Erick Ardiyanto, Sarjana Muda yang Tak Lelah Mencari Kerja

“Engkau sarjana muda resah mencari kerja,
mengandalkan ijasahmu…”

Mendengar lagi syair lagu Iwan Fals itu, tentu bagi anda yang pernah dapat julukan sarjana muda, yang kala itu pernah melewati masa sulit seperti yang digambarkan lagu tersebut, niscaya akan membuat anda merasa lebih bersyukur dengan posisi sekarang.

Tetapi lain bagi seorang Erick. Tentu ini bukan serpihan kisah Erick Thohir pengusaha muda yang tempo lalu tersiar sebagai pemilik klub sepakbola Intermilan, dan sempat menjadi gunjingan sejumlah media ‘dinosaurus’. Ini adalah sepotong cerita Erick yang bernasib cekak.

Erick dalam tulisan ini memang bukan sosok news maker yang digemari media-media ‘dinosaurus’ sebagai tambang berita. Pria berumur 27 tahun asal kota lumpia ini, adalah tipe orang muda yang memiliki binar optimis di matanya. Meski terkadang bisa mendadak melankolis – untuk tidak menyebutnya cengeng – kalau lagi mennikmati lagu bermuatan rindu atau patah hati.

Erick adalah perantau yang berbakat ramah kepada siapa saja. Tetapi tidak terhadap makhluk lain selain manusia. Sebab belum pernah saya melihat Erick melancarkan keahliannya di bidang marketing kepada pohon, apalagi kepada hewan peliharaan tetangga.

Iyalah, sebagai marketing produk kebutuhan industri, dia lebih banyak berinteraksi dengan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan bahan bakar minyak dalam skala yang tidak kecil.

Erick kini tengah mengalami persoalan klise yang juga pernah dialami rata-rata perantau di Jakarta. Meski bukan terbilang sarjana muda, dalam kondisi menganggurnya yang sekarang, Erick adalah gambaran kecil dari pekerja berkerah putih di Jakarta. Di kotanya Ahok ini, ia hidup bersama adiknya, yang sementara bekerja sebagai driver antar-jemput berbasis online.

Kemarin, persisnya Jumat malam, saya berkesempatan melakukan percakapan dengan Erick. Malam itu terlihat dia sedang bersedap-sedap dengan gajetnya. Lantaran tahu dari seorang teman lain yang membisiki saya, “Erick lagi galau nyari kerjaan tuh, coba deh elu bantu dia.”

Sesaat itu terhasut empati saya untuk membantu Erick lewat cara saya sendiri. Ya paling tidak memberinya secuil penghiburan.

“Gue denger-denger elu udah kaga gawe lagi, Rick?”
“Iya, Bang. Gue risen dari perusahaan penyalur minyak itu.”
“Kok bisa? Sayang Rick, zaman lagi krisis kayak gini.”
“Justru karena krisis itu, gue lebih memilih keluar.”

Di awal percakapan tersirat dia enggan terlalu jauh membahas pekerjaannya. Segera saya cabut sebatang rokok seraya mengulungkan bungkus rokok saya kepadanya. Dengan maksud untuk sekadar membuat bahasa tubuhnya lebih luwes. Dia pun membakar rokok, mengebulkan asapnya ke langit-langit hunian.

“Kalo dilihat dari bakat lu, elu cocoknya tetep kerja di minyak deh, Rick.”
“Haha, kagak cocok kerja di air dong, Bang?” timpalnya setengah berkelakar.
“Ya apa salahnya, sekali-kali nyoba di sektor minyak lain, minyak wangi atau minyak angin.”
“Yaelah, Bang. Kaga segitunya juga.”
“Nah, terus elu risen kenapa, bukan karena harga miyak dunia lagi turun kan?”
“Iya itu juga salah satunya. Selain ada persoalan politis di kantor gue.”
“Politis gimana?”
“Ada pihak direksi yang kagak seneng sama gue.”
“Mmmh…”

Sebagai marketing Erick lebih banyak bekerja di luar kantor. Termasuk melakukan kunjungan ke berbagai daerah pelanggan perusahaannya. Di lingkungan kantornya, Erick terbilang yang paling muda usianya. Tiga tahun sudah dia bekerja di perusahaan tersebut. Selama rentang tiga tahun itu, sebagaian gajinya digunakan untuk menuntaskan kuliahnya di Jakarta.

