Serbuk Indonesia Akan Pelopori Advokasi atas Kondisi K3 di Indonesia

Sabtu, 5 November 2016 di pelataran sekretariat Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) Indonesia, kami berdiskusi panjang mengenai asbestos. Ada banyak kawan yang hadir dalam diskusi pagi itu. Paling banyak yang hadir adalah anggota Serbuk Indonesia PT. Siamindo Concrete Products (SICP). Beberapa SBA Serbuk Indonesia juga hadir.

Hari itu, kami kedatangan beberapa tamu dari beberapa serikat dan lembaga di Kamboja, Malaysia, Jepang, Vietnam dan Australia.

Sesudah saling berkenalan, Kirman sebagai ketua Serbuk Siamindo menceritakan bagaimana kondisi serikat yang dipimpinnya. Kirman menceritakan bagaimana Serbuk Siamindo menjalankan aktivitasnya pasca pergantian pengurus yang sudah berlangsung selama setahun. Selain diskusi rutin dan pendidikan tematik terkait dengan hak normatif ketenagakerjaan, Serbuk Siamindo menjalankan advokasi untuk anggotanya.

Iuran anggota sebesar 1% dari upah yang dipungut langsung dari anggota, merupakan sumber pendanaan utama dalam menjalankan serikat. Dari sekian banyak program yang sudah dilaksanakan, Kirman menjelaskan bahwa dalam masa kepengurusannya ditargetkan bisa menyelesaikan perundingan PKB. Sebab melalui perundingan PKB, serikat berkesempatan untuk menuntut perubahan kondisi kerja yang lebih baik.

Kesempatan berikutnya, Tubagus Saeful Sadat, memberikan beberapa cerita terkait dengan sejarah pembentukan serikat di Siamindo. Saeful, adalah mantan ketua Serbuk Siamindo periode sebelumnya.

Dalam penuturannya, Saeful mengatakan bahwa Serbuk Siamindo awalnya diinisiasi oleh 20 orang buruh harian. Buruh harian, adalah mereka yang bekerja di PT. Siamindo tetapi tidak memiliki kontrak kerja dengan perusahaan, dan mendapatkan upah harian. Mereka, tidak berhak mendapatkan upah sesuai UMK, fasilitas kesehatan, bonus tahunan, fasilitas K3, THR, cuti tahunan dan seragam kerja. Serbuk Siamindo dibentuk pada tanggal 9 Desember 2012.

Tiga hari sesudah serikat terbentuk, Hadar salah seorang inisator pembentukan serikat, di PHK oleh perusahaan. Hadar dipecat karena mengalami kecelakaan ketika mengendarai forklift yang mengakibatkan tumpukan atas asbes rusak.

Kabar pemecatan Hadar, menimbulkan solidaritas dari para buruh. Menjelang pulang kerja, para buruh melakukan aksi unjuk rasa dan memblokir pintu gerbang perusahaan sehingga aktivitas perusahaan terhenti. Dari hasil negosiasi, Hadar dipekerjakan kembali.

Sesudah Saeful mengumumkan hasil perundingan, para buruh menyambut gembira hasil tersebut dan malam itu, sebanyak 200 orang menyatakan bergabung dengan Serbuk Siamindo. Dan tiga bulan berikutnya, melalui sebuah pemogokan, Serbuk Siamindo berhasil memperjuangkan 206 buruh harian menjadi PKWTT dan perusahaan memenuhi semua hak yang selama ini tidak diberikan.

Pada kesempatan berikutnya, giliran Sekjen Serbuk Indonesia, Subono berbagi cerita mengenai pengalamannya bersinggungan dengan kampanye asbestos sebagai bahan berbahaya. Bono menceritakan, awalnya dia dan semua kawannya tidak mengetahui bahwa asbes merupakan bahan berbahaya yang bisa menyebabkan berbagai penyakit. Perusahaan mengatakan bahwa bahan baku yang digunakan adalah aman.

Sesudah berdiskusi dengan beberapa kawan jaringan yang fokus mengkampanyekan bahaya asbestos Bono akhirnya mengetahui bahwa asbestos adalah bahan berbahaya. LION Indonesia –jaringan yang fokus dalam issu K3 — kemudian menyusun agenda rutin dengan anggota Serbuk Siamindo.

Bono menceritakan bahwa dia dan kawan-kawan Serbuk Siamindo tidak berjuang untuk membuat pabrik tutup, tetapi berjuang mendesak agar perusahaan mengganti bahan baku dengan material yang lebih aman.

Kate Lee, perwakilan Apheda Australia yang hadir dalam diskusi memberikan apresiasi atas perjuangan Serbuk Siamindo. Kate menjelaskan bahwa peran Saeful sebagai pendiri serikat merupakan awal yang luar biasa, sebab apa yang kita lakukan hari ini, tak lepas dari keberanian kawan-kawan dalam membentuk serikat buruh. Serikat buruh, merupakan alat perjuangan bagi buruh untuk mengubah kondisi kerja menjadi lebih baik.

Sementara Brad Parker, pengurus Serikat Buruh Konstruksi Australian (CFMEU) menilai, bahwa keberanian kawan-kawan dalam berjuang merupakan modal utama yang harus terus dibangun. Brad menekankan sebuah slogan, “Mereka yang berani berjuang saja yang akan menggapai kemenangan”.

Dalam penjelasannya¸ Brad menceritakan mengenai keberhasilan gerakan buruh dan masyarakat di Australia yang berhasil menghentikan penggunaan asbestos dalam berbagai industri di Australia. Seperti diketahui, selain digunakan sebagai bahan baku pembuatan atap asbes, asbestos juga banyak ditemui dalam industri kampas rem mobil, peralatan elektonika, alat-alat listrik dan juga crayon gambar anak-anak.

Riki Hermawan selaku Ketua Umum Serbuk Indonesia, dalam kesempatan terpisah menyatakan bahwa Serbuk Indonesia akan mempelopori sebuah langkah advokasi atas kondisi K3 yang semakin buruk. Kasus Asbestos akan menjadi pintu masuk dalam kampanye K3. Dalam waktu dekat, Serbuk Indonesia merencanakan sebuah workshop bersama beberapa lembaga hukum dan jaringan media, untuk menyusun rencana jangka panjang atas kampanye K3 di Indonesia.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Khamid Istakhori

Khamid Istakhori

Aktif di Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) Indonesia, yang berafiliasi di Konfederasi Perjuangan Buruh Indonesia (KPBI). Departemen Pengembangan Organisasi, DEN KPBI.