Kepada Para Pejabat, Tak Usah Ajari Kami Bagaimana Merayakan May Day

Lembaran hari-hari kami diisi oleh koar mulut-mulut yang berkicau tiada henti. Dengan gaya seolah menemukan ide yang paling brilian sepanjang peradaban, Pak Menteri dan barisan pejabat lainnya berkicau sahut menyahut dengan lengking senada.

“Hari buruh harus diisi dengan kegiatan yg berguna bagi orang lain, jangan demonstrasi. Bakti sosial, donor darah, kerja bakti, tanam pohon atau lomba futsal itu kegiatan yang berguna”.

Mereka dengan mulut berbuih dan dada membusung, seolah aktivitas itu adalah hal baru dan tak mugkin terpikir oleh kaum kaki berdebu yang bernama buruh.

Mungkin mereka lupa, mungkin mereka sedang rabun, atau mungkin mereka sudah sedemikian ketakutan untuk melihat bahwa kaum buruh sudah dan selalu melakukan “kegiatan-kegiatan berguna” itu, bahkan jauh sebelum para pembesar memikirkannya.

Jika saja mereka mau bangkit dari kursi empuk di kantor megah dan coba berkeliling, atau meminta tim media pencitraannya untuk menelusuri medsos, mereka akan mengumpat keras: Sial! Buruh-buruh itu sudah melakukannya!

Mereka akan menemukan bagaimana selembar kertas dibentuk kerucut ala penjual kacang rebus berkeliling dari tangan ke tangan kaum buruh, di line-line produksi ataupun di warung-warung depan pabrik.

Kertas kerucut itu nantinya akan berisi uang pecahan seribu, dua ribu atau lima ribu. Kertas kerucut itu bertuliskan soidaritas untuk tsunami aceh, solidaritas untuk gempa merapi, solidaritas untuk korban banjir atau solidaritas untuk kawan yang di PHK atau sedang mogok.

Mereka akan lebih keras mengumpat saat menemukan foto di media sosial, bagaimana kaum kaki berdebu dengan seragam serikatnya sedang membersihkan got atau sungai. Atau sedang menembus genangan air setinggi dada, untuk mengantar mie instan dan air mineral di kampung-kampung terendam yang luput dari pemberitaan media nasional.

Mereka akan lompat dari kursi empuk saat mendengar buruh-buruh pabrik A atau B yang seringkali berjumlah ribuan bekerja melakukan donor darah yang secara rutin diadakan oleh serikat-serikat buruh. Atau bagaimana kaum buruh memberikan dukungan moril dan materiil kepada kaum tani yg dirampas tanahnya.

Kaum buruh sudah melakukannya. Sering. Dan tak perlu pemberitaan heboh ala infotainment. Kami sudah dan terus belajar mengenai apa itu solidaritas sosial sejak kami bisa mengenali apa makna saudara, tetangga, kawan, dan sesama dimanapun berada.

Kami cuma bisa berpesan pada para pembesar yang terhormat, jalankan saja amanat penderitaan rakyat dengan baik agar musibah dan kemalangan rakyat bisa dihindari. Kami sudah kenyang dan muak dengan khotbah-khotbah kosong mengenai solidaritas sosial dan membela kaum susah, yang justru setiap hari kalian injak-injak dengan praktek kesewenangan dan korupsi.

Jadi, biarkan kami merayakan hari perlawanan kami dengan jalan yang sudah diajarkan sejarah pada kami. Jalan perjuangan, pengorbanan dan demonstrasi. Sementara itu, silahkan kalian pandangi kami dengan kecemasan berlebih dan lutut bergetar.

Redaksi

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]