Tuntut Status PKWTT, Buruh PT Sawita Indah Perkasa Mogok Kerja

Dunia ketenagakerjaan Indonesia kembali disibukan dengan kasus hubungan industrial antara pengusaha dan buruh. Kali ini kasus perburuhan terjadi di Bandar Pasir Mandoge, Asahan – Sumatera Utara.

Para buruh yang bekerja di PT Sawita Indah Perkasa masih mempekerjakan buruhnya dengan status kerja kontrak, atau Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Perusahaan yang bergerak dibidang pengelolaan kelapa sawit itu, mepekerjakan buruh dengan status kontrak untuk jenis pekerjaan yang termasuk inti kerja.

Menurut Tomy Peden, salah seorang pengurus pusat dari Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), yang merupakan induk dari serikat buruh yang ada di perusahaan tersebut, berbagai kasus yang dialami para buruh pada akhirnya direspon dengan cara mogok kerja sejak tanggal 29 September 2016.

Para buruh yang bekerja di PT Sawita Indah Perkasa mulanya membentuk serikat buruh, yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak dari para buruh, yang menurut mereka banyak melanggar ketentuan perundang-undangan. Pencatatan serikat tersebut diterbitkan pada bulan Agustus 2016 oleh Disnaker Kabupaten Asahan, dengan nama serikat FPBI PTP SIP.

Kantor cabang PT SIP merespon dengan menngeluarkan surat penolakan terhadap berdirinya FPBI PTP PT SIP yang dikirimkan ke Disnaker. “Isi surat penolakan tersebut menyatakan hanya satu organisasi buruh yang diakui oleh management PT SIP,” ujar Peden.

Setelah keluarnya bukti nomor pencatatan FPBI PTP PT SIP pengurus mengirimkan surat pemberitahuan dan susunan pengurus PTP PT SIP ke management. Namun surat pemberitahuan tersebut ditolak (surat tidak diterima).

Satu minggu kemudian, FPBI mengajukan surat bipartit terkait status buruh yang masih PKWT. Namun sampai tiga kali permohonan bipartit tersebut juga tidak diterima oleh perusahaan. Kasus lain kemudian berlanjut, dengan adanya pemberian skorsing terhadap 3 orang anggota yang di tuding melakukan kesalahan yang tidak dapat dibuktikan oleh management.

Akumulai berbagai persoalan inilah yang akhirnya membuat serikat buruh mengambil keputusan untuk melakukan mogok kerja. “Dalam agenda ini, juga ikut berkonsolidasi dengan SPSI. Disepakati bahwa mogok akan dilakukan oleh seluruh buruh,” jelasnya.

Menurut Peden, masyarakat setempat juga memberikan dukungan terhadap aksi para buruh, sebab masyarakat merasa terganggu dengan limbah perusahaan. “Limbah perusahaan menyebabkan ternak masyarakat mati, karena air limbah yang dialirkan ke sungai, dan asap pengolahan pabrik yang masuk ke rumah warga,” sambungnya.

Sampai tulisan ini diturunkan, pada hari ini tanggal 3 Oktober 2016, pihak serikat buruh dan perusahaan, dikabarkan sedang melakukan perundingan lanjutan. (gum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]