Tanpa Kekuasaan Rakyat, Tiap Kemenangan Akan Selalu Dirampas Kembali

Hari ini, beberapa tahun yang lalu, ratusan ribu buruh dari tujuh penjuru kawasan industri di Kabupaten Bekasi, melakukan pemogokan massal. Pemogokan tersebut bisa diklaim sebagai pemogokan terbesar dalam skala kabupaten di seluruh Indonesia yang melibatkan ratusan ribu buruh, perempuan dan laki, muda dan tua, lintas suku, lintas agama.

Pemogokan yang dipicu oleh keengganan Pemerintah Daerah dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) untuk menetapkan kenaikan upah buruh sesuai dengan tuntutan buruh. Satu tuntutan kenaikan upah yang sebenarnya masih sebatas memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pemogokan ini juga menjadi pertanda kebangkitan gerakan buruh di seluruh Indonesia, untuk bergerak memenangkan satu demi satu tuntutan mereka. Namun, tidak dalam waktu lama kemenangan ini segera dicabut, dirampas kembali oleh penguasa.

Aksi-aksi geruduk pabrik di Kab Bekasi sepanjang bulan Mei-Oktober 2012, berhasil memenangkan puluhan ribu buruh dengan status kerja kontrak dan outsourcing menjadi pekerja tetap. Aksi-aksi yang dinilai oleh Pemda dan Apindo sebagai sebuah gerakan berbahaya bagi kelangsungan perputaran modal.

Segera saja penguasa mengambil langkah strategi untuk menghentikan gerakan tersrbut. Tindakan-tindakan respresif menjadi pilihan cara yang diambil untuk menghadang gerakan buruh, seperti dengan melakukan penyerangan secara fisik oleh para milisi sipil – yang di back up pengusaha dan pemerintah setempat – terjadi secara massif dan brutal. Tak sedikit para buruh yang menjadi korban luka-luka akibat gesekan tersebut.

Kemudian diikuti dengan pembatalan sekian benyak perjanjian bersama di tingkat pabrik, pelarangan unjuk rasa, hingga intimidasi-intimidasi lainnya. Termasuk dengan penggiringan opini sesat melalui media-media massa besar, bahwa gerakan buruh sebagai pihak yang bersalah, suka berbuat rusuh dan seterusnya.

Ratusan spanduk larangan ini dan itu bertebaran di seluruh Kab Bekasi. Spanduk-spanduk provokatif yang mengadu domba buruh dengan warga non-buruh juga terpasang di mana-mana, ditambah belum siapnya gerakan buruh menghadapi situasi serangan balik tersebut, menyebabkan gerakan buruh melemah dan akhirnya dapat dikatakan kalah.

Namun yang lebih penting lagi, negara – melalui pemda dan aparatus keamanan setempat – justru menjadi aktor utama dalam setiap persoalan yang dihadapi kaum buruh, termasuk menjadi aktor utama yang berdiri paling depan dalam upaya menghancurkan protes-protes buruh.

Pengertian ini yang kemudian melandasi kehendak kaum buruh untuk memajukan satu alternatif kekuasaan – yang tentu saja, akan menjadi pintu masuk untuk berdirinya alternasif model masyarakat baru yang lebih adil – dengan keterlibatan dalam berbagai jalur formal yang disediakan negara untuk mengisi lembaga-lembaga negara.

Keikutsertaan dalam pemilu legislatif adalah salah satu cara yang ditempuh oleh buruh, mulai dengan cara memasukan aktivis-aktivis buruh dalam partai-partai lama. Pilihan yang berupaya agar ada harapan parlemen menjadi salah satu lembaga negara yang berpihak dengan kuat bagi kepentingan buruh.

Namun nampaknya metode ini kurang efektif karena adanya hambatan di internal partai (anggota legislatif harus tunduk pada keputusan partai), sehingga walaupun ada beberapa kawan yang berhasil menjadi anggota DPRD, gaung perubahan akan nasib butuh masih terasa sangat sayup.

Buruh Maju Dalam Pilkada Kab Bekasi
Belajar dari pengalaman tersebut, mau tak mau, harus ada pilihan lain dalam starategi go-politic yang diambil oleh kaum buruh. Dan pilihan lain itu adalah terlibat dalam kancah pemilu kepala daerah.

