Save Buruh PT Unitama Sari Mas 


Unjuk rasa buruh PT. Unitama Sari Mas memasuki hari ke-10 (sepuluh). Dan selama itu pula, saya berada di sana, mendampingi para buruh. Sampai saat ini pengusaha tidak bergeming, untuk memenuhi beberapa tuntutan buruh yang bersifat Normatif. Tuntutan tentang pengangkatan sebagai buruh tetap, dari status yang tidak pernah jelas karena tidak pernah ada perjanjian kerja tertulis sejak para buruh bekerja.

Tuntutan tentang persoalan kecelakaan kerja, yang tidak mendapat perhatian dan pengobatan dari pihak pengusaha. Para buruh tidak didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, cuti karena gugur kandungan dianggap sebagai sakit biasa, yang cukup dengan istirahat kerja beberapa hari saja.

Tuntutan tentang jam kerja yang tidak pasti bagi para buruh, yang bekerja pada bagian delevery/pengiriman ke toko-toko besar seperti Carefour, Naga dan lainnya.

PHK sepihak terhadap 12 (dua belas) orang buruh, karena tidak bersedia dipaksa menandatangani Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. Lalu kemudian dibuang begitu saja, seperti anak kucing yang dibuang di pasar.

Lebih brengseknya lagi, sampai dengan saat ini tidak ada satupun pejabat birokrasi Dinas Tenaga Kerja, baik tingkat Propinsi DKI Jakarta atau Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Utara yang menampakkan batang hidungnya.

Bukan sekali atau dua kali, para buruh melaporkan kasus kepada pejabat berwenang, berkali-kali. Inilah wajah yang sesungguhnya dari birokrasi busuk, pada Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Utara.

Unjuk rasa yang diikuti oleh ratusan buruh dengan pengamanan ekstra ketat, layaknya unjuk rasa ribuan buruh. Apakah karena yang berunjuk rasa adalah buruh-buruh perempuan, anggota dari Konfederasi KASBI?

Pada 24 Agustus 2016 yang lalu, para buruh yang di PHK, berusaha untuk masuk bekerja kembali. Namun pihak perusahaan melalui HRD Manager PT. Unitama Sari Mas, memberikan syarat kepada para buruh untuk membuat surat pernyataan permintaan maaf. Namun demikian, pihak perusahaan juga tidak dapat memberikan jaminan para buruh bisa bekerja kembali. Alasannya karena harus diajukan ke direksi untuk mendapat persetujuan.

Pada hari selanjutnya, sebagian kawan-kawan yang mendapat surat panggilan ke-2, berusaha untuk masuk keperusahaan dengan membawa bukti surat panggilan tersebut. Namun lagi-lagi pihak perusahaan dalam hal ini HRD Manager, yang bernama Hendriko GT Prang, tidak memperkenakan mereka untuk masuk. Dan sekali lagi meminta para buruh untuk membuat surat pernyataan permintaan maaf kepada perusahaan terlebih dahulu.

Aneh bin ajaib, mereka datang untuk memenuhi panggilan resmi perusahaan, tetapi ketika hendak masuk, diberi syarat tambahan. Sementara itu, pihak perusahaan yang memberikan syarat tambahan, tidak berani membuat sepucuk suratpun atau setidaknya dalam bentuk pengumuman, tentang jaminan kerja bagi mereka.

Pada hari ini Kamis, 25 Agustus 2016, sebanyak lebih kurang 19 orang buruh PT. Unitama Sari Mas yang telah mendapat Surat Panggilan II pada jam 07.30 WIB, hadir ke perusahaan untuk memenuhi panggilan tersebut. Ketika hendak masuk dalam area perusahaan, para buruh dihadang oleh pihak keamanaan perusahaan.

Pihak keamanan perusahaan menyampaikan bahwa belum ada perintah dari atasan dalam hal ini yaitu HRD Manager PT. Unitama Sari Mas. Sehingga pihak keamanan perusahaan tidak berani memberi ijin para buruh untuk masuk bekerja, dan pihak keamanan perusahaan meminta para buruh menunggu HRD Manager datang ke perusahaan.

