UMP Sulsel 2,25 Juta Sesuai PP Pengupahan, Pengusaha Tetap Protes

Makassar — Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo telah menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2016 Sulsel sebesar Rp 2,25 juta. UMP 2016 Sulsel naik 11,5 persen dengan nilai Rp 230.000 dibandingkan UMP 2015 yang bernilai Rp 2.040.000.

Penetapan tersebut menjadikan Sulsel menempati peringkat keempat tertinggi secara nasional dibawah Sulut dan Papua. Mengingat sebulan belakangan, pertumbuhan ekonomi nasional dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing perlahan membaik. Meskipun masih belum dapat diprediksi, setidaknya hal ini dapat dijadikan acuan untuk menaikkan UMP.

Kenaikan ini diharapkan mampu mendorong produktivitas kerja. “Nilai tersebut ditetapkan berdasarkan peraturan pemerintah dan kesepakatan pengusaha dan buruh dalam beberapa kali pertemuan”, kata Simon Lopang, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulsel, seperti dikutip oleh Sinar Harapan.

Sekretaris DPD Asosasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulsel, Yusran IB Hernald mengatakan akan mengajukan keberatan dan meminta penangguhan pemberlakuan UMP baru itu. Alasannya, kenaikan UMP yang disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulsel itu seharusnya hanya naik sebesar Rp 100.000 dari UMP 2015.

“Selain itu, dalam dua kali pertemuan belum ada kesepakatan dengan buruh soal besaran UMP. Pertimbangan lainnya, keadaan ekonomi masih dinamis dan masih dalam masa penyembuhan. Jika langsung dibebani upah buruh sebesar itu, akan menyebabkan biaya operasional perusahaan semakin berat. Pilihan lainnya, pengusaha tidak akan membuka atau menerima tenaga kerja lagi untuk tahun 2016 guna mengurangi beban operasional’, lanjut Yusran lagi.

Keberatan ini juga disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Anggiat Sinaga. Menurutnya kenaikan UMP sebesar 11,5 persen itu tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya masih melambat, baik ekonomi nasional maupun global.

Dikhawatirkan kenaikan UMP yang begitu signifikan dapat mengganggu keseimbangan usaha. “Namun karena sudah menjadi keputusan, dengan berat hati kami harus menerimanya sembari berdoa semoga hari esok lebih baik,” tutur Anggiat. (zek)

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]