Buku “Menolak Tunduk”, Seri Buruh Menuliskan Perlawanannya

Bagi para peminat buku perburuhan, biasanya akan disuguhi buku yang berisikan tentang teori-teori perburuhan, regulasi, sejarah gerakan buruh, ataupun analisa-analisa perburuhan yang berdasarkan sebuah riset. Biasanya pula, para penulis buku tentang perburuhan adalah para akedemisi juga instansi pemerintah atau swasta.

Tak ada yang salah jika kita menikmati bacaan tersebut, karena tentu akan menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang perburuhan dari berbagai sudut pandang. Kekayaan pengetahun itu akan menjadikan pembaca – khususnya dari kalangan buruh – memiliki perspektif yang berbeda dari apa yang biasanya dipikirkan.

Namun ada yang berbeda dari buku yang berjudul “Menolak Tunduk: Cerita Perlawanan dari Enam Kota” yang diterbitkan oleh Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS). Lembaga tersebut memfasilitasi 12 orang buruh yang tersebar di enam kota, untuk menulis cerita pengalaman perjuangannya sebagai aktivis buruh.

Buku yang berisikan kumpulan tulisan dengan pengantar dari seorang peneliti dan akademisi Ratna Saptari itu, mengajak kita untuk membaca catatan pengalaman perjuangan buruh yang ditulis sendiri oleh pelakunya (Buruh). Satu buku yang cukup langka dan menambah khazanah literasi Indonesia.

Mereka menuliskan pengalaman perjuangannya dalam bentuk kronologis, yang umumnya dimulai dari bagaimana mereka menjadi kelas buruh. Dan ketika mereka bekerja mengalami berbagai bentuk eksploitasi yang dilakukan oleh para pengusaha. Berbagai kondisi sulit yang mereka alami di pabrik, khususnya terkait dengan hak-hak mereka sebagai buruh yang tak dipenuhi oleh pengusaha, mengantarkan pada penemuan kesadaran sosial mereka sebagai kelas buruh.

Kesadaran yang kemudian mereka ejawantahkan dalam bentuk pembangunan serikat buruh sebagai alat bagi mereka untuk berjuang. Dan kemudian dilanjutkan dengan berbagai percobaan perjuangan atas hak-hak mereka. Tak selalu indah selayaknya sinetron hasil dari perjuangan yang mereka tuliskan, namun apa yang telah dilakukan masih menjadi kesadaran yang mereka miliki hingga saat ini.

Pelaku Menulis Sejarahnya
Sebut saja tulisan dari Kokom Komlawati yang berjudul “Aku si Malaikat Pencabut Nyawa”. Cerita dirinya saat menjadi seorang buruh yang tak peduli dengan kondisi yang dialaminya dan dialami oleh rekan-rekan sesama buruh di PT Panarub Industry, Tangerang. Dulu ia adalah seorang buruh yang memiliki hubungan dekat dengan pimpinan perusahaan, dan lebih senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan ke mall atau nongkrong di cafe.

Namun lambat laun kerja yang ia rasakan membawa perjalanan hidupnya berubah. Berbagai kontradiksi yang ia lihat dan rasakan mengarahkan ia pada satu pilihan untuk menjadi seorang pemimpin serikat buruh dan melakukan perlawanan atas keserakahan para pemilik modal.

Lain lagi dengan tulisan milik Aang Ansorudin yang biasa dipanggil Bolang. Kesadaran kelas yang dimilikinya lahir pada era ‘Geruduk Pabrik’ marak terjadi di Bekasi, Jawa Barat. Ia sebagai pejuang hak buruh lahir pada situasi perburuhan menolak sistem kerja outsourcing memanas, yang sampai berujung pada aksi mogok kerja massal dan menutup jalan tol.

Catatan-catatan yang ditulisakan oleh Kokom maupun Bolang, bukan saja cerita subjektif heroisme mereka atas apa yang pernah mereka lakukan. Disadari atau tidak, apa yang dituliskan oleh mereka adalah sebuah dokumentasi sejarah dari perjuangan buruh yang dituliskan sendiri oleh para pelaku.

Kita sadari bahwa budaya menulis dikalangan buruh dapat dikatakan masih rendah. Berbagai faktor mungkin menjadi penyebabnya. Waktu yang mereka habiskan untuk bekerja dan lembur, mungkin memberikan faktor yang membuat buruh tak memiliki waktu untuk membaca atau menulis. Atau juga mereka tak memiliki ruang/media tempat mereka untuk menyalurkan ekspresi dalam bentuk tulisan.

Apa yang dilakukan oleh LIPS dengan memfasilitasi para buruh untuk mencatatkan sejarah gerakan buruh, menjadi hal yang penting untuk mendorong para buruh mau melakukan kerja-kerja kebudayaan (menulis) yang sebenarnya menjadi bagian dari kerja perjuangan para buruh.

Mereka yang Harus Membaca Buku Ini
Bagi kalangan aktivis buruh lain atau mereka yang berserikat, buku ini akan membawa mereka ‘bernostalgia’ karena apa yang dialami oleh para penulis, mungkin saja juga banyak dialami oleh buruh-buruh lain. Mengingat kondisi perubuhan di Indonesia memang tak seindah regulasi dan ucapan para pejabat pemerintah atas kondisi perburuhan.

Sementara bagi para akademisi atau peniliti, buku ini dapat menjadi sumber rujukan penting bagi kalangan intelektual untuk melihat dan menganalisis kondisi perburuhan di Indonesia. Begitu juga bagi para punggawa media massa yang kerap menuliskan berita-berita perburuhan dalam tone yang negatif.

Tone negatif yang menggiring publik untuk berfikir dan bersikap negatif pula dari setiap aksi-aksi perjuangan yang dilakukan oleh buruh. Misal saja keluhan bahwa demo buruh membuat macet, buruh yang tak tahu diuntung sudah digaji tapi masih minta upah naik terus, buruh jika demo terus akan membuat investasi kabur, dll.

Pernyataan-pernyataan secara kasat mata yang dilontarkan oleh mereka yang mungkin juga adalah buruh – buruh kerah putih atauh kelas menengah – namun tak mau mencoba melihat lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi dan dialami oleh buruh di tiap harinya dan di tiap kerjanya. Maka buku ini juga layak dibaca oleh mereka yang selama ini kerap menghujat gerakan-gerakan yang dilakukan oleh buruh.

Cukup dengan harga Rp60.000,- dan menghubungi nomor telepon 0899-7851-713, anda bisa mendapatkan buku setebal 426 halaman. Ilustrasi sampul buku buah karya dari Toni Malakian yang sangat bagus, menjadi bonus bagi para pembaca, sehingga membuat buku ini layak ada di deretan depan rak buku anda. Dan dengan harga itu pula, anda bisa merasakan pengalaman-pengalaman perjuangan buruh dan membaca catatan sejarah gerakan buruh paska-Orde Baru.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Alfa Gumilang

Alfa Gumilang

Redaksi kabarburuh.com dan aktif di Komunitas Kretek.