Hasan Tole, Buruh Harian Lepas Yang Menjadi Pekerja Tetap Karena Perjuangan Serikat Buruh

Nama saya Hasan Basri. Tapi teman-teman saya, biasa memanggil saya Tole. Tole adalah sebutan bagi saya, karena saya orang yang paling kecil di keluarga. Bukan dari sebuah keluarga yang berada dan berkecukupan, sehingga sejak kecil saya sudah mulai bekerja, membantu bapak saya.

Sekolah saya hanya sampai SMP, lulus pada tahun 1993. Terpaksa saya tak melanjutkan sekolah, karena bapak saya butuh temen kerja. Sehingga saya putuskan untuk ikut bekerja dengan bapak, menjadi pekerja bangunan. Pekerjaan yang saya tekuni sampai 12 tahun lamanya.

Nursari, adalah nama istri saya. Seorang buruh pabrik di PT. SJE Global, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang bordir. Sejak ia hamil pertama, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan untuk mengurus rumah tanggal. Dan kini, kami telah dianugerahi dua buah hati.

Sampai akhirnya saya mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik yang berada di Karawang, Jawa Barat. Berbekal KTP dan saudara yang telah bekerja di situ, saya diterima dan mulai bekerja pada hari Senin, 3 Oktober 2005 di PT. Siamindo Concrete Products.

Pabrik tersebut memproduksi bahan bangunan, berupa atap rumah (asbes) pengganti genteng. Saya ditempatkan di bagian electric maintenance. Pekerjaan yang saya geluti hingga sekarang, kurang lebih 11 tahun sudah bekerja untuk perusahaan tersebut.

Kondisi Kerja dan Serikat Buruh

Dalam keseharian kerja menyangkut soal upah kerja, saya diupah setiap minggu. Pada hari Rabu, saya mendapatkan upah sebesar Rp. 161.100/per minggu. Jika dihitung per hari, kira-kira upah saya hanya sebesar Rp. 26.850.

Upah yang hanya sebesar itu, jangankan untuk kebutuhan hidup secara umum, jika dihitung-hitung untuk biaya transportasi saja gak cukup. Sehingga sering kali saya suka ngelembur, minimal 2 jam setiap harinya.

Dengan status kerja sebagai daily worker, atau buruh harian lepas, tak banyak fasilitas yang saya dapatkan. Sebut saja soal keamanan kerja. Tak ada pembagian yang namanya fasilitas keamanan untuk bekerja, seperti sepatu safety, sarung tangan, masker, seragam kerja, dan lain sebagainya. Bahkan jika saya sakit pun, saya harus mengeluarkan biaya sendiri untuk berobat.

Saat pertama bekerja, saya tak ada yang namanya serikat buruh. Walau lambat-laun, saya mendengar ada serikat buruh di perusahaan, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang saya dengar.

Hingga pada sekitar awal bulan Desember 2012, saya bergabung dengan sebuah serikat buruh kerakyaran (Serbuk). Saat itu rekan sekerja saya, Pak Wanta dan Pak Saeful yang mengajak saja untuk bergabung membangun serikat buruh. Mereka berdua adalah motor dari rencana pembangunan serikat buruh, yang bertujuan untuk membawa perubahan pada kondisi kerja.

Ada respon yang menarik dari salah serorang manajemen perusahaan yang sifatnya arogan. Ia mengatakan akan keluar dari perusahaan jika ada serikat buruh di perusahaan tersebut. Dan itu adalah pengalaman yang berharga bagi saya, karena pada akhirnya serikat buruh terbentuk dan si manajemen yang arogan keluar dari perusahaan.

Selang beberapa minggu, tepatnya pada tanggal 13 Desember 2012, terjadilah sebuah aksi mogok kerja di PT Siamindo. Mogok kerja tersebut terjadi karena ada rekan kami, Pak Hadar yang bekerja di bagian Porklip, diputus hubungankerjanya oleh perusahaan, dengan alasan karena menjatuhkan alas asbes. Aksi mogok kerja tersebut kemudian membawa hasil yang positif, Pak Hadar dipekerjakan kembali.

Pada 23 Februari 2013, untuk kedua kalinya kami melakukan mogok kerja. Tuntutan kali ini lebih luas, menyangkut hak para buruh harian lepas, menyangkut hak saya dan nasib saya di perusahaan. Tuntutannya adalah pengangkatan buruh harian lepas menjadi pekerja tetap, tanpa terkecuali. Juga pemberian fasilitas kepada kami, yang selama ini tak didapatkan.

Selama bekerja lebih dari 7 tahun sebagai buruh harian lepas, akhirnya saya menjadi pekerja tetap dari hasil perjuangan dari serikat dan kekompakan dari kawan-kawan buruh. Hak yang mungkin tak akan saya dapatkan, jika saja tak ada serikat buruh yang mau membantu kami memperjuangkan hak-hak kami, buruh harian lepas.

Inti dari apa yang saya ceritakan adalah tentang melawan ketidakadilan dan perjuangan untuk hak-hak kita sebagai buruh. Jika apa yang kita rasakan sebagai buruh, ketidakadilan dan hak-hak kita yang tak diberikan, maka sudah selayaknya hal itu harus kita perjuangkan. Dan dengan bergabung dengan serikat buruhlah, kita bisa memperjuangkan hak-hak kita.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Hasan Tole

Hasan Tole

Penggemar grup band Slank. Aktif di Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) Indonesia dan tinggal di Karawang, Jawa Barat.