Perang Dunia Pertama dan Berdirinya Internasional Labour Organization (ILO)

Eropa pada abad ke-19 mengalami satu fase yang sangat penting dalam sejarah peradaban dunia. Revolusi indutri yang terjadi pada abad itu di negara-negara Eropa, telah benar-benar merubah wajah politik dari setiap negara. Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Rusia, Austria-Hongaria dan berbagai negara lainnya saling berlomba untuk memajukan industrinya.

Hasil produksi dari setiap industri membutuhkan wilayah baru sebagai pasarnya, juga kebutuhan akan bahan baku bagi industri. Pada titik inilah konolialisme dan imperalisme menjadi cara yang dilakukan oleh negara-negara eropa. Seiring dengan kebutuhan tersebut, maka menjadi keharusan pula bagi tiap negara untuk memperkuat militernya, pertahanan dan persenjataan. Juga persekutuan antar negara untuk saling membantu dan melindungi dalam menghadapi lawan dari kepentingan ekspansi pasar dan produksinya.

Pada 28 Juni 1914, Putra Mahkota Austria-Hongaria, Franz Ferdinand dibunuh oleh seorang nasionalis dari Serbia bernama Gavrilo Princip di Sarajevo, Bosnia-Herzegovina – saat itu menjadi bagian dari Austria-Hongaria – yang kemudian memicu terjadinya serangan Austria dibantu oleh Jerman terhadap Serbia. Yang kemudian menyeret negara-negara sekutu diantara kedua negara ambil bagian dari perang tersebut.

Perang Dunia I terbelah dalam dua blok besar, yaitu Blok Sentral yang terdiri dari Jerman, Austria-Hongaria, Turki, Bulgaria dan Italia (Jelang akhir perang dunia berbalik arah menjadi Blok Sekutu). Sementara Blok Sekutu diisi oleh Prancis, Rusia, Serbia, Belgia, Inggris. Amerika Serikat ikut serta setelah tujuh buah kapal dagangnya ditenggelamkan oleh kapal selam Jerman.

Jutaan orang meninggal dunia dalam perang yang berlangsung dari 1914 hingga 1919, dengan kemenangan Blok Sekutu. Berakhirnya Perang Dunia I ditandai dengan perjanjian damai dalam Konferensi Perdamian di Paris 1919, yaitu Perjanjian Versailles pada 28 Juni 1919. Jerman yang dianggap sebagai pemicu terjadinya perang dipaksa untuk bertanggung jawab atas kerugian perang yang diderita oleh negara-negara Sekutu. Selain juga diharuskan menyerahkan wilayah-wilayah Jerman pada negara lain dan pengkerdilan kekuatan militer Jerman.

Perjanjian Versailles juga menjadi titik awal tercetusnya rencana pendirian Liga Bangsa-Bangsa. Adalah Woodrow Wilson Presiden AS yang mencetuskan ide pembentukan Liga Bangsa-Bangsa – walau AS tidak ikut serta bergabung dalam LBB –. Lembaga tersebut didirkan dengan tujuan untuk melucuti senjata paskaperang, mencegah terjadinya perang melalui keamnan secara kolektif, menyelesaikan pertentangan anta negara dengan negosiasi dan diplomasi, serta memperbaiki kesejahteraan kehidupan masyarakat dunia.

Perjanjian Versailles dan International Labour Organization
Sebab dan Akibat dari Perang Dunia I telah memberi satu pelajaran penting tentang keadilan sosial yang menjadi masalah fundamental bagi terciptanya perdamaian dunia. Perang besar itu membutuhkan perlengkapan dan senjata yang begitu masif, sehingga negara-negara juga terus mendorong produktivitas dari industri-industri yang dibutuhkan untuk keperluan peperangan.

Produksi yang masif tersebut pada akhirnya memaksa para buruh di setiap pabrik untuk bekerja lebih keras dalam waktu yang lebih lama. Atau dengan kata lain, perang dan produksi kebutuhan peperangan telah mengeksploitasi buruh pada titik nadir. Belum lagi dampak-dampak perang lainnya bagi masyarakat sipil, seperti korban jiwa, pengungsian, atau juga kelaparan.

