Kaleidoskop Aksi Buruh Indonesia Tahun 2015 (Triwulan 2)

Sepanjang tahun 2015, begitu banyak persoalan yang menyangkut dengan ketenagakerjaan atau perburuhan yang dialami di Indonesia. Mulai dari isu “klasik” perburuhan seperti upah atau sistem kerja kontrak dan outsourching, sampai dengan mogok nasional buruh menolak Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 2015 tentang Pengupahan.

Tim Kabar Buruh mencoba merangkum berbagai catatan peristiwa penting aksi yang dilakukan oleh berbagai kelompok buruh sepanjang tahun 2015. Kami membagi catatan tersebut dalam setiap triwulan 2015, dan berikut adalah bagian pertama dari Kaleidoskop Aksi Buruh sepanjang bulan April sampai dengan Juni 2015;

April
Kamis (9/4/2015), 2000 buruh lakukan aksi pemanasan jelang perayaan May Day 2015. Dalam aksi ini para buruh meminta pemerintah untuk menjalankan amanat konstitusi UUD 1945. Buruh meminta pemerintah untuk menjalankan amanat konstitusi yaitu pasal 33 (ayat 1, 2 dan 3) serta pasal 27 ayat 2 tentang upah layak. Dengan menaikan upah 32% dan merubah KHL dari 60 Item menjadi 84 item KHL, agar daya beli buruh meningkat akibat dampak kenaikan harga barang dan kenaikan BBM.

Hal yang sama juga dilakukan oleh buruh yang tergabung dalam Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) yang menggelar aksi Pra Mayday dalam rangka memperingati hari buruh sedunia 1 Mei, Kamis (23/4/2015). Aksi diisi dengan konvoi kendaraan sambil membagi-bagikan selebaran di kawasan industri Kota Cimahi.

Sementara menurut Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (K-SPSI) Andi Ghani, pihaknya akan menurunkan 150 ribu buruh dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Jakarta, 1 Mei. Selain di Jakarta, May Day juga akan diperingati oleh 3,5 juta buruh anggota KSPSI di seluruh Indonesia. Aksi itu diklaim sebagai peringatan May Day terbesar di dunia. Hal itu disampaikan Andi Ghani dihadapan Presiden Jokowi saat menjelaskan rencana aksi May Day, ditengah kegiatan ground breaking rumah susun sederhana sewa untuk pekerja di Ungaran.

Mei
May DayAksi besar pada peringatan Hari Buruh Sedunia tentu saja menjadi topik utama buruh pada bulan Mei. Hari raya kaum buruh ini diiringi dengan aksi besar-besaran dihampir seluruh provinsi di Indonesia. Jutaan buruh di Indonesia tumpah ruah merayakan peringatan yang menandai kemenangan buruh dalam memperjuangkan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam rekreasi.

Di Jakarta sendiri berbagai organisasi serikat buruh melakukan aksinya, ratusan ribu buruh menjadikan Bundaran Hotel Indonesia sebagai titik kumpul dari pagi hingga siang hari. Yang kemudian dilanjutkan aksi menuju Istana Negara.

Dalam peringatan May Day yang digelar di Gelora Bung Karno, sempat terjadi insiden yang menghentikan pagelaran May Day. Sebastian Manufuti (45), melakukan aksi bunuh diri dengan cara membakar diri dan menjatuhkannya di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dugaan aksi tersebut dia lakukan lantaran kecewa dengan nasib buruh, khususnya buruh di tempatnya bekerja di PT Tirta Alam Segar.

Sebelum melakukan aksinya tersebut, Sebastian sempat menuliskan status di Facebook tentang kondisi buruh. “Selamat berjuang sahabat buruh! Semampuku kan berbuat apapun agar anda, kita dan mereka bisa terbuka matanya, telinganya dan hatinya untuk k
eadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Pada tanggal 8 Mei 2015, di berbagai kota di Indonesia, buruh melakukan aksi peringatan meninggalnya Marsinah . 8 Mei 1993, Marsinah ditemukan meninggal dunia setelah sebelumnya ia bersama rekan-rekannya melakukan aksi mogok kerja menuntut kenaikan upah. Berbagai acara diperingati seperti aksi Obor Marsinah, aksi renungan malam, sampai dengan ziarah ke makam Marsinah di Kabupaten Nganjuk.

Belasan buruh dari Jakarta, Bandung, dan Tangerang, menuliskan pengalaman dan kisah perlawanannya saat bekerja di perusahaan. Melalui penulisan buku berjudul ‘Buruh Menuliskan Perlawanannya’ yang ditulis oleh sekitar 15 buruh yang berasal dari industri manufaktur. Buku tersebut diterbitkan oleh Lembaga Informasi Perburuhan Sedane.

Juni
Memasuki hari raya Idul Fitri tahun 2015, buruh kembali menguatkan diri mempersiapkan berbagai cara untuk mengantisipasi berbagai modus dari perusahaan yang tak membayarkan Tunjangan Hari Raya kepada buruh. Walaupun Kementerian Ketenagakerjaan telah mengirimkan surat edaran pemberian THR paling lambat H-7, berbagai perusahaan kerap tidak memberikan THR. Salah satu modusnya adalah dengan memutus kontrak atau melakukan PHK sebelum H-7 hari raya.

Tindak kekerasan premanisme terhadap aksi buruh kembali terjadi. Peristiwa ini berlangsung pada tanggal 24 Juni 2015, dimana buruh PT. Voksel Elektronik yang sedang menuntut haknya di depan perusahaan, diserang oleh puluhan orang dari ormas Pemuda Pancasila.

Puluhan orang tersebut menyeranVokselg buruh dengan menggunakan senjata tajam, kayu dan batu. Akibatnya beberapa buruh perempuan terluka akibat serangan tersebut. Aparat kepolisian yang berada di lokasi tidak berbuat banyak untuk menghalangi penyerangan terhadap buruh-buruh tersebut. Bahkan aparat justru menyatakan bahwa aksi tersebut ilegal dan tidak ada izin.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]