Sejak Ada Serikat, Awak Mobil Tangki Banyak Dibela Haknya

Mogok kerja para awak mobil tangki Pertamina PT Patra Niaga yang dimulai sejak kemarin (1/11/2016), masih berlangsung hingga saat ini. Bahkan sedianya akan melakukan mogok hingga satu minggu ke depan. Pasalnya pihak perusahaan hingga saat ini tak kunjung memberikan respon atas mogok kerja tersebut.

Para awak mobil tangki (sopir dan kenek), yang melakukan mogok kerja tergabung dalam Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI). Mereka berdiri sejak tahun 2007, dan hingga kini, tercatat sekitar 950 awak mobil tangki yang bergabung dalam serikat itu.

Menurut Ilhamsyah, Ketua FBTPI, orang yang bekerja di depo Pertamina tersebut sekitar 1.000 lebih. “Jadi sebenarnya jumlah buruh yang bergabung dalam serikat, mayoritas. Memang hari ini gak semua berkumpul di sini, karena banyak yang tinggal di Bogor dan Sukabumi. Baru besok mereka akan datang ke sini,” ujarnya dalam obrolan ringan dengan reporter Kabar Buruh.

Ya, memang, jumlah orang yang datang dalam aksi mogok kemarin memang tak mencapai 1.000 orang, berkisar 600-an orang saja. Namun pada aksi mogok hari kedua, jumlah mereka nampak lebih banyak dari kemarin. Seperti yang disampaikan Ilhamsyah, mereka yang tinggal di Sukabumi dan Bogor turut hadir.

Depo Pertamina Plumpang – Jakarta Utara, memang merupakan distributor utama BBM ke SPBU yang berada di kisaran Jabodetabek dan Sukabumi.

Informasi dari Ilhamsyah, selama mogok ini pihak perusahaan telah menyiapkan sekitar 200 orang untuk menggantikan peran para awak mobil tangki untuk mendistribusikan BBM. Jumlah tersebut tentu tak cukup menggantikan 1.000-an awak mobil tangki yang mogok. Tak heran jika di hari pertama kemarin, dikabarkan bahwa Pertamina hanya mampu mendistribusikan sekitar 30% sampai 40% BBM di berbagai SPBU.

Tak hanya menggantikan dengan tenaga kerja lain, pihak perusahaan juga dikabarkan menyiapkan pihak militer untuk mengawal distribusi BBM tersebut. Menurut aturan, pihak perusahaan tak boleh menggantikan tenaga kerja jika ada mogok kerja. Namun dengan dalih lokasi tersebut adalah objek vital Negara, maka mereka boleh melakukan itu. Tak heran jika kemudian militer juga ikut dilibatkan dalam penanganan kasus hubungan industrial tersebut.

“Mungkin hari pertama mereka masih belum terasa akibat mogok ini, karena mungkin di SPBU masih ada stok. Tapi nanti setelah beberapa hari, akan terlihat bagaimana pasokan BBM akan terganggu,” ujar Ilhamsyah.

Namun bukan itu tujuan mereka melakukan mogok kerja, bukan untuk mengganggu distribusi BBM. Mereka melakukan mogok kerja karena berbagai hak-hak normatifnya tak terpenuhi oleh perusahaan. Dan dua kali perundingan yang dilakukan tak membuahkan hasil, maka bagi mereka tak ada jalan lain selain menggunakan hak yang melekat pada buruh, mogok kerja.

Sebut saja masalah jam kerja yang melebihi 8 jam lamanya. Mereka bisa bekerja lebih dari 12 jam kerja, namun kelebihan jam kerja tersebut tak pernah dihitung sebagai kerja lembur. Konsekwensinya, mereka tentu tak mendapatkan upah lembur.

“Kadang di waktu tertentu, kita malah kerja 24 jam lamanya. Misalnya kalau lagi Lebaran. Kita distribusi ke jalur-jalur mudik, dan bisa bekerja sampai 24 jam sehari,” ujar Rojad, salah seorang sopir yang ikut serta dalam mogok kerja.

Rojad sebelum bekerja di Pertamina PT Patra Niaga, ia bekerja di PT Elnusa, sebelum kemudian seluruh perusahaan distributor diambil alih oleh Patra Niaga. Jika diperbandingkan, Rojad mengaku merasa lebih baik kondisinya saat bekerja di bawah PT Elnusa, ketimbang kerja yang dia rasakan saat ini.

“Dulu upahnya lebih baik, bahkan ketika keluar dan pindah kerja, kita dapat juga pesangon. Kalau sekarang, ada orang yang keluar kerja, dikeluarkan, atau dihentikan kontraknya, gak akan dapat apa-apa,” sambungnya bercerita.

Namun menurutnya, sejak hadirnya serikat di perusahaan, para sopir dan awak mobil tangki merasa lebih baik. “Sejak ada serikat, kita sering dibelain. Kalau ada kecelakaan mobil, biasanya orang langsung dipecat. Sekarang gak pasti dipecat, karena serikat ngebelain kita. Kecelakaan kan bukan semata faktor sopirnya. Gimana ya, kita capek juga kan kan karena jam kerja yang banyak,” selorohnya.

Rojad sendiri pernah mengalami kecelakaan kerja saat sedang mengisi gas di sebuah SPBU di daerah Tendean, Jakarta Selatan. Saat sedang mengisi gas, api sempat menyambar dari warung yang tak jauh dari lokasi SPBU. Ia merasa beruntung karena tak sampai vatal, karena bergegas ia tutup keran gas di mobil tangki.

Persoalan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), adalah hal lain yang menjadi tuntutan dari para awak mobil tangki. Tugas dan kerja mereka penuh dengan resiko, namun mereka merasa tak mendapatkan perlindungan yang baik. Jika lelah bekerja karena kelebihan jam kerja, maka hal itu dapat memicu kecelakaan kerja. Banyak rekan-rekan kerjanya yang meninggal karena kecelakaan kerja.

Nuratmo, Ketua Komisariat Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI), yang akan memimpin pemogokan menjelaskan bahwa dalam setahun saja, 4 kawannya sudah tewas. Dengan rincian, 2 terpanggang api ketika tangki meledak dan terbakar sesudah mobilnya terjun ke jurang, 2 lainnya juga tewas karena terjun ke jurang pada April 2016.

Para awak mobil tangki bukan baru kemarin sore bekerja, mereka rata-rata telah bekerja 5 tahun lebih, bahkan mayoritas telah bekerja selama belasan tahun. Sialnya, mereka setiap tahun masih saja menandatangani kontrak kerja. Tak kunjung mereka menjadi pegawai tetap, mendapatkan kepastian kerja. Dan ini adalah masalah lain yang juga menjadi suara para awak mobil, sehingga mereka melakukan mogok kerja.

Para awak mobil tangki berharap masalah-masalah hak normatif buruh yang mereka alami belasan tahun dapat diselesaikan perusahaan. Mengingat PT Patra Niaga bukanlah perusahaan kelas teri yang tak sanggup membayarkan hak para buruh. Dalih karena mendapatkan kerja borongan dari Pertamina untuk mendistribusikan BBM, harusnya bisa secara transparan disampaikan ke para awak mobil.

Tugas mereka berat, resiko besar. Begitu juga dengan perusahaan mereka yang besar, namun sekadar memenuhi hak normatif para buruhnya, begitu sulit. Lihat para pejabat Pertamina atau stafnya yang berkecukupan, bahkan mungkin berlebihan. Selayaknya juga para sopir mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapat dari setiap kerja kerasnya.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Alfa Gumilang

Alfa Gumilang

Redaksi kabarburuh.com dan aktif di Komunitas Kretek.