Dampak-dampak buruk dari perang inilah yang kemudian mendorong isi dari Perjanjian Versailles tidak hanya sekadar berisikan perjanjian damai dan pelucutan senjata, namun juga mendorong lahirnya badan-badan tingkat international yang salah satunya adalah berdirinya Internasional Labour Organization (ILO).

Pendirian ILO merupakan cermin dari satu keyakinan bahwa perdamaian dunia yang abadi hanya bisa dicapai jika didasarkan pada keadilan sosial. Kekuatan pendorong untuk penciptaan ILO muncul atas dasar keamanan, pertimbangan kemanusiaan, politik dan ekonomi. Juga eksploitasi buruh di negara-negara industrialisasi waktu itu, serta peningkatan pemahaman tentang saling ketergantungan ekonomi dunia dan perlunya kerjasama untuk memperoleh kesamaan kondisi kerja di negara-negara yang bersaing untuk pasar.

Dibentulah sebuah Komisi Perburuhan dalam Konferensi Perdamaian di Paris yang kemudian dilanjutkan di Versailles. Komisi Perburuhan dipimpin oleh Samuel Gompers, Kepala Federasi Amerika Tenaga Kerja (AFL), yang di dalamnya berisikan sembilan perwakilan negara, yaitu: Belgia, Kuba, Cekoslowakia, Perancis, Italia, Jepang, Polandia, Inggris dan Amerika Serikat.

Akibat dari munculnya kembali Perang Dunia II, LBB kemudian dibubarkan karena dianggap tidak mampu melaksanakan tujuannya, yaitu mewujudkan perdamaian dunia. Yang kemudian setelah Perang Dunia II usai pada 1946, LBB dibubarkan dan digantikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dimana ILO menjadi badan resmi PBB.

Pada masa Perang Dunia II, kisaran tahun 1944, para anggota ILO merumuskan Deklarasi Philadelphia, yang pada intinya menyatakan bahwa kaum buruh bukanlah sebuah komoditas dan menetapkan Hak Asasi Manusia (HAM) dan hak ekonomi berdasarkan prinsip yang menyatakan bahwa “Kemiskinan akan mengancam kesejahteraan dimana-mana”.

Usai Perang Dunia II, jumlah negara yang bergabung bersama ILO terus bertambah. ILO berhasil membawa perubahan bagi negara-negara anggotanya dengan meluncurkan program-program bantuan teknis untuk meningkatkan keahlian dan memberikan bantuan kepada pemerintah, pekerja dan pengusaha di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Di negara-negara seperti Polandia, Cile dan Afrika Selatan, bantuan ILO mengenai hak-hak serikat buruh berhasil membantu perjuangan mereka dalam memperoleh demokrasi dan kebebasan.

Hingga akhirnya pada peringatan hari jadinya yang ke-50 pada 1969, ILO menerima Hadiah Nobel Perdamaian atas jasanya sebagai lembaga yang memberikan sumbangan bagi perdamaian dunia dengan usahanya untuk memperbaiki hubungan sosial di seluruh dunia dan banyak memberikan bantuan tekhnik pada negara berkembang.

Jumlah negara anggota ILO saat ini sebanyak 181 negara. Sampai saat ini, ILO masih terus berupaya mendorong terciptanya peluang bagi perempuan dan laki-laki untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan produktif, secara bebas, adil, aman dan bermartabat.

Tujuan utama ILO adalah mempromosikan hak-hak di tempat kerja, mendorong terciptanya peluang kerja yang layak, meningkatkan perlindungan sosial, serta memperkuat dialog untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang terkait dengan dunia kerja.

ILO adalah satu-satunya badan Tree Partit PBB yang mengudang perwakilan pemerintah, pengusaha dan pekerja untuk bersama-sama menyusun kebijakan-kebijakan dan program-program lembaga. Lembaga ini melakukan kerjasama dengan 181 negara anggotanya, untuk memastikan bahwa standar-standar ketenagakerjaan ini dihormati baik secara prinsip maupun praktiknya.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Alfa Gumilang

Alfa Gumilang

Redaksi kabarburuh.com dan aktif di Komunitas Kretek.