KSPI Demo Kedubes Filipina, Desak Pembebasan ABK Indonesia yang Disandera Abu Sayyaf

Foto aksi massa buruh dari KSPI di kedubes Filipina. Sumber foto: tribunnews.com

Jakarta — Siang tadi, ratusan buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), melakukan aksi di Kedubes Filipina. Dalam aksinya, buruh menilai penyanderaan para buruh Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia oleh kelompok Abu Sayyaf dari Filipina sebanyak 4 kali dalam 4 bulan terakhir, menandakan bahwa pemerintah Indonesia dan Filipina telah gagal dalam melindungi perairan Indonesia dan Filipina.

Presiden KSPI Said Iqbal menilai Pemerintah Filipina dan Indonesia seperti tidak belajar dari kasus yang sebelumnya, sehingga mengulangi kesalahan dan kelalaian yang sama. “Seharusnya pemerintah cepat tanggap setelah terjadinya penyanderaan pertama terhadap 10 ABK dari Kapal pembawa batubara dari Kalimantan Selatan menuju Filipina yang disandera sejak 26 Maret 2016 dan baru dibebaskan pada 1 Mei 2016,” ujar Iqbal.

Aksi yang dilakukan oleh KSPI tersebut, adalah bentuk dari solidaritas terhadap para buruh ABK yang disandera oleh Abu Sayyaf. “Sepuluh ABK yang disandera adalah para buruh, bahkan 3 diantaranya adalah para TKI yang bekerja di perusahaan penangkap ikan dari kapal berbendera Malaysia,” sambungnya.

KSPI selanjutnya juga menilai bahwa sebagai buruh merasa khawatir jika tidak diambil tindakan tegas dan cepat, akan terjadi penyanderaan-penyanderaan berikutnya.Pihaknya juga menyayangkan Kementerian Ketenagakerjaan yang sama sekali tidak ada kepedulian terhadap nasib 10 ABK. “Padahal pemerintah berkewajiban melindungi para pekerja dan warga negaranya. Seharusnya, Menteri Tenaga Kerja Indonesia juga pro akrif bukan hanya Panglima TNI dan Kementrian Luar Negeri,” tegasnya.

Jika pemerintah Indonesia dan Filipina tak berdaya, KSPI akan mengambil strategi & lobi-lobi internasional melalui ILO dan jaringan serikat buruh Internasional. “Termasuk kami akan menggugat pemerintah RI yang gagal melindungi pekerjanya. Para ABK yang disandera ini, sebenarnya sama saja dengan pekerja yang bekerja di pabrik kemudian diculik,” tutur Iqbal.

Dalam aksinya tersebut, KSPI menyampaikan beberapa butir tuntutan yang diantaranya adalah meminta pemerintah Filipina berperan aktif dalam membebaskan 10 ABK yang masih di sandera. Mendesak pemerintah dan Militer Filipina terbuka dan bersedia bekerja sama dengan pemerintah dan Militer Indonesia.

Meminta Panglima TNI untuk menyerbu saja para penyandera, jika Militer Filipina tidak membuka ruang. Mendesak Pemerintah Indonesia, tidak terlalu lama melakukan diplomasi, serta mengeluarkan Travel Warning dan pastikan keamanan perairan dari dan menuju Fhilipina. (gum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]