Sidang APRM-ILO Ditutup Oleh Menaker dan Menghasilkan Deklarasi Bali

Nusa Dua – Sidang Asia Pacific Regional Meeting (APRM) – International Labour Organization (ILO), pada hari ini resmi ditutup oleh Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri. Sidang tersebut telah berlangsung selama 4 hari, dimulai pada tanggal 6 Desember sampai dengan 9 Desember 2016.

Selama berlangsungnya sidang APRM, para delegasi dan juga ILO, telah berhasil merumuskan satu deklarasi bersama yang diberi nama “The Bali Declaration” atau Deklarasi Bali. Deklarasi tersebut berisikan tentang kesimpulan, tantangan, dan berbagai langkah yang akan ditempuh oleh ILO, untuk menuju pertumbuhan yang inklusif di masa depan dengan pekerjaan yang layak.

Deklarasi tersebut berisikan 23 poin yang diantaranya adalah meralisasikan hak-hak fundamental dari pekerja, sesuai dengan konvensi ILO. Membangun berbagai kebijakan untuk penciptaan pekerjaan yang layak, juga upaya untuk merespon dampak dari perkembangan tekhnologi, inovasi untuk perusahaan dan pekerja.

Dalam pidato penutupannya, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menyampaikan rasa terima kasihnya, atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan kepada ILO, untuk Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan sidang yang dilakukan tiap 4 tahun sekali.

Menurut Hanif Dhakiri, Asia pasifik adalah kawasan yang sangat besar, memiliki keberagaman bahasa, budaya, karakteristik, lingkungan, iklim dan lain sebagainya. Namun keberagaman itu, menurutnya dapat disatukan dalam sebuah dialog.

Pertemuan tersebut juga dinilai sangat penting bagi para subjek tripartit, yaitu pengusaha, pemerintah dan pekerja. Dimana dalam APRM ke-16 ini, telah berhasil menelurkan Deklarasi Bali, yang nantinya akan sangat berguna untuk mengatasi berbagai persoalan dan ide-ide yang muncul selama berlangsungnya sidang APRM.

“Promosi dan aplikasi deklrasi MNE ILO ini bisa dibawa ke negara masing-masing, untuk terus mengkampanyekan dan mendorong terjadinya kerja yang layak di kawasan Asia Pasifik,” ujar Menteri Hanif.

Pada kesempatan itu, Menaker juga mengucapkan terima kasih kepada Direktur Jendera ILO, Guy Ryder, Direktur Regional, para panitia penyelenggara, dan seluruh peserta yang telah mencurahkan segala waktu dan pikirannya, sehingga menghasilkan satu pertemuan yang aktif dan produktif.

Sementar itu, Dirjen ILO Guy Ryder, yang juga menyampaikan pidato penutupan mengatakan bahwa tantangan kedepan adalah menjadikan kerja layak sebagai sebuah tujuan dengan melibatkan partisipasi aktif dari publik dan tercapainya pertumbuhan yang baik.

Deklrasi Bali menurutnya telah memberikan peta jalan yang berguna dan bagi para peserta sidang dan bagi subjek dari ILO. “Adopsi dokumen ini tidak akan serta merta merubah kehidupan orang di sini, saat ini. Namun mengaplikasikan dokumen ini, baru akan bisa merubah kehidupan, dan membuat 209 juta lapangan pekerjaan di kawasan ini, serta kerja yang layak bagi pekerja,” tutur Ryder.

Ia juga menyampaikan terima kasihnya kepada pemerintah Indonesia yang telah berhasil menjadi penyelenggara dan tuan rumah yang baik. “Apresiasi kepada pemerintah Indonesia untuk penyelenggaraan dan keramahtamahannya. Juga kepada seluruh peserta sidang atas kontribusinya dalam pertemuan APRM ini,” ujarnya.

Pada kesempatan itu pula, Guy Ryder juga menyampaikan duka, simpati dan solidaritasnya kepada korban bencana gempa yang terjadi di Aceh, saat penyelenggaraan sidang ini digelar.

Sidang APRM berikutnya akan digelar pada tahun 2020, setelah perayaan 100 tahun ILO. Pada saat penutupan tersebut, Guy Ryder juga memberikan kenang-kenangan kepada Menaker Hanif Dhakiri, sebuah palu yang digunakan selama penyelenggaraan sidang APRM-ILO. (gum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]