Sidang Kriminalisasi Buruh, Hadirkan Saksi Dari KSPSI dan LBH Jakarta

Jakarta — Sidang kasus penangkapan 26 aktivis buruh, mahasiswa dan dari LBH Jakarta kembali berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pada sidang hari ini (20/9/2016), sidang menghadirkan saksi dari pihak tergugat, yaitu dari Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) dan dari LBH Jakarta.

Dalam sidang itu, saksi menjelaskan secara detail tentang peristiwa pembubaran yang dilakukan aparat dalam aksi menolak PP Pengupahan, tanggal 30 Oktober 2015. Saksi mengatakan bahwa di atas pukul 19.00 WIB, para massa aksi buruh mulai bergerak mundur secara perlahan-lahan.

“Karena jumlah massa yang banyak, yang harus secara perlahan-lahan mundur, tak bisa secara serentak. Saya tak tahu persisnya pukul berapa, tapi di atas jam 7 malam dan kami telah bergerak mundur perlahan,” ujar saksi satu Roy Sinto, Ketua DPC SPSI Jawa Barat.

Saksi satu juga mengatakan bahwa setelah itu, ada banyak polisi yang merangsenk ke mobil komando dan melakukan pemukulan terhadap buruh. Ketika ditanyakan oleh pihak pengacara apakah dalam peristiwa itu buruh melakukan tindakan pembalasan, saksi satu mengatakan sama sekali tidak melakukan pembalasan.

Selain itu, saksi satu juga mencontohkan perbandingan bahwa bukan kali ini saja buruh melakukan aksi sampai malam, namun baru kali ini dibubarkan paksa. “Aksi upah di Jawa Barat kami sering sampai malam, apalagi dalam penentuan upah. Namun tidak dibubarkan secara paksa, bahkan dalam beberapa kesempatan kami malah kerap dikasih air minum,” tuturnya mencontohkan.

Saksi dua dari Brigade KSPSI menambahkan bahwa ia mendapatkan peringatan mundur dari Pangkorcab Bekasi. “Saya diperintahkan untuk menggiring massa aksi mundur perlahan. Lalu saat itu saya hendak memastikan anggota saya tak ada yang tertinggal. Tapi saya lihat salah satu anggota saya Yuni sudah ditangkap. Saya bilang itu kawan saya pak, tapi polisi hanya meminta saya diam dan mundur,” katanya.

Sementara itu, menurut Vero dari LBH Jakarta yang juga menjadi saksi dalam sidang itu. Ia mengaku melihat adanya pemukulan dari aparat dalam pembubaran. “Salah satunya adalah dari LBH Jakarta, si Obed. Kacamatanya dia sampai pecah saat peristiwa itu,” ujarnya.

Vero menceritakan saat mendampingi para aktivis yang ditangkap dan dibawa ke Polda Metro Jaya. Ia menilai para aktivis mengalami disorientasi, karena peristiwa tersebut. “Apalagi bagi Tigor dan Obed. Baru kali ini ada advokat yang ditangkap saat melakukan pendampingan,” ujar Vero.

Sampai berita ini diturunkan, sidang ke-23 yang digelar di PN Jakpus masih berlangsung. Tampak hadir pula dalam sidang tersebut puluhan buruh dari berbagai organisasi serikat buruh, yang menemani sidang dan memberikan solidaritas terhadap para terdakwa. (gum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]