Pilihan kali ini bukan lagi nebeng ke partai politik yang sudah ada, atau sekedar mendukung calon dari partai politik tertentu dengan kontrak politik dan sejenisnya, melainkan maju dengan kemampuan sendiri, dengan kekuatan sendiri, dengan alat sendiri, dengan jalur sendiri. Yakni maju sebagai calon independen.

Adalah Obon Tabroni, yang didaulat untuk maju dalam pilkada Kab Bekasi yang akan dilangsungkan pada bulan Februari 2017. Sebagai orang yang kontribusinya cukup besar dalam pembangunan gerakan buruh – baik di Bekasi maupun level nasional – kesederhaaan hidup dan kedekatan dengan kalangan bawah juga menjadi alasan kuat, kenapa Obon yang didorong maju.

Bermula dari relawan-relawan buruh, lalu berkembang ke para pedagang kecil, ibu-ibu pengajian, komunitas kaum muda, komunitas disabilitas, komunitas hobi dan budaya, tokoh-tokoh agama dan lapisan masyarakat lainnya seperti petani dan nelayan. Dukungan bagi Obon – yang berpasangan dengan Bambang – semakin menguat.

Ini bukan lagi soal gerakan buruh yang berjuang untuk perbaikan nasib kaum buruh saja, melaikan sudah berkembang menjadi gerakan rakyat yang berjuang untuk perubahan bagi seluruh lapisan mayarakat kecil.

Berbagai persoalan yang dialami masyarakat Bekasi seperti persoalan upah, jam kerja, status kerja dan persoalan buruh lainya, mulai dimunculkan sebagai persoalan yang harus diperjuangan bersama. Isu lain yang tak luput untuk diangkatnya adalah perihal akses kesehatan, pendidikan, akses petani pada lahan pertanian, korupsi para pejabat, persoalan lapangan pekerjaan, sarana publik yang tidak memadai, hingga persoalan kesempatan bagi kaum muda untuk mengekpresikan dirinya dan lingkungan yang semakin rusak.

Inilah gerakan perubahan yang sedang bangkit di Kab Bekasi dalam bentuk yang baru. Sebuah gerakan politik rakyat yang sedang mencoba melakukan eksperimen baru untuk masuk dalam kekuasan di tingkat wilayah kabupaten. Dengan satu harapan besar, jika dalam pertarungan politik ini kaum buruh yang menjadi pelopor berhasil merengguh kepemimpinan di Kabupaten Bekasi, berbagai perubahan dan perjuangan nasib buruh akan lebih baik lagi.

Dengan kepemimpinan di tingkat pemerintah daerah yang dipegang langsung oleh buruh dan mendapatkan dukungan besar dari rakyat, apa yang menjadi persoalan-persoalan seperti tergambarkan dalam di atas tak lagi terjadi. Buruh yang menuntut kesejahteraan tak lagi harus dihadapkan oleh milisi-milisi sipil yang ditugaskan untuk memukul aksi buruh, dan berbagai tuntutan rakyat akan semakin mudah terealisasi, dsb.

Tahap paling menentukan dari metode baru perjuangan ini akan terjadi pada tanggal 15 Februari 2017. Waktu bagi rakyat bekasi untuk memilih siapa yang akan menjadi kepala daerah selama lima tahun ke depan, dan menentukan seperti apa nasib rakyat selama lima tahun ke depan. Wakytu yang menentukan apakah rakyat Bekasi akan memilh Obon-Bambang, atau justru membiarkan Rezim lama tetap berkuasa.

Kunci dari kemengan rakyat ini adalah keaktifan kita semua, tak bisa lagi pasif menjadi penonton dan pengamat, tapi harus ikut memberikan kontribusi sekuat-kuatnya bagi kemenangan rakyat ini. Maka bagi rakyat Bekasi pada umumnya, dan juga bagi para pimpinan serikat buruh penting untuk diserukan upaya konsolidasi, guna memastikan semua anggotannya untuk berjuang lebih keras pada hari-hari ini hingga kemenangan bisa direbut.

Sudah cukup, penderitaan ini

Sudah cukup, terus dibohongi

Sudah cukup, jerit tangis.

Sudah saatnya perubahan itu hadir. Pastikan seluruh tempat pemungutan suara di Kab Bekasi dimenangkan oleh rakyat dengan memilih No 3, pasangan Obon-Bambang.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Budi Wardoyo

Budi Wardoyo

Budi Wardoyo, Wakil Deputi I Rumah Rakyat Indonesia (RRI).