Dulu sebelum di Jakarta ia juga pernah kuliah di kota kelahirannya Semarang. Dia termasuk orang yang antusias menjalani jejang yang mendukung karirnya. Kurun 4 tahun di Jakarta, Erick sudah bekerja di dua tempat. Sebelum bekerja di kartel bahan bakar, ia bekerja sebagai sales mobil buatan Jepang.

“Gue udah kerasa sejak awal di tempat kerja gue ini banyak intrik yang berlaku. Dan gue nggak pernah melakukan intrik-intrik seperti pegawai senior di tempat gue. Ada teman yang menyayangkan kenapa gue nggak melakukan hal yang sama dengan mereka,” papar Erick dengan sorot mata yang menyembunyikan kekecewaan.

Batang rokok kedua tuntas di asbak. Erick semakin enteng menceritakan pengalamannya semasa bekerja. Dimana pada tahun 2012, dia pernah mengalami kekecewaan dicurangi teman seprofesinya.

“Lebih dari 5 perusahaan gue kirimi lamaran, tapi ya namanya belum rejeki,” pungkasnya tenang.

“Terus elu membiayai hidup lu yang lagi nganggur ini dari mana, Rick?
“Dari sisa tabungan yang ada.”
“Nggak berusaha mengisi dengan usaha lain, misalnya menjadi sales freelance atau sopir gitu?”
“Nggak ah, Bang. Biar jelek-jelek gini gue S1 loh, Bang,” timpalnya disertai tawa.
“Lha iya. Penghasilan di bawah 5 juta pasti bukan ekspektasi elu.”

Bukan hanya Erick yang mengalami kenyataan semacam itu. Ada sejumlah Erick lainnya di Jakarta mengalami kenyataan serupa. Hidup di Jakarta dengan modal ijasah dan pengalaman yang pas-pasan.

Tidak sedikit yang membiarkan skill lainnya karatan dimangsa kemalasan. Iya itu pun kalau punya skill lain. Boleh jadi lantaran Erick belum merasa kepepet juga. Salah satu hal yang membuatnya tidak terlalu pusing, lantaran dia belum berumahtangga. Dimana biaya hidup masih bisa disiasati dengan menekan pengeluaran sendiri.

Gelar sarjana komunikasi telah menjadi imperium baru bagi dirinya. Barangkali tak ada kebanggaan yang bisa dirayakan, jika dia sementara harus bekerja sebagai sopir atau di sektor informal lainnya. Jakarta telah menjadi sekolah hidup bagi jutaan perantau seperti Erick.

Menafkahi keyakinannya dari waktu ke waktu dengan segenap ketabahan dan pengharapan. Terbentur, terbentur, dan terbentur, lalu terbentuk menjadi pribadi yang tangguh. Bahkan tak jarang yang mengalami kebuntuan, sehingga gelap mata dan menjalani hidup di dalam penjara.

Erick belum menyerah, masih menyakini gelar sarjana yang dimiliki akan membawanya pada tampuk kesuksesan di kota metropolitan ini. Keresahannya mencari kerja, terus ia kapitalisasi menjadi optimisme dan mimpi menjadi seorang kelas menengah perkotaan yang mapan. Lembaran CV demi CV terus ia buat. Dan sembari ia mengucap basmallah, dikliknya tombol send pada emailnya.

“semoga gw diterima kerja,” rintihnya dalam hati.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Jibal Windiaz

Jibal Windiaz

Editor di Kabar Buruh, dan juga aktif di Komunitas Kretek. Tinggal di Ciputat dan memiliki hobby memainkan saxophone.