LBH Jakarta: Setahun Terakhir Sebanyak 10.034 Buruh Garmen di Jabodetabek di PHK

Jakarta — Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2015, menyebutkan sebanyak 15.225.099 tenaga kerja Indonesia bekerja pada sektor industri, dimana salah satu yang penyerapannya paling besar adalah industri garmen.

Namun dalam kurun waktu setahun terakhir, telah banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap buruh. Terutama terhada buruh garmen. Dalam rangka menyikapi hal tersebut, LBH Jakarta melakukan peluncuran dan diskusi buku Potret PHK Massal Buruh Garmen, yang bertempat di The Acacia Hotel, Jalarta (24/8/2016).

Dalam peluncuran buku yang merupakan hasil dari penelitian LBH Jakarta, ditemukan sebanyak 10.034 buruh germen yang berada di wilayah DKI Jakarta, Tangerang dan Kabupaten Tangerang yang di PHK.

Oky Wiratama Siagian, selaku penulis buku Potret PHK Massal Buruh Garmen, menjelaskan alasannya melakukan penelitian tersebut. “Berawal dari banyaknya kasus pengaduan terkait PHK massal yang datang ke LBH Jakarta. Dari total 244 kasus pengaduan, terdapat 26 kasus pengaduan PHK massal yang menimpa buruh garmen. Tak jarang kasus tersebut juga melaporkan perihal diskriminasi dan pelecehan seksual,” jelasnya.

Dalam penelitiannya, Oky menjelaskan bahwa mayoritas perusahaan garmen melakukan PHK dengan alasan pailit (70%), disusul dengan alasan yang tidak jelas (12%), tidak mampu membayar UMP (7%), pemutihan kontrak (7%), kontrak tidak diperpanjang (4%), lalu terakhir efisiensi dan mogok kerja.

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa perusahaan garmen asal Korea Selatan adalah yang paling sering melakukan PHK di Indonesia. Yakni sekitar 50%, disusul perusahaan asal Indonesia (32%), dan sisanya perusahaan asal Italia, Myanmar, Taiwan, yang menyumbang masing-masing sebesar 6%.

Peluncuran buku dan diskusi tersebut juga turut menghadirkan Indrasari Tjandraningsih, dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aka Tiga. Asi, sapaan akrabnya, mengapresiasi atas penelitian dan peluncuran buku yang digagas oleh LBH Jakarta.

Ia mengatakan industri garmen adalah industri yang sangat strategis dan penting untuk Indonesia. “Laporan Asosiasi Pengusaha Garmen Indonesia, pada Oktober 2015 menyebutkan terdapat 2,7 juta pekerja yang bekerja di industri garmen,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa indsutri garmen menyumbangkan sekitar 15,1% tenaga kera dari keseluruhan tenaga kerja yang bekerja di sektor manufaktur.

Terkait keberadaan Industri garmen di Provinsi DKI Jakarta dan Banten, Asi menjelaskan bahwa sudah terjadi pergeseran. “Kini Industri garmen yang berada di Jakarta dan Banten, sudah mulai menutup pabriknya. Para pengusaha garmen kini lebih suka membuka pabrik di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,” sambung Asi.

Menurutnya, industri garmen tidak akan mati namun tidak akan menjadi lebih baik karena tidak memiliki klasifikasi keterampila. “Kemampuan buruh garmen sangat sederhana, hanya menjahit dan memotong. Selain itu Balai Latihan Kerja (BLK) yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) terkait, juga tidak membantu. Keterampilan yang diajarkan di BLK kadang tidak sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan industri garmen. Akhirnya industri garmen melakukan pelatihan sendiri,” tegasnya.

Diakhir acara, Oky kembali menegaskan bahwa perlu adanya kerjasama antara Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Kementrian Tenaga Kerja, dan Kementrian Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dalam melindungi buruh pabrik garmen yang utamanya adalah perempuan.

“Subtansi hukum, kultur, dan para pelaku yang terlibat di industri perlu bersinergi untuk menciptakan hukum perburuhan yang lebih baik lagi,” pungkasnya. (yud)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]