Koeli Ordonantie, Peraturan Penjajah Belanda Tentang Kerja Kontrak

Adalah pemerintah Hindia Belanda yang pada tahun 1880, melahirkan sebuah peraturan tentang kontrak kerja melalui Keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda No. 133 tentang Koeli Ordonantie. Dan dalam sejarah perburuhan Nusantara, Koeli Ordonantie merupakan peraturan pertama yang membahas tentang sistem kerja kontrak.

Ketetapan peraturan ini mulai dibuat dan diberlakukan pada masa pemerintahan kolonial Belanda melakukan pembukaan perkebunan tembakau di wilayah Sumatera Timur (Deli). Dan seperti diketahui, pada saat itu tembakau adalah salah satu komoditi yang cukup tinggi permintaanya dan perputaran dagangnya di kawasan Eropa.

Jacobus Nienhuys. Salah satu pegawai Firma J.F Van Leeuwen yang saat awal mula Belanda membuka perkebunan tembakau, merasa yakin tanah Deli sangat cocok ditanami oleh Tembakau. Dengan modal yang terbatas dia memulai pengelolaan dari perkebunan kecil tembakau miliknya sendiri.

Setelah keberhasilannya membuka lahan perkebunan tembakau dan diikuti dengan berbagai perkembangan perluasan lahan, kebutuhan akan tenaga kerja menjadi semakin tinggi. Para buruh (Koeli) dari Jawa dan orang-orang China dari Melayu didatangkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja.

Dikemudian hari berbagai masalah timbul dari para koeli-koeli yang kabur dari kerjanya di perkebunan karena tidak tahan dengan sistem kerja yang ada. Pekerjaan di kebun sangat berat, menuntut kekuatan fisik, sementara upah yang didapat sangat kecil. Belum lagi upah yang didapat masih dipotong oleh para penyalur mereka, membuat para koeli kabur sebelum kontrak kerjanya berakhir.

Pada umumnya para koeli tidak mengetahui apa isi dari kontrak kerja tersebut, mereka hanya tahu membubuhkan cap jari sebagai sebuah tanda persetujuan. Mereka tak tahu karena mayoritas masyarakat Indonesia pada saat itu buta huruf.

Masalah ini ternyata bukan masalah yang ringan, yang akhirnya menuntut Jacob Theodoor Cremer, Direktur Deli Maatschappij (salah satu perusahaan pertembakauan) yang mengusulkan dibuatnya sebuah peraturan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Bahkan lebih jauh, dalam usulan peraturannya juga disebutkan akan hak dari para pengusaha dan perusahaan untuk diberikan sebuah hak untuk bertindak sebagai aparat penegak hukum (Poenale Sanctie). Artinya para pengusaha diperkenankan untuk menangkap para kuli yang kabur dan menghukumnya tanpa harus melalui proses pengadilan.

Dan bersama dengan Deli Planters Verenging (Asosiasi Pengusaha Perkebunan), Jacob Theodoor Cremer mengirimkan surat kepada parlemen Belanda di Den Haag. Surat tersebut meminta kepada parlemen untuk membuat sebuah peraturan tentang sistem kerja kontrak dan hak yang dimintakan para pengusaha tersebut.

Koelie Odonnantie, diundangkan dalam Staatsblad (pengumuman) tahun 1880 oleh penguasa kolonial. Dalam peraturan tersebut berisikan setiap hubungan kerja harus di lakukan dengan kontrak kerja secara tertulis, yang tidak dapat diakhiri oleh pihak koeli. Artinya yang dapat menghentikan atau memperpanjang kontrak hanyalah pengusaha atau pemberi kerja.

Apabila koeli berusaha melarikan diri dari tempat kerja, membantah atau melawan mandor, mereka akan dikenakan hukuman (poenale sanctie). Penyiksaan, penyekapan, pemukulan, kurungan atau denda adalah hukuman yang didapat jika melanggar kontrak kerja. Bahkan tercatat, Jacobus Nienhuys, pernah melakukan hukuman cambuk terhadap 7 kulinya yang melanggar kontrak kerja, hingga merenggang nyawa.

Pada setiap bunyi kontrak tak jauh berbeda dengan yang ada sekarang. Tercantumkan nama koeli, nama perkebunan tempat bekerja, jenis pekerjaan, cara pembayaran upah, kewajiban dan hak dari buruh dan majikan.

Sebenarnya di dalam kontrak kerja mengharuskan tertera masa kerja koeli selama sepuluh jam kerja setiap harinya, dengan ikatan kontrak selama-lamanya 3 tahun, serta dilakukan dengan sukarela. Namun dalam prakteknya, hal tersebut banyak terjadi pelanggaran. (gum)

Daftar Referensi:
http://rifatulhidayat-noor.blogspot.co.id/2012/03/poenale-sanctie.html
http://tembakaudeli.blogspot.co.id/2013/03/1880-cremer-kuli-ordonansi-poenale.html
#

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]