Front Persatuan Demokratik Serukan Solidaritas Buruh Tanpa Batas Ras, Etnis dan Agama

Jakarta – Front Persatuan Demokratik (FPD) yang berisikan sejumlah organisasi rakyat seperti Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Persatuan Perjuangan Indonesia, Politik Rakyat, Perempuan Mahardika, Serikat Mahasiswa Indonesia, Federasi Mahasiswa Kerakyatan, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), menyerukan kepada masyarakat untuk membangun solidaritas tanpa batas ras, etnis dan agama.

Seruan yang disampaikan oleh FPD tersebut terkait dengan maraknya isu yang beredar bahwa ada serbuan tenaga kerja asing (TKA) yang ramai diberitakan di berbagai media massa dan menyembar di media sosial. Isu ini semakin membesar lantaran muncul angka TKA asal China yang jumlahnya sangat fantastis mencapai 10 juta orang tanpa dokumen resmi. Lebih jauh, eksodus tenaga kerja asal China tersebut diberitakan juga membawa ideologi tertentu untuk merongrong NKRI, sampai pada kegiatan intelejen dan spionase.

Dalam pernyataan sikapnya, FPD memaparkan gambaran umum tentang data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang menunjukkan realisasi investasi asing sepanjang 2016 sebesar Rp396 triliun ternyata melewati target pemerintah sebesar 386 triliun. Investasi China pada triwulan IV 2016 sebesar US$ 1 miliar, merebut posisi modal Jepang di peringkat kedua.

Merujuk pada data tersebut sekilas menunjukkan bahwa China menjadi negara investor besar, menanamkan modalnya ke banyak negara-negara lain, juga Indonesia. Namun kita coba lihat lebih dalam, menurut data China Labour Bulletin (http://www.clb.org.hk/) pada awal tahun 2016, terjadi PHK besar-besaran sekitar 1,8 juta pekerja di China pada sektor tambang. Laporan terkini terjadi lagi PHK sebanyak 6 juta orang yang bekerja di perusahaan-perusahaan negara (BUMN-Cina). Angka ini akan jauh lebih besar lagi jika ditambah lagi dengan pekerja di sektor swasta.

Mirip seperti yang terjadi di Indonesia, karena minimnya lapangan kerja, orang berbondong-bondong pergi keluar negeri menjadi tenaga kerja asing untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Ironisnya kehidupan para pekerja migran tidak selalu lebih baik dari sebelumnya.

Pekerja asing adalah juga kelas buruh, namun mempunyai posisi yang lebih lemah dibandingkan kaum buruh umumnya di dalam negeri. Karena posisi yang lemah tersebut, mereka mengalami kebrutalan eksploitasi yang bertubi-tubi. Pertama mereka terlempar dari pasar kerja dalam negerinya sehingga harus pergi jauh untuk mendapatkan pekerjaan, kedua karena berada diluar negeri, mereka tidak terlindungi dan tidak ada jaminan kepastian bekerja terutama pekerja yang undocumented, bahkan sama sekali tidak mendapatkan hak-hak sipil dan politik seperti berorganisasi, menyampaikan pendapat dan menuntut upah yang lebih tinggi.

Ketiga, secara sosial mereka mengalami kesulitan beradaptasi karena prasangka rasial yang tumbuh mengakar dalam masyarakat berkelas. Pada kondisi tertentu mereka seringkali mengalami intimidasi dan penyiksaan fisik diluar batas rasa kemanusiaan.

Melaui pernyataan sikapnya FPD mengkritis beberapa hal terkait dengan isu yang telah lama beredar tersebut. Paling tida ada lima poin yang disampaikan oleh FPD dalam analisanya perihal isu eksodus tenaga kerja asal China.

Pertama, mereka menilai bahwa eksodus jutaan pekerja asal China itu tidak masuk akal jika karena mendatangkan pekerja dari luar negara ke lokasi produksi tetap terikat dengan logika atau prinsip ekonomi dari kepentingan modal yang menginginkan keuntungan sebesar-besarnya dan pengeluaran serendah-rendahnya. Jika mendatangkan pekerja dari China membuat ongkos buruh lebih tinggi dibandingkan dengan mempekerjakan pekerja dalam negeri yang melimpah murah, maka dengan sendirinya logika eksodus ini telah gugur.

Kedua, para TKA ini adalah juga adalah kelas buruh yang dipekerjakan oleh para majikan pemilik modal dengan kondisi kerja yang parah dan upah yang rendah. Biasanya mereka bekerja di sektor tambang, perkebunan, industri padat karya, dan proyek-proyek infrastruktur. Kondisi yang sama dialami oleh para TKI di luar negeri.

Ketiga, sentimen rasial ini sengaja diciptakan untuk mengaburkan dan mengalihkan perhatian dari permasalahan yang sebenarnya terjadi. Upaya mengkotak-kotakkan kaum buruh berdasarkan identitas adalah upaya memecah belah persatuan kaum buruh. Kita dikondisikan untuk melihat saudara senasib (kelas buruh) kita sebagai saingan dalam mendapatkan pekerjaan, terutama jika mereka datang dari ras yang berbeda, negeri yang berbeda, dan agama yang berbeda.

Keempat, mereka bukanlah pekerja ilegal. Menggunakan istilah “pekerja ilegal” itu sendiri adalah sebuah kesalahan. Tidak ada yang namanya manusia ilegal, mereka hanya tidak ada dokumen resmi (undocumented) dan terjebak dalam mata rantai perdagangan manusia (traficking) yang dilakukan oleh sekelompok mafia terorganisir.

Kelima, sesungguhnya lawan utama kaum buruh – asing maupun dalam negeri – adalah pemilik modal yang serakah dan sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan buruh sebagai budak semata. Sistem ekonomi ini bukanlah untuk kemakmuran kelas buruh, tetapi sebaliknya, untuk kepentingan dan kemakmuran kelas pemilik modal. Kalau modal saja tidak mengenal kebangsaan, maka perjuangan kaum buruh juga harus keluar dari sekat-sekat nasional.

Berdasarkan analisa tersebut, FPD menyerukan kepada seluruh kaum buruh dan masyarakat Indonesia untuk menentang segala bentuk sentimen rasial yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat kita. Menolak perspektif Nasionalisme sempit yang justru memecah belah persatuan buruh.

FPD menilai bahwa para buruh berhak hidup dan bekerja dimanapun ia inginkan untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Ini seharusnya menjadi prinsip yang harus kita perjuangkan bersama.

Selain itu, FPD juga menyerukan kepada seluruh kaum buruh untuk bersatu dan bersama-sama melawan sistem ekonomi Kapitalisme yang menindas kaum buruh. Serta membangun solidaritas tanpa batas antar seluruh elemen kaum buruh, tani, mahasiswa, perempuan dan rakyat tertindas lainnya tanpa memandang suku, agama dan ras. (gum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]