Mogok Kerja Awak Mobil Tangki Pertamina, Nyawamu Sudah Kami Bayar Lunas

Membaca judul tulisan ini, mungkin anda akan terhenyak, menganggap tulisan ini kasar dan tidak berperasaan. Ketika awal membaca judulnya, memang sah saja kesimpulan itu.

Pada 7 Oktober 2016 yang lalu, dalam pembukaan Kongres II Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) Indonesia, dimulai dengan seminar tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Saya memulai acara dengan mengajak semua peserta berdiri dan mengheningkan cipta selama 60 detik, untuk mengenang korban K3 yang jumlahnya sudah terlalu banyak.

Berapa? Secara pasti memang tidak ada datanya, tapi tetap saja saya mengatakan sudah terlalu banyak, sebab, 1 nyawa yang hilang akibat kecelakaan kerja, tak akan bisa digantikan bahkan dengan menjual seluruh asset perusahaan tempatnya bekerja.

Itulah sebabnya, satu nyawa saja hilang, sudah terlalu banyak. Ini sebuah momentum yang miris, sebab kita tahu, mereka yang berangkat kerja tak lagi kembali ke rumah.

Saya terkejut, berhenti bicara dalam momentum itu, sebab 3 hari sebelum Kongres Serbuk Indonesia, kami baru saja mendapati kabar bahwa 3 anggota kami di PT BMJ mengalami kecelakaan kerja. Anggota badannya terbakar oleh sengatan uap yang panas. Dirawat di rumah sakit dan ketika Kongres tengah berlangsung, kami mendapatkan update per detik kondisinya di ruang perawatan.

Apolinar Tolentino (BWI Asia Pasifik) sebagai pembicara kunci dalam seminar itu, memperkenalkan slogan Stand Up, Speak Up Come Home. Secara harfiah, dapat dijelaskan Berdirilah, bicaralah dan pulang ke rumah. Ini, sungguh slogan yang mendalam sebab berbasis pada sudut pandang buruh.

Pemberdayaan diri mereka dalam perjuangan K3 di tempat kerja. Mengajak mereka berdiri memperbaiki kondisi kerjanya, berbicara menyuarakan tuntutannya dan pada giliran akhirnya mereka pulang ke rumah menandakan tempat kerja mereka aman, tak ada kecelakaan kerja.

Apolinar kemudian menjelaskan bahwa berbicara K3, harusnya memikirkan mereka yang sudah lebih dulu pergi tak kembali. Buruh Konstruksi, menyumbang korban terbesar hingga 30% total buruh yang mati. Jenis kecelakaannya beraneka rupa seperti kesetrum, terbakar, kejatuhan benda keras dari ketinggian, jatuh dari ketinggian, terperosok dalam lubang dan lain-lain.

Seminar K3 waktu itu, sebenarnya berjalan dengan penuh gairah sebab peserta yang berjumlah tak kurang 125 orang itu menunggu setiap data yang terungkap dari para pembicara. Tapi – sekali lagi tapi — sebagai moderator saya merasa penting untuk menutup seminar, tanpa sessi tanya jawab. Sebab amarah saya pada pembicara dari Kementrian Ketenagakerjaan yang seolah tak peka atas situasi ini.

Dia, justru berbicara yang tak jelas juntrungannya mengenai keharusan persyaratan sarjana untuk menjadi ahli K3, keharusan berpendidikan akademik yang memadai, dan hal lainnya yang melukai kami, buruh pabrik ini. Bukan masalah pendidikan yang kami kritik, tetapi memandang rendah kami buruh pabrik ketika berbicara K3, sungguh tidak masuk di akal kami!

Sembilan belas hari sesudah seminar itu, kami di Konfederasi Perjuangan Buruh Indonesia (KPBI), disibukkan dengan persiapan mogok kerja buruh Pertamina yang tergabung dalam Awak Mobil Tangki (AMT). Mereka, adalah buruh paling inti dari proses distribusi BBM keseluruh SPBU di Jabodetabek dan Sukabumi.

Tuntutannya tentang perubahan status outsourcing menjadi buruh permanen. Status ini penting sebab, dari status inilah kemudian nasib mereka dibedakan dengan buruh organik yang biasa disebut karyawan tetap di Pertamina. Bahkan, dalan penjelasannya melalui prees release, Arsono Kuswardanu, selaku Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga (PPN) menyatakan bahwa perusahaannya tidak memiliki hubungan kerja langsung dengan Awak Mobil Tangki (AMT).

