Buruh Nonton Bareng Film Wiji Thukul “Istirahatlah Kata-Kata”

Jakarta — Sebanyak 240 buruh dari sembilan serikat buruh menonton bersama film tentang kisah Wiji Thukul yang berjudul “Istirahatlah Kata-Kata”, di theater 21 Cineplex, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Nonton bareng yang digalang oleh tim produksi film ini sengaja mengundang kalangan buruh karena sosok Wiji Thukul dinilai sangat dekat dengan kalangan buruh. “Thukul ini pada masanya sangat dekat dengan buruh, hadir di lapangan dalam berbagai advokasi buruh. Makanya kita undang kawan-kawan buruh untuk menonton bersama,” ujar Wilson, salah seorang penyelenggara nobar.

Nobar tersebut terbagi dalam beberapa jadwal, dari pukul 12.15, 14.50, dan 19.00 WIB. Kabar Buruh juga berkesempatan ikut serta nobar pada pukul 14.50 WIB, bersama dengan Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) dan Konfederasi Perjuangan Buruh Indonesia (KPBI) yang memenuhi satu theater.

Dalam wawancara usai nobar, buruh memiliki beragam pandangan atas film yang menceritakan tentang masa pelarian Thukul di Pontianak, Kalimantan Timur. Seperti pendapat Hetty Susanti, dari Federasi Serikat Buruh Kerakyatan Indonesia yang menilai film dan puisi Thukul sangat inspiratif bagi buruh.

“Dia rela meninggalkan keluarga demi untuk masyarakat. Dan menujukan juga bahwa perjuangannya tak mudah. Selama dipelariannya, di film itu ia terlihat takut, takut ada yang mengenali, ketahuan dan ketangkep. Sehingga dia terus berpindah,” ujar Hetty menanggapi.

Menurutnya, film ini harus ditonton oleh kalangan buruh dan masyarakat umum. Agar mengetahui Thukul lebih dalam dari berbagai sisi. Ilham Jimbo dari KASBI juga mengapresiasi film yang menampilkan tokoh pejuang demokrasi dan pejuang buruh melawan rezim Orde Baru. Di mana dalam film Indonesia, jarang sekali menampilkan tokoh dari kalangan gerakan buruh.

Namun demikian, ia juga menyampaikan kritik atas film tersebut. Baginya film itu tak memperlihatkan sosok Thukul yang identik dengan buruh dan aksi-aksi perlawanan terhadap rezim otoriter Soeharto. “Buruh pengennya mengharapkan film saat ia sedang ngorganisir buruh atau demo. Konfliknya dengan rezim tak terlalu tergambarkan,” ucapnya.

Namun dalam film ini menurutnya memang cukup tergambarkan bagaimana Thukul selama pelarian yang mengalami rasa takut dan sunyi. “Sebenernya banyak simbol dan narasi dalam film itu yang menceritakan tentang ketegangan dengan pemerintah, namun kurang terlihat jelas dalam visualnya,” sambungnya.

Film “Istirahatlah Kata-Kata” tayang perdana pada tanggal 19 Januari 2017 lalu. Pada hari pertama tayang, antusiasme publik atas film itu sangat tinggi. Terbukti dengan habisnya tiket film di berbagai bioskop. Sedianya pada hari Selasa, 24 Januari 2017, juga akan dilangsungkan nobar film dengan keluarga Wiji Thukul. (gum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]