Ristinah, Buruh Migran Pulang Dari Suriah dengan Kondisi Mata Kiri Buta

Jakarta – Setelah bekerja selama 4 tahun lebih, Ristinah, 35 tahun, pulang dengan kondisi tubuh cacat. Dengan kondisi tersebut, buruh migran asal Subang ini pulang tanpa diketahui oleh keluarga.

Ristinah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Suriah. Ia mengalami cacat karena kerap kali menerima siksaan dari majikannya. Ristinah mengaku bahwa penyiksaan dilakukan setelah kontrak kerjanya usai.

Tidak hanya penyiksaan yang dialami Ristinah, ibu dua anak ini juga jarang menerima gaji pada tahun pertamanya bekerja. Berdasarkan pengakuan Ristinah, ia diberikan gaji setelah 3 bulan pertama bekerja. Gaji selanjutnya diberikan enam bulan kemudian.

“Setelah tiga bulan dapat gaji dua juta setengah. Enam bulan dapat lagi gaji tiga juta setengah,” tuturnya kepada kabarburuh.com di Sekretariat Konfederasi Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Cipinang, Jakarta (22/1/2016).

Perlu diketahui, Ristinah berangkat ke Suriah sebagai buruh migran melalui PT Amal Ichwan Arindo. Berdasarkan kontrak kerja, Ristinah akan bekerja selama dua tahun. Tiga bulan menjelang berakhirnya kontrak hingga kontrak usai, pihak perusahaan maupun agensi penyalur tidak memberikan kabar apapun kepada majikan terkait kontrak tersebut.

Berbagai alasan diberikan majikannya untuk meyakinkan Ristinah bahwa ia belum bisa pulang ke Indonesia. Mulai dari alasan bahwa Ristinah terikat kontrak kerja selama tiga tahun hingga alasan ditutupnya bandara karena terkena ledakan bom.

Tidak kuat menghadapi siksaan, Kristina berusaha untuk kabur. Hal tersebut diketahui oleh majikan laki-laki. Kepada majikannya tersebut, Riatinah mengaku tidak betah di rumah dan ingin kembali ke Indonesia.

Mendengar pengakuan Kristina, majikannya tersebut menyarankan agar Ristinah tinggal di rumah orang tuanya. Saat berada di rumah orang tua majikannya, Ristinah diberikan pengobatan. Itupun sebatas rawat jalan, Ristinah tidak diperbolehkan sekalipun keluar rumah.

Usai menjalani perawatan di rumah orang tua majikannya, Ristinah pun dikembalikan ke agensi penyaluran. Setelah tiga hari di agensi, Ristinah diantarkan ke kedutaan besar Indonesia (KBRI) di Suriah. Di kedutaan, Ristinah diberikan perawatan dan pengobatan secara intensif selama empat bulan.

Setelah kondisinya mulai membaik, Ristinah dipulangkan oleh kedutaan. Selanjutnya, pihak kedutaan akan menyelesaikan proses gaji Ristinah yang belum diselesaikan oleh majikannya.
Kepulangan Ristinah membuat pihak keluarga terkejut karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya dan melihat kondisi Ristinah yang mengalami cacat.

“Keluarga tidak tahu bahwa ia mau pulang tuh. Tahu-tahu ada di rumah kondisinya parah, tidak bisa jalan. Setelah kejadian kan trauma keluarga, koq bisa gini. Berangkat utuh, ya kudu pulangnya utuh lagi, ujar salah seorang anggota keluarga Ristinah.

Miris mendengar penuturan Ristinah. Terlebih, melihat kondisi tubuhnya yang cacat. Matanya sebelah buta, sementara sebelahnya lagi masih menunggu proses operasi selanjutnya. Telinga kirinya rusak seperti disobek dan kakinya pincang. Semua itu disebabkan oleh siksaan majikan.

Perlindungan terhadap tenaga kerja di dalam negeri masih sangat lemah, apalagi perlindungan terhadap tenaga kerja di luar negeri. Melihat berbagai kasus yang terjadi terhadap tenaga kerja, sudah seharusnya pemerintah memberikan perlindungan, apalagi buruh migran adalah penyumbang devisa negara. (zek)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]