Penguasaan Tekhnologi Menjadi Tantangan Bagi Pencapaian Kerja Layak

Denpasar – Penguasaan tekhnologi oleh tenaga kerja, menjadi salah satu tantangan yang muncul dalam acara Asia Pacific Regional Meeting (APRM), yang diselenggarakan oleh International Labour Organization (ILO), di Nusa Dua Bali, 6-9 Desember 2016.

Hal tersebut muncul dalam sebuah diskusi panel yang menjadi salah satu sesi dalam APRM, pada hari kedua (7/12/2016). Dalam dialog yang bertajuk “Building a future of decent work ini asia and the pacific – Trends, challanges and policies for jobs creation and equality”.

Salah satu contoh yang muncul dalam diskusi tersebut adalah yang dialami di Negara India. Mr Gupti, salah satu pembicara diskusi dari India, mengatakan bahwa di India saat ini, akses internet telah mencapai ke pedesaan. Yang kemudian mendorong pemerintah India untuk menciptakan berbagai usaha baru, guna penciptaan lapangan pekerjaan yang lebih luas.

Namun demikian, tekhnologi yang berkembang dengan cepat saat ini juga menjadi tantangan yang penting untuk dihadapi. Sehingga pemerintah India tengah mendorong peningkatan kualitas pendidikan di pedesaan.

Kondisi seperti tersebut di atas, juga tak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh negara-negara lain di belahan Asia Pasifik, tak terkecuali di Indonesia.

Tanggapan lain juga muncul dan tergambar dari Ms Ali, yang menjadi penanggap ahli dalam diskusi tersebut. Data yang dipaparkannya menyebutkan bahwa di kawasan Asia Pasifik, paling tidak terdapat 1,2 miliar tenaga kerja dalam usia muda dan produktif. Dengan besarnya jumlah tenaga kerja, maka menurutnya pertumbuhan ekonomi menjadi hal yang penting.

“Secara teori, pertumbuhan ekonomi akan dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Walau dalam berbagai kasus di Negara Asia-Pacific, hal itu tak terjadi. Namun secara umum hal itu berkolerasi, seperti yang terjadi di Asia Timur, Asia Selatan dan juga Asia Tenggara,” paparnya.

Catatan yang diberikan oleh Ms. Ali adalah tenaga kerja yang memiliki kualitas dan pendidikan yang penting untuk disesuaikan dengan kebutuhan penyerapan tenaga kerja, atau dalam hal ini adalah kebutuhan tenaga kerja di industri.

Baginya, pendidikan merupakan hal yang fundamental, dalam membangun generasi muda. Selain juga skil yang mengikuti perkembangan tekhnologi, yang pada saat ini memang cukup akrab dengan generasi muda. Walau menurut catatannya, masih ada juga generasi produktif yang memiliki pendidikan bagus, namun skil dan kemampuannya tidak tepat dengan kebutuhan penyerapan tenaga kerja.

Selain tekhnologi, beberapa poin lain yang juga muncul dalam dialog selama dua jam untuk mencapai tujuan pekerjaan yang layak tersebut diantaranya adalah pentingnya penciptaan perusahaan yang memiliki keberlangsungan, meningkatkan lingkungan kerja yang kondusif.

Isu pekerja informal dan usaha kecil menengah tak luput menjadi perhatian, karena jumlahnya di wilayah Asia-Pacific cukup besar, namun belum mendapatkan perhatian yang serius dalam hal perlindungan sosial, yang selama ini hanya dapat dilakukan oleh perusahaan besar.

Forum APRM tersebut juga mendapatkan pekerjaan rumah, untuk dapat mencarikan solusi bagi mereka yang bekerja di sektor informal maupun di usaha kecil menengah, untuk dapat memenuhi upaya pencapaian kerja layak. (gum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]