May Day, Konfederasi KASBI Angkat 10 Tuntutan Rakyat dan Mobilisasi 10 Ribu Buruh

Jakarta — Menanggapi seruan dari pemerintah agar dalam peringatan hari buruh sedunia dilakukan dengan melakukan kegiatan selain aksi, Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), menilai hal itu bisa dilakukan jika buruh sudah tak lagi tertindas.

Dalam pernyataan sikapnya, Konfederasi KASBI mengatakan bahwa pada satu hari nanti buruh akan merayakan May Day dengan pesta, karnaval dan bersenang-senang, ketika buruh tak lagi menjad budak dari industri. “Namun pada saat ini, kaum buruh masih mengalami satu penindasan dan dirampas kemerdekaannya untuk dapat hidup sejahtera dan merdeka,” ujar Nining Elitos, Ketua Umum Konfederasi KASBI.

Menurutnya, hari ini kaum buruh masih dihisap dan dijajah oleh sistem kapitalisme yang menghisap darah dan tenaga kaum buruh. “Buruh dihisap tenaganya dan dibayar murah, hanya agar tetap hidup supaya dapat terus menerus bekera dan dihisap tenaganya,” sambungnya.

Lebih jauh, Konfederasi KASBI melihat bahwa kapitalisme yang menjadi sistem ekonomi di Indonesia membuat buruh jauh dari kesejahteraan. Kesejahteraan buruh telah dibegal oleh para elit politik di DPR dan pemerintah. “Mereka bukannya mencoba mensejahterakan rakyat sesuai dengan amanat UUD 1945, namun mereka malah menjadi begal kesejahteraan,” tegasnya.

Semua dilakukan demi menghamba pada modal (investasi) bukan untuk kesejahteraan rakyat. Karenanya berdampak pada upah yang murah, diberlakukannya sistem kerja kontrak dan outsourcing, pencabutan subsidi serta menyerahkan ekonomi pada pasar bebas, dan juga kesehatan dan pendidikan yang juga semakin mahal.

Selain itu, Konfederasi KASBI juga menyoroti terbitnya Peraturan Pemerintah No.78/2015 tentang Pengupahan, yang mengakibatkan kenaikan upah tak lebih dari 11%. Selain itu atas konsolidasi dan perlawanan kaum buruh di berbagai daerah, ternyata juga di barengi dengan tindakan represifitas aparat Keamanan. “Gerakan buruh sebagai gerakan perjuangan perubahan sudah dipandang sebagai musuh Negara, sehingga buruh menjadi korban kriminalisasi,” ujar Nining.

Kriminalisasi ini yang dialami buruh, diantaranya dirasakan oleh pimpinan FSPBI-KASBI, Agus Budiono dan Abdul Hakam, di penjara 3 bulan, sejak 7 April 2016. Di Tangerang ada Ketua SBN PT SBM, Burhanudin yang terkena proses hukuman percobaan. Di Bekasi ketua FSBB/MAJ Raswadi dan Feri dalam tahap penyidikan Polsek. Dan di Jakarta ada 23 orang buruh, 2 orang Pengacara LBH Jakarta, dan 1 orang Mahasiswa masih dalam proses persidangan di PN Jakarta Pusat.

Dalam momentum ‘hari raya’ buruh esok
Konfederasi KASBI kembali turun ke jalan dengan mengangkat tema “Pemerintah Gagal Sejahterakan Rakyat”. Selain itu Konfederasi juga mengusung Program Perjuangan Sepuluh Tuntutan Rakyat Pekerja (SEPULTURA), yaitu:

1. Hapus Sistem Kerja Kontrak dan Outsourcing
2. Tolak Politik Upah Murah : Berlakukan Upah Layak Nasional, Cabut PP No.78 tentang Pengupahan
3. Tolak PHK, Union Busting dan Kriminalisasi aktivis Buruh : Bebaskan Agus dan Hakam
4. Laksanakan Hak-Hak Buruh Perempuan dan Lindungi Buruh Migran Indonesia
5. Tangkap, Adili dan Penjarakan Pengusaha Nakal
6. Berlakukan Jaminan Soaial Bukan Asuransi Sosial
7. Turunkan Harga BBM dan Kebutuhan Pokok
8. Pendidikan dan Kesehatan Gratis untuk Rakyat
9. Tolak Privatisasi: Bangun Industri Nasional untuk Kesejahteraan Rakyat
10. Tanah dan Air untuk Kesejahteraan Rakyat

Dalam aksinya besok, sedianya akan memulai aksinya pada pukul 10.00 WIB di Bundaran Hotel Indonesia, menuju Istana Negara. Tak kurang dari 10.000 buruh akan dimobilisasi dalam aksinya besok. (gum)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]