Ketika Para Pendatang itu Pulang

Ilustrasi ratusan calon penumpang berebut menaiki KM Lambelu. FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf/ss/ama/08.

 

Mudik!
Sepanjang 2 hari ini, saya mengikuti perjalanan mudik kawan-kawan menuju ke berbagai
daerah. Yang paling heboh, adalah Bu Nor Hiqmah, butuh waktu 38 jam dari Depok menuju Pekalongan. Sepanjang 2 hari, saya terjebak di rumah. Mau ke Karawang atau Jakarta, sudah pasti macet. Maka saya nikmati berkeliling perumahan, yang situasinya mirip kota mati. Sepi, sunyi.

Situasi lain, di kontrakan Bu Yohana, dari banyak penghuni disana, hanya dia yang tidak mudik. Di pabrik-pabrik apalagi, situasi sudah tidak kondusif menjelang mudik. Sepanjang pertokoan di Cikampek tutup, sepi.

Lalu, di televisi, saya menyaksikan betapa sepak bola menjadi sihir tengah malam melalui gelaran EURO Prancis 2016. Jerman, didominasi pemain pendatang, imigran. Prancis, malah berhutang sangat besar dari imigran Aljazair yang menjadi tulang punggung ketika merengkuh Piala Eropa dan Piala Dunia.

Sahabat saya, Clas Edgard Mikael Lilja, dari Swedia malah dengan bangga menjadikan Zlatan Ibra sebagai idola. Katanya dengan bangga, “Dia, imigran dari Serbia…”

Lebaran besok, almamater saya STM Pembangunan Temanggung akan mengadakan reuni akbar 39 angkatan. Dari perbincangan di grup Whats App, saya menyaksikan mayoritas alumni justru berasal dari luar Temanggung. Solo, Jakarta, Semarang, Medan dan lain-lain.

Lalu kesimpulan apa yang saya dapatkan? Kita, hidup di ruang yang tidak hampa. Ruang dimana semua mendapatkan kesempatan yang sama sesuai konstitusi. Bahwa kita, adalah pemilik yang sah dari negeri ini. Maka konstitusi ini memberikan jaminan bagi siapapun untuk menempati ruangan manapun di negeri ini, mencari pekerjaan dan mendapatkan kehidupan yang layak dimanapun kita berada.

Bahkan, semangat itu kemudian menjadi global, maka dikenal semangat internasionalisme.

Melihat pemudik yang jutaan orang itu, melihat Karawang yang sepi, Jakarta yang kerepotan mencari pekerja pengganti meskipun untuk level asisten rumah tangga. Saya kemudian kembali kepada ingatan sejarah, bahwa ternyata tidak ada satupun negeri di dunia ini terlepas dari peran pendatang untuk kemajuan negerinya. Termasuk Amerika, tak lepas dari sejarah para pendatang.

Para pendatang, para imigran inilah yang kemudian menjadikan kehidupan lebih bergairah. Nah, ketika menyaksikan ini semua, saya justru bersedih. Sebab ditengah itu semua, saya menemukan kehidupan yang picik dengan menyatakan diri secara sembrono bahwa kota ini, hanya milik orang-orang yang lahir dan besar di kota ini.

Disini, istilah pribumi mengalami degradasi nilai. Dalam pemahaman saya, istilah pribumi digunakan oleh Pramudya Ananta Toer dalam novelnya untuk menggambarkan kontradisksi antara kondisi masyarakat terjajah ketika berhadapan dengan wajah bengis penindasnya. Tapi sekarang, istilah itu dicomot secara sembarangan untuk membelah masyarakat dalam dua kubu, warga lokal dan pendatang meskipun sebenarnya mereka masih berada dalam satu negara, Indonesia.

Episode berikutnya bisa ditebak, bahwa pribumi diposisikan sebagai masyarakat lokal yang tersisih oleh keberadaan para pendatang. Kemudian dengan wajah yang keras, mereka menghadapi pendatang yang justru seharusnya bekerja sama membangun sebuah kota. Dalam titik ini, kita harusnya menyadari bukan pendatang yang membuat mereka tersingkir tapi ada sebuah sistem yang bekerja dan tidak berpihak pada mereka.

Bagaimana dengan anda? Sebuah bangsa yang merasa diri lebih besar, lebih bermartabat, lebih terhormat dibanding bangsa lain. Sesungguhnya bangsa itu sedang pelan-pelan terjun ke dalam dasar jurang yang suram. Itu saja.

Selamat Idul Fitri 1437 H
Maafkan atas segala khilaf, semoga Allah menerima amal ibadah kita.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Khamid Istakhori

Khamid Istakhori

Aktif di Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) Indonesia, yang berafiliasi di Konfederasi Perjuangan Buruh Indonesia (KPBI). Departemen Pengembangan Organisasi, DEN KPBI.