negara

Jakarta — Pada sekitar pukul 13.00 WIB, ribuan buruh yang melakukan aksi hari ini telah sampai di tujuan aksi mereka, yaitu Istana Negara. Mereka memilih berada di depan Istana untuk menyampaikan orasi dan aspirasinya, dan kemudian melanjutkan aksinya ke Mahkamah Agung.

Sesampainya di Istana Negara, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyampaikan orasinya dihadapan ribuan buruh, di tengah cuaca Jakarta yang terus berubah panas dan hujan.

Dalam orasinya, Iqbal menyoroti tentang capaian pemerintah yang menyatakan angka kesenjangan ekonomi telah menurun. Ia mengkritik hal tersebut lantaran penurunan angka rasio dini dilihat dari pengeluaran, bukan pendapatan. “Angka pendapatan orang kaya meningat. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Orang miskin pendapatannya sedikit, tapi pengeluarannya besar,” ujar Iqbal.

Lebih jauh ia menunjukan data kenaikan upah minimum buruh yang hanya sebesar 8,25% sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. “Paling tinggi naik 260 ribu atau 20 dolar, paling rendah adalah 10 dolar. Kalau di Eropa, Singapura, Jepang, 10 dolar itu hanya seharga kebab Turki. Kenaikan upah kita hanya dihargai satu kebab. Makanya kita tolak PP 78,” ungkapnya.

Kritik lain yang disampaikannya adalah pencabutan subsidi listrik dengan daya 900 watt. Di mana kaum buruh kebanyakan menggunakan daya listrik tersebut. Belum lagi kenaikan harga kebutuhan pokok seperti cabai yang melambung tinggi tak terkendali, padahal merupakan bagian kebutuhan pangan masyarakat Indonesia.

Di sela-sela orasinya, ia meminta kepada buruh untuk menunjuk jari ke arah Istana Negara sembari menerikan kata “Lawan lawan, lawan”. Secara kompak ribuan buruh melakukan arahan tersebut saat menyambut teriakan darinya yang mengatakan “Turunkan harga”.

Terkait dengan isu tenaga kerja asing asal China yang juga diangkat oleh KSPI, Iqbal menilai bahwa saat ini pengangguran dan kesenjangan ekonomi di Indonesia masih tinggi, sehingga tidak seharusnya TKA dari China diberikan kesempatan untuk masuk ke Indonesia. “TKA China ilegal kalau perlu kita usir dari pabrik-pabrik. Kita tidak rasis dan anti terhadap buruh lain, tapi kenapa pemerintah memberikN kelonggaran seperti itu,” tanyanya.

Isu outsourcing yang telah lama ditolak oleh buruh, tak luput menjadi perhatiannya. Program pemagangan yang dicanangkan oleh pemerintah dianggap telah disusupi dan menjadi kedok dari praktek outsourcing di Indonedia yang kian marak. Padahal untuk jenis pekerjaan inti tidak diperbolehkan dilakukan oleh tenaga kerja outsourcing.

Said Iqbal juga mengatakan penolakannya atas rencana revisi Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ia menyebut bahwa saat ini Apindo tengah melakukan lobby kepada DPR agar merevisi aturan mengenai pemberian pesangon kepada buruh yang di PHK.

“Pengusaha di Indonesia ini rakus dan serakah. Mereka sudah diberi berbagai keringanan melalui paket kebijakan ekonomi, dan ditambah dengan UU Tax Amnesty. Namun mereka masih memintah pasal pesangon untuk dihilangkan,” ujarnya.

Berbagai isu tersebut akan terus disuarakan oleh KSPI hingga tuntutan dipenuhi. Bahkan Iqbal mengatakan akan menyiapkan aksi hari buruh se dunia secara besar-besaran. “Saya akan instruksikan buruh yang ada di pulau Jawa dan sebagian Sumatra, untuk datang ke Jakarta dalam perayaan May Day. Kita akan kepung Istana Negara,” pungkasnya. (gum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]