Sepotong Cerita Dari Pasar Kaget Kahatex

Penulis: Jibal Windiaz
Penulis: Jibal Windiaz

Nyaring alarm berulang membangunkan kami dari tidur yang nyenyak. Angin Subuh di Bandung sungguh teramat dingin menggigit badan. Tak ada istilah Monday deseas yang berlaku di sini.

Pabrik dan buruh serupa arloji di lengan petugas jaga, kembali mengulang tanda yang sama. Serombongan buruh Kahatex terlihat satu per satu turun dari angkot. Dingin Subuh kali itu bukan halangan bagi kami untuk beranjak memotret aktifitas pasar di depan pabrik Kahatex. Terhitung dekat jaraknya dari tempat kami bermalam. Sebuah pasar yang terbit seturut waktu masuk kerja buruh. Dari Subuh sampai jam tujuh.

Terlihat sudah dari sebrang jalan para pedagang bersibuk menggelar dagangan. Angkot-angkot berwarna hijau tampak berderet mengular. Motor-motor pengantar dagangan. Parkir acak di antara gerobak penjual kupat tahu. Nasi kuning. Gorengan. Meja-meja penjual camilan. Bongkar muat dagangan berlangsung cekatan. Pakaian anak, pakaian dalam, kaos-kaos serbaneka warna terpajang.

“Sabaraha eta kaos budak, Mang ?”
“Anu iyeu tilupuluh, Teteh.”
“Meuni awis.”
“Moal dimahalan ka Teteh mah.”
“Kenging dua limapuluh Mang ?”

Sesaat saya mengulum senyum. Percakapan yang tercuri dengar itu membuka kenangan lain dalam ingatan. Matahari pagi masih menyembunyikan wajahnya. Sementara seorang ibu yang tampaknya kesiangan datang begitu repot menurunkan dagangannya dari motor.

“Punteun A’a pang nyandakkeun kerdus eta.” Pintanya kepada saya. Sementara ia menyusun meja dan memindahkan tentengan yang dibawanya. Dengan ringan hati saya angkat kardus yang ditunjuknya. “Maturnuhun A’.” Balasnya ramah.

Fenomena pasar kaget bukanlah pemandangan baru di negeri ini. Budaya perniagaan yang masih menghadirkan corak lama. Adanya aktifitas tawar-menawar dimana penjual dan pembeli berinteraksi memaknai berkah sosial.

Tanpa pesona etalase serta gaya promo modern. Corak pasar yang sama dijumpai pada pasar-pasar tradisional yang masih ada. Di daerah Pantura pasar kaget biasa disebut juga sebagai pasar tumpah. Penyebutan itu mengacu pada tempat dan jam gelarnya yang terbatas.

Dari bahu pemisah jalan serombongan buruh pabrik tampak berwaspada untuk menyebrang. Tidak ada satu pun lampu penerang jalan yang membuat lalu litas terlihat jelas. Tidak ada zebra cross sebagai tanda bantu untuk para buruh maupun pengguna jalan lain.

Hanya lampu-lampu kendaraan menderas menyorot jauh. Pemandangan itu sesaat menjadi obrolan kami. Tidak ada satu pun petugas keamanan pabrik yang membantu buruh menyebrang. Sementara hiruk pikuk pasar semakin terasa keramaiannya. Di mulut pabrik sejumlah motor dan sepeda mengantri masuk. Mata petugas jaga bekerja penuh siaga.

Penghuni perut saya mulai terasa menagih sarapan. Dan sepertinya teman seperjalanan saya cukup peka menangkap gejala itu. “Kayaknya sarapan di situ enak tuh Bal.” Tunjuknya ke salah satu sudut penjual nasi rames. Tanpa ba-bi-bu saya mengangguk ajakan itu. Setelah lauk pauk diambilkan ibu penjual, ada satu hal yang bikin teman saya heran.

“Ini makannya gak make sendok ya bu?”
“Di sini mah rata-rata makannya dibawa ka pabrik. Ini pake plastik aja A’.”
“Diapain ini plastiknya ?”
“Ya buat nyarungin tangan atuh.”
“O…”

Selanjutnya kami bertiga menyantap sarapan. Meski sebetulnya agak riskan untuk duduk makan berlama di belakang meja penjual nasi itu. Sampah-sampah yang menggenangi selokan cukup mengganggu selera. Saya alihkan fokus pandangan hanya ke makanan di tangan. Sepanjang kami menikmati nasi bungkus tidak ada satu pun buruh yang ikut nongkrong makan seperti kami.

“Ini terhitungnya kita makan di wilayah Sumedang, Bal.’
“Kok bisa ?”
“UMK-nya kan UMK Sumedang di sini.”
“Hehe. Tapi harga nasinya harga Bandung ya.”

Jam menunjukkan pukul 06.17 WIB, langit mulai menampakkan terangnya. Lalu lintas jalan mengidap kemacetan. Rombongan demi rombongan buruh makin banyak berhamburan datang. Dan kami pun beranjak ke sebrang jalan. Sopir-sopir angkot terlihat berkumpul di sebuah warung kopi. Angkot-angkot yang berbaris mengular itu menanti harapan yang sama. Dari buruh-buruh yang pulang sehabis kerja malam.

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]