Reposisi Gerakan Sarbumusi NU dalam Politik Perburuhan Nasional dan Internasional

Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) merupakan Badan Otonom Nahdlatul Ulama (NU), yang menangani persoalan perburuhan. Berdiri 27 September 1955, di pabrik gula Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Pada masa jayanya, Sarbumusi beranggotakan mencapai 2 juta orang, dan menjadi pesaing kuat Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), organisasi buruh milik Partai Komunis Indonesia (PKI) ketika itu.

Presiden Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Nahdlatul Ulama (DPP K Sarbumusi NU), Syaiful Bahri Anshori, di Jakarta, Selasa (27/9/2016), menegaskan bahwa Sarbumusi haru menjadi serikat buruh yang representatif, bebas, independen dan rahmatan lil-alamin, untuk mewujudkan hubungan industrial yang harmonis dan berkeadilan.

Itu merupakan bagian dari visi organisasi dipimpinnya. “Sarbumusi selalu mendorong terciptanya hubungan industrial yang kondusif, dan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku di negara Indonesia ini,” ujar Syaiful didampingi Sekretaris Jenderal Eko Darwanto.

Menurutnya, korporasi asing, demikian Syaiful menambahkan, salah satu tantangan besar dihadapi buruh di Indonesia. “Saya sebut demikian karena selama ini permasalahan buruh banyak terjadi di lingkungan korporasi asing, terutama terkait Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak. Sebagai contoh, PHK massal dilakukan PT Chevron Pasific Indonesia, di Riau. Itu merupakan satu dari sepuluh kasus perburuhan yang kami tangani,” imbuhnya.

Komitmen mendukung kesejahteraan buruh selalu diupayakan Sarbumusi. Ketua DPW Sarbumusi Jawa Barat Wari Maulana pada Senin (15/6/2015), pernah menyerukan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, yang berasal dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk mundur.

Termasuk juga menyerukan untuk membubarkan BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia), yang saat ini dipimpin Nusron Wahid, mantan Ketua Umum PP Gerakan Pemuda Ansor. Seruan tersebut terkait pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Asia Pasifik oleh pemerintah.

“Kekuatan Sarbumusi tidak hanya terletak pada historis organisasinya saja, tapi dalam tata kelola dan profesionalisme kerja, sebagai organisasi buruh. Sarbumusi secara rutin dan berkesinambungan melakukan penguatan peran dan posisi buruh. Termasuk pembelaan dan advokasi perselisihan hubungan industrial, pendampingan dalam pembuatan perjanjian kerja bersama, advokasi serta mendorong regulasi ketenagakerjaan yang memberikan keadilan dan kesejahteraaan buruh,” kata Syaiful lagi.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, pada Jumat (23/9/2016) lalu, mengukuhkan Pengurus DPP K Sarbumusi NU masa khdimat 2016-2021, di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat. “Sarbumusi harus terus melakukan harakah (gerakan) untuk mengangkat harkat dan martabat kaum buruh NU khususnya, Indonesia umumnya,” ujarnya.

Kiai Said menambahkan, problem perburuhan sekarang lebih rumit dan kompleks. “Banyak kezaliman dewasa ini, tidak hanya pada perburuhan, namun juga kezaliman ekonomi, contohnya penguasaan bidang-bidang yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Nabi Besar Muhammad SAW telah mengingatkan, kekayaan alam tidak bisa dimonopoli. Pasal 33 UUD ‘45, sesuai dengan apa yang disampaikan Rasulullah,” kata Kiai Said.

Perintis Sarbumusi, Nursam Latif, meminta pengurus organisasi buruh NU dalam melakukan harakah (gerakan), hendaknya selalu berpegang pada kitab suci Al-Qur’an. “Bergabung dengan Sarbumusi ketika itu banyak tantangannya, salah satu dari organisasi buruh underbow Partai Komunis Indonesia (PKI) yaitu Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Tapi Alhamdulillah, ada solusinya,” ujarnya.

Sesepuh Sarbumusi kelahiran Jawa Timur itu menegaskan Al-Qur’an adalah obat yang ampuh bagi permasalahan. Karena itu menyerukan, generasi penerus NU dan Sarbumusi jangan lupa membaca Al-Qur’an setiap hari, satu dua surat.

Country Office for Indonesia and Timor Leste International Labour Organization, Irham Ali Saifudin menambahkan, Sarbumusi merupakan salah satu dari sedikit gerakan buruh tua yang berhasil bangkit kembali setelah represi Orde Baru.

“Kedepan, Konfederasi Sarbumusi NU harus merebut kembali medan juangnya, tidak hanya untuk kaum Nahdliyin dan muslimin, tetapi juga untuk kelas buruh di dunia, melalui afiliasi dan jejaring gerakan buruh global,” kata Irham.

Sembilan program kerja utama DPP K Sarbumusi NU saat ini adalah, menjadikan K-Sarbumusi NU sebagai serikat buruh nomor dua dalam keanggotaan dan berafilisi secara internasional. Melakukan advokasi penguatan hukum, perlindungan dan pembelaan. Melakukan pemberdayaan terhadap buruh perempuan, melakukan konsolidasi dan revitalisasi organisasi.

Melakukan pengembangan ekonomi buruh, mengupayakan tercapainya keselamatan dan kesehatan kerja bagi buruh. Melakukan konsolidasi keuangan organisasi. Membangun komunikasi dan informasi, serta melakukan pendidikan, pelatihan dan kaderisasi.

Pada Sabtu, 24 September 2016, DPP K Sarbumusi NU menggelar Rapat Kerja Nasional ke-I Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarbumusi NU. Tema diambil adalah “Reposisi Gerakan Sarbumusi NU dalam Politik Perburuhan Nasional dan Internasional”.

Rangkaian kegiatan Sarbumusi ditutup dengan pemotongan tumpeng dan pembacaan khotmil quran, pada Selasa (27/9/2016), bertepatan dengan 61 tahun usia Sarbumusi. Sebanyak 30 anggota Sarbumusi akan membaca satu juz hingga tercapai 30 juz.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]