Lebih kurang sekitar jam 09.00 WIB, para buruh bertemu dengan HRD Manager PT. Unitama Sari Mas. Para buruh kemudian menyampaikan kehendaknya untuk masuk bekerja sesuai dengan Surat Panggilan II dari pihak perusahaan.

Dengan santainya pihak HRD perusahaan menjawab, bahwa para buruh tidak diperkenankan masuk bekerja dan meminta para buruh membuat surat pernyataan permohonan maaf kepada perusahaan yang menjadi lampiran dari Surat Panggilan II. Nantinya surat pernyataan itu akan disampaikan terlebih dahulu kepada pihak direksi perusahaan, apakah diterima atau tidak bekerja kembali.

Kemudian, para buruh yang berjumlah lebih kurang 19 orang tersebut membuat surat pernyataan yang dihendaki oleh HRD Manager.

Sementara para buruh yang belum pernah menerima surat panggilan pun menyiapkan surat pernyataan permohonan maaf, agar dapat bisa masuk bekerja kembali seperti biasa. Surat tersebut disiapkan oleh karena permintaan dari pihak HRD Manager PT. Unitama Sari Mas, sehari sebelumnya (24/08/2016), yang disampaikan kepada pengurus serikat buruh PT USM.

Selanjutnya, baik buruh yang berjumlah 19 orang dan para buruh lainnya menjadikan satu bundel surat pernyataan yang dibuat oleh masing-masing. Sekitar jam 10.00 WIB, beberapa orang pengurus serikat buruh PT Unitama Sari Mas, yang difasilitasi oleh anggota Intel Polisi Resort Jakarta Utara dan Polsek Penjaringan kembali menghadap Pihak HRD Manager.

Menghadap untuk menyerahkan seluruh surat panggilan ke-2 yang telah dilampiri satu bundel surat surat pernyataan dari para buruh yang belum mendapat Surat Panggilan I & II. Dan mempertegas keinginan para buruh untuk masuk bekerja. Namun lagi-lagi dengan ringannya HRD Manager menolak para buruh untuk bekerja kembali, karena dianggap bahwa surat pernyataan yang dibuat tidak secara tulus.

Lalu baik surat panggilan ke-2 dan surat pernyataan dikembalikan kepada pengurus SB USM, tanpa sepucuk surat penjelasan apapapun dan semua buruh tetap tidak bisa masuk untuk bekerja kembali.

Atas dasar hal tersebut diatas, maka semua buruh kembali melanjutkan unjuk rasanya. Tak ada pilihan lain.

Ada informasi yang didapat, bahwa pengusaha mendapat panggilan dari Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Utara pada hari Jumat kemarin (26/08/16), jam 10.00 WIB. Namun, sampai dengan sore hari, pihak perusahaan tidak memenuhi panggilan tersebut.

Sampai akhirnya, pihak perusahaan mengeluarkan jurus pamungkasnya. Yaitu, menerbitkan Surat Pemutusan Hubungan Kerja dengan dalil bahwa buruh dikualifikasikan mengundurkan diri, dengan berpedoman pada Pasal 168 ayat (1) UU Ketenagakerjaan.

Setelah berkali-kali pihak perusahaan menolak para buruh hendak masuk bekerja, menggunakan keamanan perusahaan untuk menghadang buruh masuk kedalam areal perusahaan. Diduga, semata agar surat panggilan ke-1 dan 2, berjalan mulus dan dijadikan dasar landasan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja sebagaimana dimaksud Pasal 168 UUK.

Mereka (PT. Unitama Sari Mas) tidak sadar, kalau para buruhnya sudah memiliki kesadaran. Bahwa pemutusan hubungan kerja yang dilayangkan, tidak membuat para buruh menjadi takut dan menjadi mundur. Para buruh sadar resiko seorang buruh yang berjuang, pasti akan di PHK.

PHK hari ini atau yang akan datang sama saja, sebab hal yang dihindari pengusaha adalah tidak menghendaki buruhnya berserikat, pintar dan tidak ingin memenuhi hak-hak normatif yang dianggapnya pasti akan mengurangi keuntungannya.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid