Nila dan Mala, Dua Buruh Pembaca Deklarasi Kongres KPBI

Kongres I Konfederasi Perjuangan Buruh Indonesia (KPBI) yang telah selesai dilaksanakan di Bogor pada 2-4 September lalu, menyisakan cerita penting bagi dua buruh kontrak dan outsourcing, yang turut serta dalam kongres persatuan tersebut.

Nila nama panggilannya. Nama lengkapnya Kasnila Fitriya, perempuan yang bekerja di pabrik Garmen PT Amos Indah Indonesia. Ia mendapat kehormatan untuk membacakan naskah deklarasi dalam pembukaan Kongres I KPBI. Nila bercerita bahwa dirinya sempat grogi dan tidak percaya diri ketika panitia memintanya secara mendadak untuk tampil ke panggung. “Saya ini kan buruh pabrik, pendidikan hanya lulus SD. Tapi kenapa panitia memilih saya,” ungkapnya masih tidak percaya.

Nila, yang lahir di Padang pada 20 Mei 1977 sekarang tinggal di rumah kontrakannya di Kampung Sukapura Cilincing Jakarta Utara. Sebelum bekerja di perusahaan garmen yang sekarang, dia tercatat bekerja di beberapa perusahaan lain, antara lain PT Wilbes, PT Bintang Adi Busana dan PT Rismar.

Di semua perusahaan garmen tersebut ia mengalami PHK, lebih tepatnya PHK dengan alasan habis kontrak. Nila, saat ini aktif menjadi anggota dan pengurus di basis Federasi Buruh lintas Pabrik (FBLP), PT Amos Indah Indonesia. Kondisi kerja yang buruk, jam kerja panjang, upah yang rendah dan berbagai tekanan lainnya membuatnya makin mantap bergabung dengan serikat buruh.

“Saya, merasakan semangat yang luar biasa ketika pembukaan Kongres KPBI kemarin. Saya diberi kepercayaan untuk membacakan naskah deklarasi. Saya masih suka GR ketika beberapa teman memperlihatkan video rekaman acara itu,” kata Nila mengenang.

Buruh perempuan lain yang berdampingan dengan Nila ketika membaca naskah deklarasi berasal dari Muara Enim-Sumatera Selatan. Namanya Rusmalahati atau biasa dipanggil Mala. Mala, sama seperti Nila, sampai saat ini masih menjadi buruh outsourcing.

Pekerjaannya adalah satpam di pabrik kertas PT Tanjung Enim Lestari. Bekerja sebagai buruh outsourcing jelas membuatkan hidupnya berada dalam ketidakpastian. Setiap saat dihadapkan pada ketidakpastian, karena berganti-ganti vendor. “Baru saja penyesuaian, eh tahun depan sudah ganti perusahaan lagi,” kenang Mala dengan raut muka serius.

Mala, adalah salah satu penggerak serikat di perusahannya. Bersama suaminya, Roji yang juga menjadi satpam di perusahaan yang sama, sepasang suami istri ini berjuang keras mengatas segala masalah. Membagi waktu untuk bekerja, istrirahat, berserikat dan mengusrus anak-anak dilakukan secara bergantian dengan suaminya.

“Masalah di tempat kerja, memang keras, tapi kami harus menghadapi situasi yang lebih rumit sebab kami sama-sama aktif di serikat. Suami saya, menjabat sebagai sekretaris wilayah FSP2KI Sumatera Selatan,” ujar Mala menjelaskan.

Sebelum hadir di Kongres I KPBI, Mala bersama rombongan FSP2KI sudah lebih dulu hadir di Jakarta. Selama 2 hari, dia ikut serta dalam pertemuan dengan afiliasi internasional IndustriAll bersama dengan serikat kertas dari beberapa negara Asean seperti Philipina, Malaysia dan Thailand.

“Saya tidak bisa berbahasa Inggris, tapi saya percaya diri berbicara dihadapan delegasi lain. Saya mengatakan bahwa pekerja outsourcing di pabrik kertas masih sangat banyak, dan sekarang kami sudah berserikat,” cerita Mala mengenai pertemuan Internasional yang baru saja diikutinya.

Sama seperti Nila, Pengalaman berserikatnya juga penuh dengan dinamika. Beberapa tahun lalu, Mala ikut terlibat dalam pemogokan satpam di perusahaan. Pemogokan itu terjadi akibat hak-hak sebagai satpam diabaikan dan perusahaan berpendapat bahwa kami bukan pekerja utama.

“Kami membuktikan bahwa pemogokan selama sebulan menyebabkan operasional perusahaan terganggu. Para pekerja merasa tidak fokus bekerja, sebab mereka khawatir komplek perumahannya tidak aman ketika kami mogok kerja, banyak pencurian. Akhirnya, kami memenangkan pemogokan tersebut. Meskipun awalnya kami mendapatkan ancaman serius sebab perusahaan mengatakan berdasarkan surat edaran Kapolri, satpam dilarang berserikat,” ungkapnya.

Ilhamsyah, Ketua Umum KPBI yang terpilih dalam Kongres tersebut mengapresiasi tampilnya 2 buruh perempuan dalam deklarasi Kongres KPBI. “Ini warna dan tradisi baru. Kami memberikan kesempatan kepada 2 buruh perempuan, buruh kontrak dan outsourcing untuk tampil membacakan naskah deklarasi. Peristiwa ini, sebenarnya sebuah pesan serius kepada para pemimpin serikat, khususnya yang tergabung dalam KPBI, bahwa tugas merekalah untuk memperjuangkan buruh perempuan, buruh kontrak dan outsourcing yang hidupnya teraniaya oleh sistem,” jelas Ilhamsyah.

Kongres I KPBI sudah berlalu. Kenangan dan semangat persatuan yang terukir selama kongres, akan menjadi simpul pengikat bagi semua peserta dan akan menginspirasi dalam perjuangan di tempat kerjanya nanti.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Khamid Istakhori

Khamid Istakhori

Aktif di Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) Indonesia, yang berafiliasi di Konfederasi Perjuangan Buruh Indonesia (KPBI). Departemen Pengembangan Organisasi, DEN KPBI.