Sebab mereka bekerja berdasarkan sistem borongan dengan masa kontrak dua tahun, setiap putus kontrak sudah dibayarkan pesangonnya. Sementara upahnya dibayar berdasarkan UMK setempat dimana mereka para AMT beroperasi.

Nah, pernyataan ini menegaskan ungkapan saya dalam judul diatas, bahwa kami sudah membayar kalian para sopir dengan harga yang sudah disepakati dengan vendor (saat ini vendor bernama PT. Sapta Sarana Sejahtera). Kami sudah membayar lunas semuanya. Harga nyawamu, sudah kami bayar lunas. Demikian kira-kira maknanya.

Selain pemogokan dimaksudkan untuk menuntut status hubungan kerja, para sopir juga mempermasalahkan keselamatan kerja mereka. Ini memang tidak lazim dilakukan, sebab selama ini dalam pemogokannya, para buruh boleh dibilang lebih sering fokus pada masalah status, upah, PHK, dan isu-isu umum lainnya.

Sangat jarang yang mulai membangun kesadarannya dengan menjadikan K3 sebagai tuntutan dalam aksi ataupun mogok. Para sopir, merasakan nyawa mereka sangat terancam dengan model kerja yang melanggar ketentuan tersebut. Jam kerja panjang karena mereka harus bekerja 12 jam sehari. Buruh manufaktur yang bekerja dengan duduk atau berdiri di depan mesin saja mengalami kelelahan yang luar biasa, apalagi para sopir ini 12 jam bekerja dibelakang kemudi. Bersabung nyawa di jalanan Ibu Kota.

Nuratmo, Ketua Komisariat Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI), yang akan memimpin pemogokan menjelaskan bahwa dalam setahun saja, 4 kawannya sudah tewas. Dengan rincian, 2 terpanggang api ketika tangki meledak dan terbakar sesudah mobilnya terjun ke jurang, 2 lainnya juga tewas karena terjun ke jurang pada April 2016.

Maka, pemogokan juga dimaksudkan untuk menuntut perusahaan menjalankan sistem K3 yang melindungi mereka. Selain ancaman kematian karena kecelakaan kerja, mereka juga mengalami ancaman penyakit jantung, sebab uap BBM yang mereka hirup akan menjadi pemicu penyakit jantung. Biasanya sesudah bekerja 4-5 tahun, gejala sudah mulai terasa.

Selain berakibat kelelahan, jam kerja yang panjang juga mereka protes sebab Pertamina tidak menjadikan itu sebagai kerja lembur. Sehingga meskipun bekerja melebihi ketentuan jam kerja 8 jam, perusahaan tidak membayarkan upah lemburnya. “Perhitungannya, perusahaan berhutang pada kami sebesar 160 miliar akibat jam lembur yang tidak mereka bayar, “ Kata Nuratmo.

Pertaruhan, pertarungan perlawanan, pergulatan ini akan semakin keras sebagaimana disampaikan Ilhamsyah, Ketua Umum KPBI, sebab perusahaan sejatinya melanggar ketentuan undang-undang. Sesuai dengan UU 13 tahun 2003 pasal 59 dan rekomendasi Panitia Kerja Komisi IX DPR RI, seharusnya seluruh BUMN mengangkat buruh outsourcing menjadi permanen. Tapi ini, Pertamina perusahaan milik negara justru menjadi pelopor dalam melanggar hukum negara.

Nanti, 1 November 2016 buruh akan mogok kerja. Dipastikan pasokan BBM ke seluruh SPBU di Jabodetabek akan lumpuh. Itu artinya akan lahir kekacauan sistematik, sebab BBM adalah kunci dari pergerakan masyarakat. Ini, rasanya harga yang pas untuk memberikan pelajaran kepada perusahaan negara yang abai, dan pemerintah yang hanya berbicara tentang “kerja, kerja kerja”, tapi lalai membayar buruh yang telah bekerja dengan upah yang layak!

Mogoklah! Agar Negara ini berhenti, seolah menjadi Negeri hantu.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Khamid Istakhori

Khamid Istakhori

Aktif di Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) Indonesia, yang berafiliasi di Konfederasi Perjuangan Buruh Indonesia (KPBI). Departemen Pengembangan Organisasi, DEN KPBI.