Sajak Lain Penganggur Untuk Pacarnya Yang Pekerja Pabrik

Sementara engkau terus merayu orang tuamu, sementara itu aku akan terus menggambarkan langit untuk calon anak kita. aku yang malam, engkau yang purnama.

Aku yang kelam, engkau yang laut cahaya.

Bila perutmu mulai sering mual, cobalah belajar membual.

Akan kuajarkan kepadamu cara mengelabui mandor-mandor picik yang sering memotong upah lemburmu.

Miskin bukan alasan untuk selalu dicurangi.

Sementara engkau terus berjuang di pabrik, sementara itu aku terus cari kerja.

Aku mulai dapat panggilan, jadi buruh lepas di sebuah toko bangunan.

Aku masih penganggur, sebab buruh lepas dibayar per hari, tidak punya upah tetap, tidak punya tunjangan kesehatan apalagi tunjangan masa depan.

Tapi engkau berhak percaya, aku sudah tak pernah mabuk, meski cuma anggur atau intisari, uangnya kini kupakai menabung.

Aku menyiapkan diri, sebab hidup bersama butuh nafas lebih panjang untuk disambung.

Bila nanti kamu tak lagi mampu kerja, ajukanlah cuti. akan kutulis untukmu sebuah puisi, selip di amplop surat cuti dan alamatkan kepada atasanmu.

Meski atasanmu pandai karena bersekolah tinggi.

Ia tidak akan mampu menulis puisi, sebab puisi tidak perlu sekolah tinggi, lebih perlu intuisi.

Sementara waktu menakar kita, aku coba mengukur kata.

Sebab kata-kata sering bisa menukar nasib.

Demi anak kita tak dianggap aib.

Diambil dari: https://sajaksepedamalam.wordpress.com/2013/10/16/sajak-lain-penganggur-untuk-pacarnya-yang-pekerja-pabrik/

 

Apakah anda menyukai artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Redaksi Buruh

Redaksi Buruh

Kabar Buruh adalah media yang mengangkat berbagai berita dan artikel tentang perburuhan. Menerima tulisan berupa opini, berita, dan foto dari semua serikat buruh ataupun individu. Tulisan dapat kirim melalui email: [email protected]