Dilema Pekerja Konveksi

Ilustrasi pekerja di sebuah konveksi. Sumber foto: www.aktualpost.com

Dedi Setiadi, 30 tahun, ia sudah dua tahun bekerja di sebuah konveksi. Dedi merasa tidak betah karena hanya menerima upah Rp 1.500.000 per bulan. Tetapi tidak ada pilihan lain baginya. Untuk mendapatkan upah tersebut, Dedi harus bekerja selama 26 hari dalam sebulan. Lewat satu hari saja, sudah bisa dipastikan upahnya akan berkurang.

Bagaimana kisah Dedi selama bekerja di tempat itu? Apa saja suka dukanya? Kabarburuh berkesempatan berbincang dengan pria lajang ini. Berikut petikannya.

Coba ceritakan profil tentang anda?
Nama saya Dedi Sutiadi, umur 28 tahun, pekerjaan menjadi buruh konveksi di daerah Duri, Jakarta Barat. Letaknya tidak jauh dari stasiun kereta, ira-kira sekitar 500 meter jaraknya.

Sejak kapan anda bekerja di konveksi?
Saya bekerja dari awal tahun 2014 sekitar dua tahun yang lalu.

Sehari berapa jam anda bekerja?
Saya bekerja biasanya dari jam 8.00 pagi sampai jam 17.00, sekitar 9 jam saya luangkan waktu di konveksi.

Selama sebulan berapa hari anda masuk kerja?
Biasanya saya bekerja 26 hari dalam satu bulan, dan untuk libur sendiri hanya minggu serta tanggal merah.

Perusahaan itu memproduksi apa?
Baju anak-anak dari awalnya bahan mentah, kemudian saya olah dengan menggunakan mesin setelah selesai dan siap pakai. Biasanya baju di antar ke pasar Tanah Abang untuk dijual.

Bagaimana sistem kerja disana?
Biasanya setiap kali saya bekerja selalu menggunakan untuk menginjak mesin dan di tempat kami bekerja tidak ada pembagian shift. Jadi hanya satu shift.

Berapa upah yang diproleh setiap bulannya, berikut uang makan?
Saya biasa mendapatkan 1.500.000 rupiah setiap bulannya. Sedangkan untuk uang makan perhari 20.000.

Apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup anda?
Sebenarnya sih tidak cukup, akan tetapi saya berusaha untuk mencukup-cukupi agar bisa bertahan hidup di Ibu kota. Seharusnya bos memberikan upah yang layak kepada semua pekerjanya. Padahal menurut ia sebenarnya sudah mengantongi keuntungan, seperti dua mobil dari hasil keringat kita. Belum lagi setiap kali libur panjang, bos sering jalan-jalan ke luar Negeri.

Apakah perusahaan memberikan asuransi kesehatan untuk semua pekerjanya?
Semua yang bekerja di konveksi tidak mendapatkan jaminan kesehatan. Jika kami sakit, ya sakit saja, lalu berobat sendiri tanpa bantuan perusahaan. Paling perusahaan memberikan anjuran kepada pekerjanya agar istirahat atau pulang.

Kira-kira ada berapa jumlah pekerja yang berada di konpeksi?
Semua yang bekerja di konveksi ada 12 orang pekerja.

Apakah anda dan ke 12 orang itu sudah di angkat menjadi karyawan tetap?
Kita semua belum di angkat menjadi karyawan, pokonya saya dan teman-teman taunya bekerja dan bekerja.

Apakah ada permasalahan selama bekerja menjadi buruh konveksi?
Ada. Jika pekerja tidak masuk ataupun terlambat, perusahaan sering marah dan menegur pekerjannya yang melakukan kesalahan. Itu terjadi sekitar januari 2015. Masalah lain juga timbul ketika barang menumpuk. Semua pekerjaan yang menumpuk itu dikerjakan sesuai dengan target oleh semua pekerja.

Semua pekerja merasa kecewa karena tidak mendapatkan bonus dari perusahaan bahkan kita semua pernah melakukan protes untuk menuntut bonus bagi semua pekerja.

Apa sanksinya jika terlambat dan tindakan perusahaan terhadap pekerja yang melakukan protes?
Seperti tadi saya bilang, bos hanya marah-marah ketika mendengar pekerjanya yang terlambat dan melakukan protes. Bos juga tidak menggubris tuntutan semua pekerjanya.

Pemilik perusahaan sendiri sering jalan-jalan keluar negeri, bahkan mempunyai dua mobil. Akan tetapi terkait perlakuan perusahaan yang memberikan upah dibawah ketentuan, bahkan tidak memberikan asuransi keselamatan untuk pekerjanya.

Bagaimana respons para pekerja terhadap pemilik perusahaan?
Semua pekerja di konveksi merasa kecewa terhadap perusahaan. Karena perusahaan tidak perhatikan keselamatan dan kesehatan bagi pekerjanya seperti jaminan sosial. Bahkan kita semua berpikir untuk keluar.

Tetapi niat itu tidak jadi, karena jika seandainya keluar dari konveksi mungkin akan kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran. Semua pekerja menganggap hanya satu-satunya keahlian menjahit yang dimiliki. Hal ini yang menyebabkan kita bekerja kembali di perusahaan konveksi.

*

Problematika yang dihadapi oleh Dedi, mungkin juga dihadapi oleh banyak orang yang bekerja di perusahaan-perusahaan skala kecil-menengah. Pengawasan dari pemerintah tentang ketenagakerjaan harusnya dapat dilakukan dengan lebih masif, termasuk pula dengan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh perusahaan kepada tenaga kerjanya.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Moh Jumri

Moh Jumri

Reporter Kabar Buruh, saat ini juga aktif di Komunitas Kretek.